Bacaan Injil Katolik Hari Ini Rabu 21 Januari 2026 dan Renungan Harian Katolik
January 21, 2026 07:47 AM

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Mari simak bacaan injil Katolik hari ini Rabu 21 Januari 2026.

Bacaan injil katolik hari ini lengkap renungan harian Katolik.

Rabu 21 Januari 2026 merupakan hari Rabu, hari ke-4 pekan doa sedunia, perayaan wajib Santa Agnes, Perawan dan Martir, Santo Fruktuosus, dkk: Augurius dan Eulogius, martir, dengan warna liturgi ,merah.

Adapun bacaan liturgi Katolik hari Rabu 21 Januari 2026 adalah sebagai berikut:

Baca juga: Renungan Harian Katolik Rabu 21 Januari 2026, Tragedi Iman Tanpa Cinta

Bacaan Pertama 1 Samuel 17:32-33.37.40-51

"Daud mengalahkan Goliat dengan umban dan batu."

Pada suatu hari Daud menghadap Saul dan berkata kepadanya, “Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena Goliat! Hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu.”

Tetapi Saul berkata kepada Daud, “Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu! Mustahil engkau dapat melawan Goliat! 

Sebab engkau masih muda, sedang Goliat sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit.” Tetapi Daud berkata kepada Saul,

“Tuhan telah melepaskan daku dari cakar singa dan dari cakar beruang. Dia pun akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu!” Kata Saul kepada Daud, “Pergilah! Tuhan menyertai engkau.” 

Maka Daud mengambil tongkatnya lalu pergi. Ia memilih dari dasar sungai lima batu yang licin dan menaruhnya dalam kantung gembala yang dibawanya, yakni wadah batu, sedang umban tali dipegangnya. 

Demikianlah Daud mendekati Goliat, orang Filistin itu. Goliat sendiri makin dekat menghampiri Daud, dan di depannya berjalan orang yang membawa perisainya.

Ketika Goliat melayangkan pandangannya dan melihat Daud, dihinanya Daud karena ia masih muda, kemerah-merahan dan elok parasnya. Goliat, orang Filistin itu, berkata kepada Daud, “Anjingkah aku, maka engkau mendatangi aku dengan tongkat?” 

Lalu demi para dewa, orang Filistin itu mengutuki Daud. Lalu dia menantang Daud, “Hadapilah aku, maka aku akan memberikan dagingmu kepada burung di udara dan kepada binatang-binatang di padang.”

Tetapi Daud berkata kepada Goliat, orang Filistin itu, “Engkau mendatangi aku dengan pedang, tombak serta lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama Tuhan semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu. 

Hari ini juga Tuhan akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku! Aku akan mengalahkan engkau dan memenggal putus kepalamu! Hari ini juga aku akan memberikan mayatmu dan mayat tentara orang Filistin kepada burung-burung di udara dan binatang-binatang liar, supaya seluruh bumi tahu, bahwa Israel mempunyai Allah, dan supaya segenap jemaah ini tahu bahwa Tuhan menyelamatkan bukan dengan pedang atau lembing. 

Sebab di tangan Tuhanlah pertempuran, dan Ia akan menyerahkan kamu ke dalam tangan kami.” Ketika orang Filistin itu bergerak maju menyongsong Daud, segera larilah Daud ke barisan musuh menghadapi Goliat.

Lalu Daud memasukkan tangannya ke dalam kantung batu, diambilnyalah sebuah batu, lalu diumbankannya. 

Maka kenalah dahi Goliat, dan terjerumuslah ia dengan mukanya ke tanah. Demikianlah Daud mengalahkan orang Filistin itu dengan umban dan batu; ia mengalahkan Goliat dan membunuhnya, tanpa pedang di tangan.

Daud berlari mendapatkan orang Filistin itu, lalu berdiri di sebelahnya; diambilnyalah pedang Goliat, dihunusnya dari sarungnya, lalu ia menghabisi Goliat. Dipancungnyalah kepala Goliat dengan pedangnya sendiri.

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Mazmur Tanggapan Mzm 144:1b.2.9-10

Ref. Terpujilah Tuhan, gunung batuku.

Terpujilah Tuhan, Gunung Batuku! Ia mengajar tanganku bertempur, Ia melatih jari-jariku berperang!

Ia menjadi tempat perlindungan dan kubu pertahananku, kota bentengku dan penyelamatku; Ia menjadi perisai, tempat aku berlindung; Dialah yang menundukkan bangsa-bangsa ke bawah kuasaku!

Ya Allah, aku hendak menyanyikan lagu baru bagi-Mu; dengan gambus sepuluh tali aku hendak bermazmur. Sebab Engkaulah yang memberikan kemenangan kepada raja-raja, dan yang membebaskan Daud, hamba-Mu!

