TRIBUNJOGJA.COM, SRAGEN - Kepala Desa Ngepringan, Kecamatan Jenar, Kabupaten Sragen, Sunarso melakukan aksi mandi lumpur di jalanan yang ada di desanya.
Aksi itu dilakukan sebagai bentuk protes terhadap pemerintah karena jalan utama penghubung ke desanya mengalami kerusakan parah dan tidak pernah dilakukan perbaikan.
Saat melakukan aksinya, Sunarso mengenakan seragam dinasnya.
Video aksi Sunarso melakukan aksi mandi lumpur itupun banyak beredar di media sosial hingga akhirnya viral.
Adapun Desa Ngepringan terletak di Kecamatan Jenar, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia.
Desa ini berada di wilayah perdesaan yang didominasi area pertanian.
Jarak Desa Ngepringan ke ibu kota Kabupaten Sragen sekitar 16–18 km, sehingga perjalanan dari pusat kabupaten ke desa ini biasanya memakan waktu 30–40 menit dengan kendaraan bermotor.
Rute menuju desa ini sebagian besar melewati jalan desa dan kabupaten, yang kondisinya bisa bervariasi, terutama di beberapa titik penghubung.
Dikutip dari Kompas.com, Sunarso mengaku aksinya ini merupakan bentuk ungkapan kekecewaannya terhadap Pemerintah Kabupaten Sragen yang dinilainya tidak memberikan perhatian terhadap kerusakan infrastruktur di wilayahnya.
Menurut Sunarso, jalan yang sudah itu sudah cukup lama dan tidak ada perhatian dari pemerintah Kabupaten Sragen.
Jalan utama penghubung Desa Mlale dengan Desa Ngepringan sepanjang 6 kilometer tersebut mengalami kerusakan sejak 2019 silam.
Dan hingga saat ini tidak diperbaiki oleh pemerintah.
Padahal, jalur tersebut menjadi satu-satunya akses penting bagi warga untuk menuju pasar, sekolah, hingga fasilitas layanan kesehatan.
Narso menegaskan bahwa aksi tersebut dilakukan secara spontan dan bukan bagian dari rencana protes yang disengaja.
"Sebenarnya saya tidak sengaja protes, tapi ini mau berangkat kerja malah kepleset."
"Di situ mandi sekalian, tidak ada rencana, sepintas sekalian," ujar Sunarso seperti dilansir dari Kompas.com, Selasa (20/12/2025).
Baca juga: 5 Desa Wisata di Indonesia yang Mendunia Berkat Budaya dan Tradisi Lokal
Menurut Sunarso, kerusakan jalan di wilayahnya itu berdampak terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakatnya.
Warga Desa Ngepringan sampai merasa terisolasi dari wilayah lain.
"Warga seperti terisolasi. Mereka yang memiliki keluarga di luar wilayah ini, sampai enggan ke sini karena terkendala akses," ucapnya.
Ia juga menambahkan bahwa meski perbaikan jalan tersebut beberapa kali dikabarkan akan dilakukan melalui proses lelang, hingga kini realisasinya tak kunjung terwujud.
"Artinya kan siap dibangun pada 2025, tapi sampai 2026 tidak ada. 2024-2025 tidak dibangun," katanya.
Narso berharap aksinya dapat mendorong Pemkab Sragen untuk segera melakukan perbaikan.
"Tidak perlu bagus banget, yang penting rata bisa dilewati, tidak becek."
"Mau diaspal, cor silakan, karena ini sudah parah banget. Itu yang bisa lewat truk, kalau mobil pasti nyangkut," tutupnya.
Sementara itu, Camat Jenar, David Supriyadi mengungkapkan bahwa dirinya tidak bisa menyalahkan tindakan yang dilakukan Narso.
Sebab, lanjutnya, banyak protes yang dia terima dari warga karena kondisi jalan yang rusak.
"Saya sebagai pembina hanya mengimbau sebaiknya berhati-hati. Karena anggaran dari Pemkab terbatas juga."
"Ya sabar, bisanya cuma begitu saya," ujarnya.
Terpisah, Kabid Bina Marga DPU Kabupaten Sragen, Aribowo Sulistyo secara singkat mengatakan, ada tim DPU sudah ke lokasi untuk melakukan survei. (*)