BANGKAPOS.COM -- Black Box atau kotak hitam Pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Maros, Sulawesi Selatan, akhirnya ditemukan pada Selasa, (20/1/2026).
Berdasarkan hasil pemetaan tim di lapangan, black box ditemukan berada di koordinat 04°55’48” Lintang Selatan – 119°44’52” Bujur Timur.
Lokasi tersebut berada di bagian ekor pesawat, yang sebelumnya telah berhasil diidentifikasi oleh personel SAR gabungan.
Black box atau kotak hitam pesawat merupakan perangkat vital berisi Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR) yang merekam data teknis dan percakapan kokpit untuk investigasi kecelakaan,
Meski disebut kotak hitam, warnanya justru oranye terang agar mudah ditemukan, dirancang tahan banting dan suhu ekstrem.
Baca juga: Misteri Langkah Kaki Smartwatch Kopilot Pesawat ATR Farhan Gunawan, Basarnas Beri Penjelasan
Fungsinya kotak hitam merekam semua parameter penerbangan (kecepatan, ketinggian, bahan bakar) dan dialog pilot, menjadi "saksi bisu" untuk analisis penyebab kecelakaan demi meningkatkan keselamatan penerbangan di masa depan.
Meski telah ditemukan, proses evakuasi perangkat penting tersebut masih terkendala medan ekstrem yang sulit dijangkau.
Kasi Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan, mengungkapkan terkait penemuan hotak hitam pesawat ATR yang jatuh di Maros.
Ia mengatakan, posisi ekor pesawat telah berhasil diidentifikasi oleh tim di lapangan.
Dari titik tersebut, diketahui pula lokasi black box berada di bagian ekor pesawat.
“Lokasi ekor pesawat sudah kita ketahui di mana,” katanya saat ditemui di posko utama SAR Gabungan di Desa Tompo Bulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, Selasa malam.
Untuk mencapai titik tersebut, kata dia, Tim SAR Gabungan membutuhkan perlengkapan khusus berupa tali dengan panjang sekitar 100 meter dari Pos 8 guna melakukan teknik grappling menuju area pesawat.
“Kita harus memerlukan dari Pos 8 tali sekitar 100 meter untuk bisa grappling ke area pesawat,” ujarnya.
Lokasi ekor pesawat berada di sisi selatan gunung dengan kontur tebing curam, sehingga menyulitkan pergerakan personel SAR.
“Lokasi ekornya ada di bagian selatan,” ungkapnya.
Terkait keberadaan black box, Basarnas Makassar telah melakukan koordinasi dengan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk memastikan titik pasti perangkat perekam tersebut.
“Letak black box-nya sendiri kami sudah berkoordinasi dengan KNKT, letak dari black box itu dari bagian ekor,” jelasnya.
Hingga saat ini, Tim SAR Gabungan masih mempersiapkan strategi dan peralatan tambahan agar proses penjangkauan lokasi ekor pesawat dan black box dapat dilakukan dengan aman.
Sementara itu, Danrem 141/Toddopuli, Brigjen TNI Andre Clift Rumbayan, mengatakan meski black box belum ditemukan, tim khusus telah disiapkan untuk melakukan pencarian di bagian ekor pesawat.
“Ada tim yang khusus untuk ke ekor,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, lokasi bagian ekor pesawat berada di area lereng yang curam sehingga membutuhkan teknik khusus dalam proses pencarian.
“Dan itu posisinya juga harus menggunakan teknik repling. Ini di lereng juga,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa pencarian akan tetap dilanjutkan dengan mengutamakan keselamatan personel mengingat medan terjal dan cuaca yang masih berpotensi menjadi kendala di lapangan.
Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas), Marsekal Madya TNI M Syafi'i, memastikan bahwa tidak ada korban selamat dari kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Maros, Sulawesi Selatan.
Hal ini diungkapkan Syafi'i saat menjawab pertanyaan wartawan mengenai ada atau tidaknya korban selamat dari kecelakaan pesawat di Sulawesi Selatan itu.
"Tidak ada. Saya sampaikan kita masih tetap mengharapkan ada mukjizat, ada korban yang bisa kita selamatkan dalam kondisi hidup," ujar Syafi'i di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (20/1/2026).
Syafi'i menceritakan, dulu, pernah ada pesawat yang juga mengalami kecelakaan seperti yang dialami ATR 42-500, tapi ternyata ada penumpang yang masih hidup.
Dia menyebut si penumpang itu selamat setelah sebelumnya tidak sadarkan diri atau sering disebut sebagai mati suri.
