TRIBUNTRENDS.COM - Sosis Solo menjadi salah satu kuliner khas yang tak bisa dilepaskan dari identitas Kota Bengawan, Solo, Jawa Tengah.
Sekilas tampilannya memang menyerupai lumpia atau risoles karena dibungkus dengan kulit dadar tipis. Namun di balik kemiripan tersebut, Sosis Solo memiliki karakter, cita rasa, dan sejarah yang membedakannya dari jajanan lain yang tampak serupa.
Kuliner ini telah dikenal sejak era Keraton Surakarta dan pada masa lalu kerap dihidangkan dalam berbagai hajatan, upacara adat, hingga jamuan resmi.
Keberadaannya bukan sekadar makanan pendamping, melainkan bagian dari tradisi kuliner yang merepresentasikan kehalusan rasa dan budaya masyarakat Solo.
Berbeda dengan sosis pada umumnya yang terbuat dari daging olahan dan dibungkus usus atau lemak, Sosis Solo justru hadir dalam balutan dadar tipis.
Baca juga: Rekomendasi dan Jejak Sejarah Nasi Kuning, Makanan Favorit Warga Solo Buat Sarapan, Ini Filosofinya
Isinya berupa daging ayam cincang yang dibumbui rempah-rempah khas, kemudian dibungkus rapi dan digoreng hingga harum serta berwarna keemasan.
Perpaduan ini menghasilkan rasa gurih yang lembut dengan tekstur ringan, sehingga cocok disantap sebagai camilan maupun lauk pendamping.
Selain serabi, Sosis Solo menjadi salah satu kuliner ikonik yang banyak diburu wisatawan saat berkunjung ke Solo. Meski tampilannya mirip risol, penyebutan kata “sosis” pada makanan ini memiliki latar belakang tersendiri yang tidak lepas dari sejarah dan proses pembuatannya.
Sosis Solo bukan sekadar jajanan tradisional, melainkan hasil pertemuan dua budaya kuliner yang berbeda. Peneliti Pusat Studi Pangan dan Gizi Universitas Gadjah Mada, Murdijati Gardjito, menyebut kuliner ini sebagai buah dari akulturasi antara teknik memasak Eropa dan tradisi dapur masyarakat Solo. “Sosis ini hasil akulturasi, bentuknya sudah tidak sama dengan sosis lain,” jelas Murdijati pada 2020 lalu.
Dalam perjalanannya, konsep sosis ala Barat diadaptasi oleh masyarakat Solo dengan bahan-bahan lokal, teknik pengolahan yang sederhana, serta cita rasa yang sesuai dengan selera Nusantara. Dari proses adaptasi inilah lahir Sosis Solo, hidangan yang tampak sederhana namun kaya rasa dan nilai sejarah.
Hingga kini, Sosis Solo tetap lestari dan terus dinikmati lintas generasi. Keberadaannya menjadi bukti kreativitas masyarakat Solo dalam meramu pengaruh budaya luar menjadi sajian khas yang unik, membumi, dan sarat makna tradisi.
Sosis Solo terbuat dari daging sapi giling yang digulung di dalam telur dadar tipis.
Bumbu yang digunakan sederhana, seperti merica, bawang putih, dan pala, menyesuaikan selera lokal karena masyarakat Solo pada masa penjajahan tidak terbiasa mengonsumsi susu, berbeda dengan sosis Eropa yang dicampur susu.
Heri Priyatmoko, dosen sejarah Universitas Sanata Dharma, menambahkan bahwa sosis Solo dikembangkan oleh pengusaha restoran Tionghoa di Solo untuk menjajakan hidangan bagi bangsawan kolonial dan priyayi setempat.
Telur yang melimpah di Jawa menjadi bahan utama untuk kulit sosis, yang membutuhkan keterampilan khusus agar tidak mudah sobek saat digulung.
Berbeda dengan sosis Eropa yang biasanya disantap sebagai lauk roti, sosis Solo dikonsumsi sebagai camilan.
Kulit telur tipis memberikan tekstur lembut dan gurih, berbeda dengan lumpia atau risoles yang memiliki lapisan berbeda.
Meski bentuknya mirip, sosis Solo, lumpia, dan risoles memiliki perbedaan jelas:
Tampilan dan tekstur:
Isian:
Sejarah:
(TribunTrends.com/TribunSolo.com)