TRIBUNPEKANBARU.COM, MERANTI – Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti meningkatkan kewaspadaan menyusul ditemukannya sejumlah kasus dengue pada tiga pekan pertama Januari 2026.
Demam Dengue (DD) adalah penyakit infeksi virus yang disebabkan oleh virus dengue (DENV) dan ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk betina yang terinfeksi, terutama spesies Aedes aegypti dan Aedes albopictus.
Meski jumlahnya belum tergolong tinggi, kemunculan kasus sejak awal tahun dinilai sebagai sinyal peringatan yang tidak boleh diabaikan.
Berdasarkan data hingga 19 Januari 2026, tercatat delapan kasus dengue, terdiri dari empat kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) dan empat kasus Demam Dengue (DD). Seluruh pasien dinyatakan selamat, namun Dinkes menegaskan situasi ini belum dapat dikategorikan aman.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kepulauan Meranti, Widya Nengsih, SKM, mengatakan bahwa kemunculan kasus di awal tahun berpotensi menjadi awal peningkatan yang lebih besar apabila tidak diantisipasi sejak dini.
“Jika respons pencegahan tidak diperkuat, lonjakan bisa terjadi dalam waktu singkat,” ujar Widya, Rabu (21/1/2026).
Ia menjelaskan, sebaran kasus DBD saat ini meliputi dua kasus di wilayah kerja Puskesmas Selatpanjang, serta masing-masing satu kasus di wilayah Puskesmas Alai dan Puskesmas Kedabu Rapat. Sementara itu, wilayah lainnya belum melaporkan adanya kasus.
Walaupun demikian, Widya mengingatkan bahwa data tersebut belum tentu mencerminkan kondisi sebenarnya di lapangan, mengingat perbedaan tingkat pelaporan dan pemeriksaan kesehatan di setiap wilayah.
“Tidak semua warga yang mengalami demam langsung memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Artinya, masih ada potensi kasus yang belum terdeteksi,” katanya.
Secara sementara, angka insiden dengue di Kabupaten Kepulauan Meranti pada Januari 2026 berada di kisaran 1,86 per 100.000 penduduk. Kendati demikian, Dinkes menilai angka tersebut belum sepenuhnya menggambarkan tingkat risiko, terutama karena faktor cuaca dan tingginya curah hujan yang berpotensi menimbulkan banyak genangan air.
Dari data, sepanjang tahun 2025 lalu, Kepulauan Meranti mencatat 425 kasus dengue, terdiri dari 178 kasus DBD dengan dua kasus kematian. Dinkes menilai lonjakan tersebut erat kaitannya dengan lemahnya upaya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di lingkungan rumah tangga.
“Masih banyak yang mengandalkan fogging, padahal fogging hanya membunuh nyamuk dewasa. Jika jentik tidak diberantas, penularan tetap berlanjut,” terang Widya.
Oleh karena itu, Dinkes menekankan bahwa pengendalian dengue harus difokuskan pada PSN secara rutin dan pengawasan jentik di lingkungan pemukiman. Seluruh puskesmas juga diminta memperkuat surveilans aktif, termasuk penelusuran wilayah sekitar rumah pasien untuk memutus rantai penularan.
Selain faktor lingkungan, Dinkes juga menyoroti rendahnya kesadaran sebagian masyarakat untuk segera memeriksakan diri ketika mengalami demam. Kondisi ini dinilai dapat memperburuk keadaan pasien sekaligus memperlambat deteksi klaster penularan.
“Kami masih menemukan warga yang baru datang berobat setelah demam berlangsung beberapa hari. Ini berisiko bagi pasien dan menyulitkan pengendalian di lapangan,” tuturnya.
Dinas Kesehatan mengingatkan, apabila tren peningkatan kasus tidak segera ditekan, beban pelayanan kesehatan berpotensi meningkat tajam, terutama di wilayah kepulauan yang memiliki keterbatasan akses dan sangat bergantung pada transportasi laut.
“Langkah pencegahan sejak dini jauh lebih efektif dan lebih aman dibandingkan penanganan ketika kasus sudah melonjak,” pungkas Widya. (tribunpekanbaru.com/ Teddy Tarigan)