Berharap Desa Bebas dari Isolasi: Pengungsi Etnik Jawa, Gayo dan Aceh Eksodus di SMPN 32 Aceh Tengah
January 21, 2026 05:03 AM

Hasan Basri M. Nur, Dosen UIN Ar-Raniry, melaporkan dari Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, email: hasanbasrimnur@gmail.com

***

SERAMBINEWS.COM -  Meski bencana banjir Siklon Senyar 2025 sudah berlalu dua bulan, namun masih terdapat sejumlah desa yang hingga kini masih terisolir. Jembatan yang roboh adalah penyebab utamanya.

Pada Minggu (18/01/2026), saya bersama Jamaluddin Jamil dan Safwan Gade berangkat ke desa terisolir yang terdapat di Kecamatan Ketol Aceh Tengah untuk mengantar bantuan dari donatur PT Artha Graha.

Kami mengangkut bantuan yang terdiri dari pakaian baru, kain sarung, mukena, kelambu, susu balita, makanan dan beberapa jenis kebutuhan pokok lainnya.

Kali ini, bantuan ini difokuskan pada satu desa yang terletak di paling ujung, yaitu Desa Bintang Pepara agar maksimal manfaatnya.

Sebenarnya di kawasan ini terdapat empat desa yang terisolir, yaitu Desa Burlah, Bugeara, Kekuyang dan Bintang Pepara.

Baca juga: VIDEO - Menggantung di Tali, Relawan Aceh Antar Bantuan ke Desa Terisolir di Ketol Aceh Tengah

Tapi hanya warga Desa Bintang Pepara yang harus mengungsi (eksodus) total ke SMPN 32.

“Kita menetapkan Desa Bintang Pepara untuk diantar bantuan kali ini.

Sebab, seluruh rumah di desa ini telah hancur, semua warga mengungsi ke SMPN 32,” ujar Jamaluddin Jamil dalam sambutan penyerahan bantuan.

Kami disambut ramah oleh Kepala Desa atau Reje Misran SH dan 99 KK pengungsi di SMPN 32 Aceh Tengah.

Dosen UIN Ar-Raniry Hasan Basri M Nur (kanan) bersama Reja Misran SH
Dosen UIN Ar-Raniry Hasan Basri M Nur (kanan) bersama Reja Misran SH (Serambinews.com/HO)

Para pengungsi tampak gembira atas kehadiran kami.

“Para pengungsi tidur di ruang kelas SMP. Satu kelas muat hingga 9 KK,” ujar Reje Misran SH.

Pengungsi dari Desa Bintang Pepara terdiri dari tiga etnik yaitu Jawa, Gayo dan Aceh.

Percakapan dalam tiga bahasa yaitu Jawa, Gayo dan Aceh, adalah hal biasa di desa ini.

Mereka yang dengan latar belakang etnik berbeda sepakat untuk membangun desa agar menjadi makmur dan sejahtera; baldatun thayyibatun wa rabbul ghafur.

Baca juga: Masjid Al-Kubra Kuta Binjei Ramah “Pengungsi Nomaden” Lintas Agama, Bukti Aceh Toleran

Benar, desa ini tergolong makmur sebelum bencana banjir bandang datang. Desa ini dikenal sebagai penghasil cabai dan durian.

Setiap KK memiliki kebun yang memadai sebagai sumber ekonomi keluarga.

Saat kami datang sedang musim panen durian dan cabai.

Tapi sayang, para petani memerlukan biaya pengangkutan yang terlalu mahal karena satu-satunya jembatan di sana telah roboh.

Banjir bandang berjudul Siklon Senyar 2025 telah memupus harapan mereka.

Rumah-rumah di desa ini hancur lebur. Kampung terisolasi dan tak lagi layak huni.

“Kampung kami harus direlokasi ke perbatasan desa tetangga,” ujar Misran SH, Reje Desa Bintang Pepara dengan tegar.

Baca juga: Menggantung di Tali Atas Sungai, Relawan Aceh Antar Bantuan ke Desa Terisolir di Ketol Aceh Tengah

Warga Desa Bintang Pepara saat ini sedang menunggu dibangun hunian sementara (huntara) dan selanjutnya hunian tetap (huntap) di lokasi baru (relokasi).

Mereka juga berharap dibangun agar jembatan dan akses jalan ke desa dibangun seperti sedia kala.

Tidak hanya itu, mereka juga mendambakan program pemberdayaan ekonomi berbasis pertanian dan perkebunan sesuai potensi desa.

Jalan rusak, jembatan roboh

Kami pergi ke Desa Bintang Pepara dengan melalui jalan yang rusak parah, berlobang dan berlumpur.

Kebetulan saat kami datang sedang tidak hujan sehingga terbebas dari jebakan lumpur besar.

Akses jembatan menuju desa tersebut telah roboh dan belum dibangun jembatan pengganti yang setara.

Baca juga: VIDEO - Ngeri! Fenomena Sinkhole Muncul di Aceh Tengah Hampir Telan Badan Jalan

Warga desa, termasuk kami, terpaksa menggantung di tali kecil yang terhubung antara kedua sisi sungai agar dapat mencapai desa tujuan. Bantuan juga diangkut dengan cara yang sama.

Dag dig dug saat kami menggantung di tali itu, takut terjatuh atau tali terputus.

Tapi harus kami beranikan diri agar tiba di lokasi tujuan.

Sesampai di seberang sungai, kami harus naik ojek dan melalui jalan yang sangat rusak akhirnya tiba di lokasi dan bertemu dengan para pengungsi.

Desa ini masih gelap. Arus listrik dari PLN saat kami datang belum tersambung.

“Sudah dua lamanya kami mengungsi ke sekolah ini,” ujar seorang pengungsi sambil menyiapkan makan malam di dapur umum. []

Baca juga: Bak Bangsa Nomaden: Memantau Banjir Aceh 2025 dari “Hotel Capsul” Sleeper Putra Pelangi

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.