"Karena pernah itu kejadian ada pesawat crash, kemudian kondisinya sama, terburai pesawatnya, tapi ternyata ada penumpang yang terlempar, kemudian mati suri, beberapa hari ditemukan dalam kondisi hidup," jelasnya.
"Jadi kita akan berupaya untuk melaksanakan pencarian korban, sambil kita mengumpulkan puing-puing untuk nanti diserahkan kepada KNKT," imbuh Syafi'i.
Berikut daftar kru dan penumpang Pesawat ATR 42-500 IAT.
Kru:
Penumpang:
Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi membeberkan kronologi lengkap mengenai pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport yang jatuh di Maros, Sulawesi Selatan.
Dudy menjelaskan, pada Sabtu (17/1/2026) pukul 08.08 WIB, pesawat ATR 42-500 disewa Kementerian Kelautan dan Perikanan (KP) untuk keperluan surveilans di wilayah perairan Indonesia.
"Pesawat ATR 42-500 melaksanakan penerbangan dari Jogjakarta menuju Makassar, dengan jumlah manifest 10 orang, terdiri dari 7 awak pesawat dan 3 penumpang dari Kementerian KP," ujar Dudy dalam rapat dengan Komisi V DPR, Selasa (20/1/2026).
Dudy mengatakan, pada pukul 12.23 Wita, Air Traffic Control (ATC) Makassar Area Terminal Services Center (MATSC) mengarahkan pesawat untuk melakukan pendekatan landasan pacu runway 21 Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.
Namun, pada waktu yang sama, ATC mengidentifikasi bahwa pesawat ternyata tidak berada pada jalur pendekatan yang seharusnya.
"Dan memberikan arahan koreksi posisi kepada awak pesawat serta sampaikan instruksi lanjutan agar pesawat kembali ke jalur pendaratan sesuai prosedur," ujar Dudy.
Lalu, komunikasi antara ATC dan pesawat terputus atau lost contact. ATC pun segera mendeklarasikan fase darurat sesuai prosedur ketika pesawat ATR 42-500 dinyatakan lost contact.
"Selanjutnya Airnav Indonesia dan MATSC berkoordinasi dengan Basarnas, TNI-Polri, pemerintah daerah provinsi, dan pemerintah daerah kabupaten, instansi terkait, membentuk crisis center yang disiapkan di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar," kata Dudy.
Keesokan harinya, pada Minggu (18/1/2026), operasi pencarian terpadu mulai dilakukan pada pukul 06.15 Wita.
Operasi dimulai dengan mengerahkan drone milik TNI AU di wilayah Gunung Bulusaraung, atau di perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep.
"Pukul 07.46 Wita, tim SAR gabungan mengidentifikasi secara visual serpihan pesawat berupa jendela sebagai penanda awal lokasi kecelakaan," ucap Dudy.
Setelah itu, pada pukul 07.49 Wita, ditemukan serpihan besar yang diduga merupakan bagian badan pesawat beserta ekor ATR 42-500.
Lalu, pada pukul 10.05 Wita, konferensi pers pesawat jatuh dilakukan di bawah koordinasi Basarnas, bersama TNI, Polri, KNKT, Kemenhub, dan Airnav.
"Pukul 11.59 Wita, pos komando crisis center Basarnas menerima laporan penemuan satu jenazah berjenis kelamin laki-laki dan segera dilakukan proses evakuasi," kata Dudy.
"Kemarin itu ditemukan lagi satu jenazah korban dari pesawat berjenis kelamin perempuan," imbuh dia.
Tim SAR gabungan mengevakuasi dua korban pesawat ATR 42-500 dari lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.
Satu korban berhasil dibawa ke rumah sakit, sementara satu korban lainnya dievakuasi menuju ke jalan utama, Selasa (20/1/2026) malam.
Dalam upaya evakuasi itu, tim penyelamat dari berbagai instansi dan komunitas menghadapi medan terjal dan cuaca ekstrem selama puluhan jam. Meski demikian, delapan korban lainnya belum ditemukan.
Dari pantauan di posko utama Desa Tompobulu, Pangkep, sekitar pukul 20.17 Wita, ratusan anggota tim SAR gabungan membawa jenazah korban yang dibungkus plastik khusus. T
im melewati jalur yang terjal, becek, dan diguyur hujan. Korban yang diketahui berjenis kelamin perempuan ini lalu dibawa ke posko DVI (Disaster Victim Identification) yang telah disiapkan.
