TRIBUNMANADO.CO.ID - Berikut ini merupakan daftar jalan di Sulawesi Utara (Sulut) yang dikeluhkan warga di bulan Januari 2026 ini.
Hal itu karena jalannya rusak dan dan membahayakan pengendara serta pengguna jalan.
Simak rangkuman Tribunmanado.co.id terkait jalan tersebut:
Ruas Jalan Sam Ratulangi 5, Kecamatan Wanea, Kota Manado, Sulut mengalami kerusakan yang cukup mengganggu arus lalu lintas.
Jarak kecamatan Wanea sekira 18 km dari Bandar Udara Internasional Sam Ratulangi.
Waktu tempu sekira 30 menit lewat Jl. Ring Road/Lkr. Kota Manado dan Jl. A.A. Maramis/Kairagi - Mapanget.
Di tengah badan jalan terlihat lubang cukup besar dengan permukaan aspal rusak dan terkelupas.
Akibatnya memaksa pengendara mengurangi kecepatan saat melintas.
Amatan dilokasi, Jumat (9/1/2026) malam, lubang tersebut hanya diberi pembatas berwarna merah sebagai tanda peringatan.
Sebuah ban mobil juga tergelak di sekitar lubang.
Di sekitarnya, aspal tampak hancur dan sebagian tertutup genangan air.
Hal itu membuat kondisi jalan semakin sulit dilalui, terutama pada malam hari.
Situasi ini menyebabkan lalu lintas sedikit padat.
Kendaraan roda empat harus sangat pelan dan bergantian mencari jalur aman agar bisa melewati titik kerusakan.
Bahkan, sejumlah mobil terlihat mengambil jalur dari arah berlawanan demi menghindari lubang dan tetap bisa melintas.
Kondisi tersebut membuat ruang gerak kendaraan semakin sempit dan arus lalu lintas kerap tersendat. Baca selengkapnya di sini
Kerusakan di Jalan Bethesda, Sario, Kota Manado, Sulawesi Utara, dekat persimpangan Kampus Universitas Sam Ratulangi, semakin melebar.
Hal ini dikeluhkan warga sekitar dan para pengendara.
Kerusakan jalan yang telah terjadi sejak tahun lalu kini semakin parah dan dinilai membahayakan pengguna jalan.
Apalagi, jalan tersebut kerap dilalui kendaraan berukuran besar.
Seorang warga sekitar, Yulin, mengatakan kerusakan jalan awalnya hanya berupa lubang kecil.
Namun seiring waktu, kerusakan tersebut semakin meluas, terutama saat musim hujan.
“Sudah rusak sejak akhir tahun lalu. Awalnya hanya kecil-kecil, lama-lama meluas, makin parah pas musim hujan,” ujar Yulin, Selasa (13/1/2026). Baca selengkapnya di sini
Titik kerusakan juga ditemukan di Jalan Boulevard II, Kecamatan Tuminting, Kota Manado, Sulawesi Utara.
Salah satunya sekitar 200 meter dari Pantai Karangria Manado.
Kerusakan di sana ada beberapa titik dan hanya ditambal menggunakan semen.
Hal ini dinilai membahayakan karena permukaannya menjadi tidak rata, terutama saat malam hari.
Seorang nelayan setempat, Hendra (71), mengatakan kerusakan jalan tersebut sudah berlangsung cukup lama.
Perbaikan yang dilakukan hanya bersifat sementara dan tidak menyelesaikan masalah.
“Sudah lama rusak. Itu kan sudah ditambal lagi dengan semen. Banyak begitu, kalau rusak hanya ditambal semen jadinya jalan tidak rata,” ujar Hendra, Rabu (14/1/2026).
JALAN RUSAK - Kondisi jalan rusak di Boulevard II, Manado, Sulawesi Utara, Rabu (14/1/2026). Jalan tersebut hanya ditambal semen.
Memang belum terjadi kecelakaan serius, namun kondisi tersebut dianggap berisiko bagi pengguna jalan.
“Untung sejauh ini tidak ada yang celaka, hanya kaget. Karena di sini kalau malam kan memang gelap sekali,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan pengendara bernama Edi.
Kerusakan jalan tidak hanya terjadi di Boulevard II, tetapi juga di sejumlah titik lain di Kota Manado.
“Banyak sekali jalan-jalan di Manado yang rusak lalu hanya ditambal semen begitu. Sebenarnya bahaya karena jadi tidak rata,” ujar Edi. Baca selengkapnya di sini
Kerusakan di Jalan RW Mongisidi, Malalayang, Kota Manado, Sulawesi Utara, kembali dikeluhkan warga.
Salah satu kerusakan terlihat di depan persimpangan Jalan Sea.
Aspal mulai berlubang hingga digenangi air, Kamis (15/1/2026) siang.
Padahal kondisi saat itu tidak sedang hujan.
Kerusakan ini sudah berlangsung lama dan berpotensi membahayakan pengguna jalan.
Kondisi jalan yang tidak rata menyebabkan genangan air dan mempercepat kerusakan di beberapa titik.
Salah satu warga, Irma, mengatakan kerusakan tersebut diperkirakan sudah terjadi sejak tahun lalu.
