Penjaga Embung Persemaian Beberkan Kronologi Theresia Digigit Buaya, Korban Sering Kali Diingatkan
January 21, 2026 03:14 PM

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN-Multiangle-Peristiwa seorang ibu digigit buaya di Embung Persemaian, Kelurahan Karang Harapan Kecamatan Tarakan Barat, Tarakan Kalimantan Utara tidak lupat dari perhatian Luki penjaga Embung Persemaian.

Luki yang ditemui TribunKaltara.com Selasa (20/1/2026) siang kemarin, tampak mengenakan kaos oblong warna biru, dan celana pendek sedang duduk bersama beberapa orang rekannya di depan kantor pengelola.
 
Luki mempersilakan para wartawan duduk dan bersiap bercerita mengulas kembali kronologi bagaimana kejadian penyerangan buaya yang terjadi pada Senin (19/1/2026) sore kemarin.

Luki mengungkapkan, kejadiannya sekitar pukul 17.00 WITA, ia mendengar terjadi keributan dan melihat cukup banyak keramaian di salah satu sisi embung dekat pendopo persisnya.

Baca juga: Penampakan Buaya 3 Meter yang Ditangkap di Waduk Persemaian Tarakan Kaltara

“Saya baru pulang dari lokasi. Jadi kembali ke sana. Saya pikir jangan sampai ada orang tenggelam,” kata Luki mengawal ceritanya.

Lalu buru-burulah ia mendekat ke lokasi. Ternyata didapati seorang ibu belakangan diketahui merupakan warga RT 7 Kelurahan Karang Harapan, bernama Theresia Padang.

Ia melihat Theresia Padang ditolong oleh seorang pemancing. Namun karena pemancing ini tak sanggup sendirian, maka minta tolonglah ke personel polisi yang sedang melatih calon polisi (casis) yang sedang ikuti tes di dekat Embung Persemian.

“Jadi ditolong, langsung dibawa lari ke rumah sakit. Kalau kronologisnya seperti itulah kurang lebih.  Kebetulan ada pak polisi yang lagi ngelatih anak-anak itu kan,  bawa mobil dia,” urainya.

Sepengetahuannya, Theresia Padang mencari rumput bukan  untuk pakan sapi atau ternak, tapi kebutuhan perkebunannya. 

Diaku Luki, korban bukan hanya sekali didapati mencari rumput di Embung Persemaian, namun sudah seringkali. Ia juga beberapa kali juga mengingatkan kalau di dalam waduk ada buaya.

“Ada buayanya, takut terpesat juga di air kan. Memang beliau memang sudah biasa disitu. Jadi kalau kita tegur paling dikatakan gak apa-apa sudah biasa saya di sini. Jawabannya pasti begitu. Nah, nahasnya kemarin, kakinya masuk di air. Nah, kebetulan ada buayanya di situ. Jadi pas disambar itu kakinya ditarik itu, yang nolong itu kebetulan kan orang sini juga yang mancing itu. Jadi pas mau pulang dia, ibu itu minta tolong ceritanya. Jadi ditolong bapaknya itu,” ungkap Luki.

Embung Persemaian ini sendiri merupakan tempat wisata. Berada di bawah naungan Disbudporapar. Ia sendiri sebagai penjaga aset bahkan bermalam di kantor jaga, sekaligus membersihkan lokasi embung, merawat tanaman dan termasuk pembersihan spot jalur pengunjung. 

Baca juga: Dirut PDAM Tarakan Sebut Adanya Buaya di Embung Persemaian Bukanlah Hal Baru, Begini Penjelasannya

Ia megaku, kawasan Embung Persemaian ini ada waduk yang dibatasi dengan pagar. Artinya masyarakat dilarang sebenarnya masuk ke dalam pagar.

“Sebenarnya kalau untuk lewat pagar itu memang gak boleh. Larangan sudah ada sebenarnya sih. Plang dari PDAM sudah ada tuliskan larangan. Yang maksudnya gak boleh bermain kasarnya di air. Plang kami dari dinas juga sudah ada di situ,” ujarnya.