Setelah itu, jenazah dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara di Makassar untuk pemeriksaan dan identifikasi lanjutan.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar selaku SAR Mission Coordinator (SMC) Muhammad Arif Anwar mengatakan, tim SAR gabungan berhasil membawa satu korban menuju Desa Lampeso, Maros, pada Selasa sore. Sementara itu, satu korban lainnya dibawa ke posko utama di Desa Tompobulu, Selasa malam.
”Untuk korban di Tompobulu, evakuasi korban membutuhkan teknik vertical rescue dan koordinasi lintas unsur yang sangat ketat. Tim bekerja dari lembah menuju puncak dengan peralatan khusus,” katanya.
Sementara itu, hingga Selasa malam, korban yang pertama kali ditemukan masih dalam proses evakuasi lanjutan. Dari Desa Lampeso, tim membawa korban berjenis kelamin laki-laki ini menuju ke kampung baru melalui jalan setapak sekitar 15 kilometer dengan melewati medan yang bervariasi.
Setelah itu, dilanjutkan lagi dengan berjalan kaki lebih kurang 5 kilometer untuk mencapai jalan poros Kecamatan Cenrana dan kemudian akan dievakuasi ke RS Bhayangkara.
Arif mengatakan, operasi SAR ini melibatkan kekuatan besar, dengan total 1.075 personel dari berbagai unsur, termasuk Basarnas, TNI, Polri, pemerintah daerah, sukarelawan, komunitas pencinta alam, hingga unsur medis.
Dukungan alutsista darat dan udara, seperti helikopter, pesawat intai, dan drone thermal, turut dikerahkan untuk mempercepat pencarian.
”Kami mengapresiasi dedikasi seluruh unsur yang terlibat. Operasi ini adalah wujud nyata sinergi dan kemanusiaan. Fokus kami tetap pada pencarian seluruh korban dengan mengutamakan keselamatan tim di lapangan,” ujarnya.
Komandan Korem 141/Toddopuli Brigadir Jenderal Andre Clift Rumbayan menuturkan, proses evakuasi yang dilakukan menghadapi tantangan yang luar biasa, mulai dari medan terjal, badai, dan hujan ekstrem. Terlebih lagi, kedua korban yang dievakuasi memiliki tantangan yang berbeda.
”Korban yang berhasil dievakuasi di Tompobulu ini adalah korban kedua yang ditemukan. Mengapa korban pertama masih dalam proses evakuasi itu berbeda karena memang tantangan jalurnya berbeda,” katanya.
Pesawat ATR 42-500 yang naas ini hilang kontak pada Sabtu (17/1/2026). Pesawat terdaftar dengan registrasi PK-THT yang dioperasikan oleh Indonesia Air Transport (IAT), pemegang AOC 034. Pesawat buatan tahun 2000 dengan nomor seri 611 tersebut terbang dari Bandara Adisutjipto, Yogyakarta, menuju Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar. Pesawat dipiloti Kapten Andy Dahananto.
Kepala Seksi Operasi KKP Makassar Andi Sultan menyampaikan, sekitar 200 personel tetap berada di puncak Bulusaraung. Mereka menginap dan akan melanjutkan pencarian pada esok hari.
Menurut Sultan, fokus utama para personel adalah pencarian dan penyelamatan delapan korban lainnya. Selain itu, tim ditugaskan untuk mencari kotak hitam yang juga belum ditemukan.
”Pencarian hari ini belum berhasil menemukan adanya korban lain. Hanya ada serpihan dan beberapa benda lainnya. Tim akan terus berupaya mencari ke depannya,” tuturnya.
Asisten Resimen Kodam XIV/Hasanuddin Kolonel Abi Kusnianto sebelumnya mengatakan, rencana evakuasi dua korban dilakukan secara terpisah.
Satu korban berupaya diangkut menuruni lereng, dan satu korban lainnya diupayakan ditarik ke puncak serta dibawa ke posko utama. Sebanyak lima tim ditugaskan untuk mencari korban lainnya.
Tantangan terbesar selama ini, menurut Abi, medan yang sangat terjal dan cuaca buruk. Badai menerjang anggota tim SAR gabungan sehingga mereka kesulitan dalam pencarian dan evakuasi.
”Namun, dengan langkah yang kami susun dan kekompakan anggota tim, kita berupaya memaksimalkan apa yang ada, tenaga yang terampil dan berharap hasil yang terbaik. Kita semua ada di sini karena satu misi kemanusiaan yang sama,” ujarnya.
Anggota tim SAR gabungan yang berjumlah lebih dari 1.000 orang ini diatur sedemikian rupa untuk melakukan estafet pencarian sehingga sumber daya cukup dan maksimal.
(Bangkapos.com/Tribun-Timur.com/Kompas.com/TribunnewsMaker.com)