Menurutnya, permukaan jalan di lokasi itu terlihat menurun dan lebih rendah dibandingkan bagian jalan lainnya. Baca selengkapnya di sini
Jalan Pierre Tendean yang merupakan jalan utama di Kota Manado, Sulawesi Utara, mulai dikeluhkan warga sekitar dan pengendara.
Sejumlah lubang terlihat di beberapa titik yang sebelumnya mulus seperti di persimpangan menuju Zero Point dan dekat Gang Jalan Samratulangi 5.
Kerusakan ini dinilai berpotensi membahayakan pengguna jalan, mengingat Pierre Tendean merupakan salah satu jalan utama dengan lalu lintas yang padat.
Warga sekitar bernama Wawan mengatakan kerusakan jalan sudah mulai terlihat di beberapa sisi.
"Sepertinya sudah mulai harus diperbaiki. Memang agak rawan karena ini jalan utama dan lalu lintasnya sangat padat, banyak kendaraan besar yang melintas juga,” ujar Wawan, Senin (12/1/2026). Baca selengkapnya di sini
Jalan rusak di ruas jalan Trans Sulawesi Desa Binjeita, Kecamatan Bolangitang Timur, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Boltara), Sulawesi Utara (Sulut) belum juga diperbaiki hingga hari ini, Kamis (15/1/2026).
Padahal kondisi jalan tersebut sudah rusak parah dan sangat membahayakan penguna jalan.
"Jalan ini sudah rusak sejak awal Bulan Desember 2025 dan hingga kini belum juga mendapatkan perhatian dari pemerintah," ucap Fais Tunggil warga Desa Binjeita.
Fais berharap jalan rusak ini segera mendapat perhatian dari pemerintah karena jalan tersebut merupakan jalur penghubung antar provinsi.
Menanggapi hal itu, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sulut melalui Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 2.3 Satker PJN Wilayah II Sulut, Renly Sembiring, mengatakan saat ini pihaknya masih menunggu kontrak untuk memperbaiki ruas jalan tersebut.
Dikatakannya, BPJN Sulut tengah menyiapkan metode penanganan darurat seperti patching (penambalan) demi keselamatan dan kelancaran lalu lintas.
"Dipastikan akhir bulan Januari 2026 ini sudah mulai diperbaiki. Dan itu untuk beberapa titik kerusakan yang ada di Boltara," singkatnya. Baca selengkapnya di sini
Jalan rusak masih menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).
Salah satu jalan rusak yang harus mendapat perhatian dari pemerintah ada di Kecamatan Tenga, Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel).
Pasalnya, jalan di Kecamatan Tenga tersebut sudah rusak sangat parah.
Pantauan Tribunmanado.co.id tiap kali hujan turun jalan tersebut bak kolam ikan.
Menurut Meyer salah satu warga, kondisi jalan di Kecamatan Tenga sudah semakin parah.
Bahkan kendaraan roda dua sangat sulit melewati jalan tersebut.
"Kalau hujan banyak kubangan disini. Kerusakannya sangat parah dari tahun ke tahun," tegasnya.
Selain itu, pada malam hari kondisi jalan sangat gelap.
Hal ini berpotensi menimbulkan kecelakaan lalu lintas.
"Ini jalan yang sangat strategis karena dekat dengan pasar Tenga. Malam hari gelap dan berbahaya bagi pengendara," tuturnya.
Tak hanya itu saja, kecamatan Tenga memiliki aktifitas ekonomi cukup tinggi.
"Banyak kendaraan yang melewati jalan ini, harusnya ini jadi perhatian pemerintah," tegas dia.
Warga berharap Bupati Minsel Frangky Donny Wongkar secepatnya memperbaiki jalan tersebut.
"Harapan kami bisa segera diperbaiki, sebelum ada yang korban," tegas dia. Baca selengkapnya di sini
Sulawesi Utara disingkat Sulut adalah salah satu provinsi yang terletak di ujung utara Pulau Sulawesi, Indonesia, dengan ibu kota terletak di Kota Manado.
Sulawesi Utara atau Sulut berbatasan dengan Laut Maluku dan Samudra Pasifik di sebelah timur, Laut Maluku dan Teluk Tomini di sebelah selatan, Laut Sulawesi dan Provinsi Gorontalo di sebelah barat, dan Provinsi Davao Occidental di sebelah utara.
Penduduk Sulawesi Utara pada akhir tahun 2024 berjumlah 2.645.291 jiwa, dan luas wilayahnya adalah 13.892,47 km2.
Sulawesi Utara memiliki kepulauan dengan jumlah pulau sebanyak 287 pulau dengan 59 di antaranya berpenghuni.
Wilayah administratif Sulawesi Utara terbagi menjadi 4 kota dan 11 kabupaten dengan 1.664 desa/kelurahan.
Sulawesi Utara terbagi menjadi dua zona yaitu zona selatan yang berupa dataran rendah dan dataran tinggi serta zona utara yang meliputi kepulauan.
Zona ekonomi eksklusif Sulawesi Utara mencapai 190.000 km2 dengan pesisir pantai sepanjang 2.395,99 km dan luas hutan mencapai 701. 885 hektare. (Isv/Art/Pri)