Meskipun begitu yang namanya pengunjung diakuinya sulit juga jika harus terawasi satu per satu. Pun ia 24 jam di lokasi apalagi pada saat ramai tentu tak bisa dipantau satu per satu.

“Saya sendiri satu orang, kalau mau ngawasi semua kan sulit juga. Dan tempat ini sudah dipagar sebenarnya. Jadi pahamlah mestinya pengunjung itu. Kalau sudah dipagar berarti kan dilarang masuk,” bebernya.

Sementara itu untuk aktivitas jogging masih diperbolehkan karena spot atau tracknya di luar pagar embung mengelilingi embung. 

Yang tidak diperbolehkan masuk dalam air embung, baik itu pengunjung atau siapapun termasuk pemancing.

“Biasa juga pemancing masuk dalam pagar, cuma mereka juga paham sih situasinya seperti apa di sini,” bebernya.

Luki sendiri sudah menjadi petugas jaga selama 13 tahun. Selama itu embung ini dikelola dinas. 

“Saya posisi sebagai bagian kebersihannya sini, merawat taman di sini tinggal saya sendiri. Tapi kalau yang bagian karcis ada dua orang. Jadi tinggal tiga orang. Kalau awal dulu sampai 10 orang dulu. Sekarang tinggal tiga orang aja,” lanjut Luki.

Kembali mengulas keberadaan buaya dalam waduk, ia mengungkap buaya tak pernah bisa naik ke spot jalur pengungjung karena diberi pagar pembatas. Luas embung sendiri setahunya kurang lebih 4 hektare khusus dua kolam. Karena di kawasan ini terdapat dua kolam dan dihubungkan oleh jembatan. 

Luas keseluruhan kawasan adalah 10 hektare yang menjadi aset Pemkot Tarakan. Namun wewenang pengelolaan Disbudporapar khususnya dirinya yang bertugas sebagai yang bertugas merawat tanaman, melakukan pembersihan adanya di area darat.

BUAYA DITANGKAP - Tampak buaya hasil pancingan tadi malam berhasil tertangkap dan dievakuasi PMK Tarakan sebelum diserahkan ke penangkaran, Rabu (21/1/2026). (Istimewa/PMK Tarakan)
BUAYA DITANGKAP - Tampak buaya hasil pancingan tadi malam berhasil tertangkap dan dievakuasi PMK Tarakan sebelum diserahkan ke penangkaran, Rabu (21/1/2026). (Istimewa/PMK Tarakan) (ISTIMEWA)

“Kalau di air memang pengelolaannya di PDAM. Untuk kebersihannya, kami bersihkan di sekeliling pagar. Kalau dalam pagar, tergantung kalau enggak enak dilihat mata ya kita bantu lah bersihkan. Posisinya saya cari teman. Teman lihat minta diawasi paling tidak,” ujar Luki.

Kembali disinggung sebenarnya dengan warga mengambil membersihkan bisa dikatakan membantu. Hanya saja warga harus paham risikonya.

“Risikonya itu yang kita khawatirkan sebenarnya. Bukan masalah buaya saja. Ini kan langsung ke air. Kalau terpeleset ke ari, posisi gak ada orang, siapa yang akan nolong. Apalagi ini lumayan dalam,” bebernya.

Malam setelah perisitwa Theresia Padang digigit buaya, tampak ada setelah waduk disenter. Tapi berdasarkan laporan pemancing paling banyak tiga ekor 

Dulu, kata Luki, waduk itu pernah juga dijadikan lokasi arena remote control perahu. Selama kerap dijadikan arena lomba perahu pakai remote control, belum pernah didapati ada buaya muncul.

Kini aktivitas lomba perahu remote contol sudah tak ada, barulah buaya mulai kembali muncul. Awalnya satu, lalu muncul dua ekor, ada satu di atas dan satu di bawah dan sempat viral. Keberadaan buaya ini pun dilaporkan ke Damkar Tarakan, kemudian dicari, tapi buaya tidak berhasil ditangkap.

(*)

Penulis: Andi Pausiah

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.