TRIBUNJOGJA.COM - Kabupaten Sleman tak hanya dikenal dengan wisata alamnya.
Namun, juga menyimpan ragam destinasi budaya yang merekam perjalanan sejarah dan peradaban Jawa.
Mulai dari monumen perjuangan hingga museum seni keraton, wisata budaya di Sleman menawarkan pengalaman belajar yang berpadu dengan rekreasi.
Berikut 3 wisata budaya di Sleman yang patut dikunjungi untuk menambah wawasan sekaligus mengenal warisan sejarah Yogyakarta lebih dekat.
Monumen Yogya Kembali (Monjali) didirikan guna memperingati peristiwa kembalinya Kota Yogyakarta sebagai Ibu Kota Republik Indonesia yang direbut dari penjajah Belanda.
Museum ini dicetuskan oleh Kolonel Soegiarto. Pada tanggal 06 Juli 2989 Monjali diresmikan oleh Presiden Soeharto.
Bangunan monjali terdiri dari 3 lantai, lantai 1 berisi 4 ruang museum, lantai 2 berisi 10 diorama dan 40 relief, dan lantai 3 bernama Ruang Garba Graha.
Koleksi Museum berjumlah 1.108, terdiri dari heraldika, miniatur, replika, kendaraan, senjata api, senjata tradisional, foto dokumentasi, alat perhubungan angkatan darat, alat kesehatan, inventaris, patung peraga, arsip, daftar nama pahlawan, relief, diorama, dan evokatif.
Museum 1 berisi koleksi mengenai peristiwa sekitar proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Museum 2 koleksi tentang perang gerilya dengan sistem pertahanan rakyat semesta.
Museum 3 diisi oleh koleksi mengenai peristiwa Serangan Umum 1949.
Museum 4 berisi koleksi Yogyakarta sebagai Ibu Kota Negara Republik Indonesia.
Berikut lebih rinci terkait Monjali menurut website monjali-jogja.com:
Museum Ullen Sentalu merupakan museum seni dan budaya Jawa yang berada di kawasan Kaliurang, Sleman.
Museum Ullen Sentalu diresmikan pada 1 Maret 1997 oleh KGPAA Paku Alam VIII, Gubernur DIY saat itu.
Nama Ullen Sentalu adalah akronim falsafah dalam Bahasa Jawa “Ulating Blencong Sejatining Tataranin Lumaku” yang memiliki makna sebagai cahaya penuntun dalam perjalanan hidup.
Hal ini selaras dengan misi museum sebagai penjaga nilai budaya Jawa.
Museum ini berisi koleksi seni dan sejarah Kerajaan Mataram Islam beserta pecahannya, seperti Kesultanan Yogyakarta, Kasunanan Surakarta, Pakualaman, dan Mangkunegaran.
Koleksi utamanya meliputi batik keraton, lukisan, arsip foto bangsawan, surat pribadi, serta kisah kehidupan para tokoh keluarga kerajaan, khususnya perempuan Jawa.
Penyajian koleksi dilakukan melalui ruang-ruang tematik dengan konsep tur terpandu.
Fasilitas museum meliputi pemandu wisata, toko suvenir, kafe, area parkir, toilet, dan taman.
Berikut lebih lengkap terkait Museum Ullen Setalu dilansir dari website ullensentalu.com:
Tur Adiluhung Mataram : Rp50.000
Tur Skriptorium : Rp60.000
Tur Vorstenlanden : Rp100.000
English Guided Tour : Rp100.000
Baca juga: 5 Desa Wisata di Indonesia yang Mendunia Berkat Budaya dan Tradisi Lokal
Situs Penampungan Benda Cagar Budaya (BCB) Seyegan merupakan tempat penampungan dan penyimpanan benda cagar budaya yang mayoritas belum utuh.
Situs ini dikelola oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X / BPCB DIY di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Kehadiran situs ini ditujukan sebagai pusat konservasi, pendataan, dan perlindungan BCB hasil evakuasi dari wilayah rawan bencana di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Isi utama situs ini berupa benda-benda cagar budaya tak bergerak yang dipindahkan, seperti batu candi, arca, fragmen bangunan kuno, dan komponen struktur situs arkeologi.
Benda-benda tersebut disusun dan dirawat secara sistematis untuk keperluan konservasi, penelitian, serta edukasi.
Meski bukan museum pameran umum, kawasan ini berperan penting dalam upaya pelestarian warisan budaya.
Fasilitas yang tersedia meliputi area penampungan terbuka, gudang penyimpanan, ruang konservasi, serta area dokumentasi dan penelitian.
Berikut rincian lebih lanjut terkait Situs Penampungan Benda Cagar Budaya Seyegan dikutip dari website budaya.jogjaprov.go.id:
Museum Gunungapi Merapi (MGM) merupakan museum edukasi kebencanaan yang dibangun sebagai sarana pembelajaran mengenai aktivitas vulkanik Gunung Merapi dan mitigasi bencana.
Museum ini dibangun atas kerja sama oleh Pemerintah Provinsi DIY, Kabupaten Sleman, dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Kemudian diresmikan pada 1 Oktober 2009 oleh Purnomo Yusgiantoro yang menjabat sebagai menteri ESDM saat itu.
Pendirian museum ini dilatarbelakangi oleh tingginya aktivitas Merapi serta kebutuhan edukasi masyarakat tentang kebencanaan gunung api.
Museum ini menyajikan informasi seputar sejarah letusan Gunung Merapi, proses terbentuknya gunung api, serta dampak letusan bagi lingkungan dan kehidupan manusia.
Koleksi yang dipamerkan meliputi foto dokumentasi letusan, diorama, miniatur gunung api, batuan vulkanik, peta rawan bencana, hingga simulasi dan film edukasi kebencanaan.
Penyajian dilakukan secara visual dan interaktif sehingga mudah dipahami oleh pengunjung dari berbagai usia.
Fasilitas museum meliputi ruang pamer permanen, ruang audio visual, ruang simulasi, perpustakaan mini, area parkir, toilet, dan mushola.
Berikut selengkapnya terkait Museum Gunungapi Merapi dilansir dari website mgm.slemankab.go.id:
Tiket masuk : Rp 5.000,- per orang
Tiket masuk wisatawan mancanegara : Rp. 10.000,- per orang
Tiket masuk ruang audio visual : Rp 5.000,- per orang
Tiket masuk ruang audio visual wisatawan mancanegara : Rp. 10.000,- per orang
(MG Zahrah Suci Al Aliyah)