Bait Pengantar Injil Alleluya

Ref. Alleluya

Bacaan Injil Markus 3:1-6

"Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?"

Pada suatu hari Sabat Yesus masuk ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya. Orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. 

Kata Yesus kepada orang yang mati sebelah tangannya itu, “Mari, berdirilah di tengah!” Kemudian Yesus berkata kepada mereka, “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat? 

Menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?” Tetapi mereka itu diam saja. Yesus jengkel karena kedegilan mereka! Dengan marah Ia memandang sekeliling,

lalu berkata kepada orang tadi, “Ulurkanlah tanganmu!” Ia pun mengulurkan tangannya, dan sembuhlah seketika. 

Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk membunuh Dia.

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus. 

Renungan Harian Katolik

"Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?"

Ketika Iman Menjadi Kaku

Dalam perjalanan hidup beriman, ada satu bahaya yang sering tidak kita sadari: iman yang perlahan menjadi kaku. Kita rajin berdoa, setia ke gereja, hafal banyak ajaran, tetapi hati bisa saja semakin sempit. Kita mudah menilai, cepat menghakimi, dan sulit berbelas kasih. Bacaan Injil hari ini dalam Markus 3:1–6 menampilkan kontras yang tajam antara hati Yesus yang penuh belas kasih dan hati para ahli Taurat yang tertutup oleh legalisme.

Renungan Katolik harian ini mengajak kita melihat kembali: apakah iman kita sungguh memulihkan, atau justru melukai? Apakah kehadiran kita membawa kehidupan, atau malah ketakutan?

Yesus dan Orang dengan Tangan Lumpuh

Injil hari ini menceritakan bagaimana Yesus masuk ke rumah ibadat. Di sana ada seorang yang mati sebelah tangannya. Orang-orang Farisi dan ahli Taurat mengamati Yesus dengan cermat. Bukan untuk belajar. Bukan untuk percaya. Mereka mengamati untuk mencari kesalahan. Mereka ingin melihat apakah Yesus akan menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan-Nya.

Yesus mengetahui isi hati mereka. Ia memanggil orang yang sakit itu ke tengah-tengah. Lalu Ia bertanya:

“Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?”

Pertanyaan ini sederhana, tetapi sangat mengguncang. Sabat diciptakan sebagai hari istirahat, hari kehidupan, hari perjumpaan dengan Allah. Namun di tangan manusia, Sabat berubah menjadi alat penghakiman.

Ketika mereka diam, Yesus memandang mereka dengan marah dan sedih karena ketegaran hati mereka. Lalu Ia berkata kepada orang itu: “Ulurkanlah tanganmu!” Tangan itu pun menjadi sembuh.

Ironisnya, setelah mukjizat itu, orang-orang Farisi justru bersekongkol untuk membunuh Yesus.

Kesalehan Tanpa Belas Kasih

Di sinilah kita melihat tragedi iman tanpa cinta. Orang-orang Farisi tidak bersukacita melihat orang disembuhkan. Mereka tidak tergerak oleh penderitaan. Mereka hanya peduli pada aturan.

Renungan Injil Markus hari ini menampar kita dengan lembut tetapi tegas: iman yang kehilangan belas kasih bukanlah iman yang hidup. Aturan memang penting. Tradisi Gereja berharga. Disiplin rohani dibutuhkan. Tetapi semuanya kehilangan makna ketika tidak mengalir dari kasih.

Dalam konteks hidup modern, kita bisa sangat “religius” di media sosial, rajin membagikan ayat Kitab Suci, cepat mengutip ajaran Gereja, tetapi tetap keras terhadap sesama. Kita bisa menjadi seperti mereka yang ada di rumah ibadat itu: dekat secara fisik dengan Tuhan, tetapi jauh secara batin.

Yesus: Tuhan yang Selalu Memulihkan

Sikap Yesus sungguh kontras. Ia melihat orang itu, bukan sebagai masalah teologis, tetapi sebagai pribadi yang menderita. Ia menempatkannya di tengah. Ia memulihkan martabatnya. Ia menyembuhkan, meskipun tahu itu akan membawa konsekuensi.

Inilah wajah Allah yang sejati: Allah yang berani melampaui batas demi menyelamatkan. Allah yang lebih mementingkan manusia daripada sistem. Allah yang lebih memilih menyembuhkan daripada mempertahankan citra diri.

Dalam renungan Katolik kaum muda, ini menjadi pesan penting: mengikuti Yesus bukan soal menjadi “paling benar”, tetapi menjadi semakin penuh kasih.

Ketegaran Hati: Penyakit Rohani Zaman Ini

Injil mencatat bahwa Yesus “berdukacita karena ketegaran hati mereka.” Ini bukan sekadar keras kepala. Ketegaran hati adalah keadaan ketika seseorang tidak lagi mampu digerakkan oleh kebaikan. Mukjizat tidak menyentuhnya. Penderitaan tidak menggetarkannya. Doa tidak mengubahnya.

Di zaman digital, ketegaran hati bisa muncul dalam bentuk komentar kejam, penghakiman cepat, budaya membatalkan (cancel culture), dan kepuasan melihat orang lain jatuh. Kita mudah lupa bahwa di balik setiap kesalahan ada manusia yang terluka.

Renungan iman Katolik hari ini mengajak kita bertanya: apakah hati kita masih mudah tersentuh? Atau sudah terlalu sering mengeras?

Hari Sabat dan Makna Istirahat Sejati

Yesus tidak menolak Sabat. Ia justru memulihkannya. Sabat bukan hari untuk takut berbuat salah, tetapi hari untuk membiarkan Allah memulihkan hidup. Sabat bukan tentang larangan, melainkan tentang relasi.

Dalam hidup kita, “hari Sabat” bisa berarti momen ketika kita berhenti menuntut, berhenti membandingkan, berhenti menghakimi — dan mulai mengasihi.

Yesus menunjukkan bahwa istirahat sejati bukan hanya berhenti bekerja, tetapi membiarkan kasih Allah bekerja dalam diri kita.

Tangan yang Lumpuh: Gambaran Jiwa Kita

Orang dengan tangan lumpuh itu adalah cermin kita. Kadang yang lumpuh bukan tubuh, tetapi hati. Kita ingin mengasihi, tetapi takut disalahpahami. Kita ingin memaafkan, tetapi gengsi. Kita ingin berubah, tetapi nyaman dalam kebiasaan lama.

Yesus berkata: “Ulurkanlah tanganmu.”

Ini perintah yang sederhana, tetapi membutuhkan iman. Orang itu bisa saja berkata, “Aku tidak bisa.” Namun ia taat, dan justru dalam ketaatan itulah kesembuhan terjadi.

Renungan Injil hari ini mengajak kita berani mengulurkan bagian hidup yang sakit kepada Tuhan: luka lama, kebencian, rasa iri, kecanduan, ketakutan. Di situlah kuasa Allah bekerja.

Ketika Kebaikan Mengundang Penolakan

Menarik bahwa setelah peristiwa penyembuhan, reaksi yang muncul bukan pertobatan, tetapi rencana pembunuhan. Kebaikan Yesus justru memperjelas kebencian mereka.

Ini mengingatkan kita bahwa hidup benar tidak selalu membuat kita diterima. Kadang justru ditolak. Tetapi Yesus tetap memilih kebaikan.

Bagi remaja dan milenial Katolik, ini pesan yang realistis: mengikuti Kristus tidak selalu populer. Kadang kita akan disalahpahami ketika memilih jujur, memilih mengampuni, memilih peduli pada yang tersisih. Tetapi di situlah Injil sungguh hidup.

Menjadi Gereja yang Menyembuhkan

Renungan Katolik 21 Januari 2026 ini juga menantang wajah Gereja. Apakah komunitas kita menjadi tempat orang disembuhkan, atau tempat orang takut dihakimi? Apakah Gereja kita menjadi rumah sakit bagi yang terluka, atau ruang sidang bagi yang jatuh?

Yesus menempatkan orang sakit di tengah. Artinya, yang lemah bukan gangguan, tetapi pusat perhatian.

Dalam proyek “The Katolik”, pesan ini sangat relevan: iman di era digital harus kembali pada wajah Kristus yang penuh belas kasih.

Penutup: Hati atau Aturan?

Yesus tidak menghapus hukum. Ia memenuhinya dengan kasih. Ia menunjukkan bahwa inti iman bukan terletak pada apa yang boleh atau tidak boleh semata, tetapi pada apakah hidup kita memuliakan Allah dengan menghidupkan sesama.

Hari ini, Yesus juga memandang kita. Ia bertanya tanpa suara:

“Mana yang kau pilih  memelihara aturan, atau memelihara manusia?”

Kiranya renungan Injil Markus ini menolong kita untuk semakin menyerupai hati Kristus: tegas dalam kebenaran, tetapi lembut dalam kasih.

Doa Penutup

Tuhan Yesus, Engkau melihat yang terluka dan memulihkan mereka.

Lunakkanlah hati kami yang sering mengeras.Bebaskan kami dari iman yang dingin dan menghakimi.

Ajarlah kami memilih kebaikan, bahkan ketika itu tidak populer.

Pulihkanlah tangan-tangan hati kami, agar kami mampu mengasihi seperti Engkau mengasihi.

Amin. (Sumber the katolik.com/kgg).

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.