TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Komoditas ikan layang kerap menjadi salah satu faktor pendorong inflasi bulanan di Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur.
Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Perikanan (Diskan) Berau, Abdul Majid, yang menjelaskan bahwa fluktuasi harga ikan layang sangat dipengaruhi oleh musim tangkap dan ketersediaan ikan di pasar.
Dikatakan, naik turunnya harga ikan di Berau, khususnya ikan layang, tidak bisa dilepaskan dari pola penangkapan musiman.
Pada waktu tertentu, hasil tangkapan bisa melimpah, namun di waktu lain jumlahnya menurun.
Meski begitu, kondisi tersebut dinilai masih bisa dikendalikan karena produksi ikan di Berau sejatinya lebih besar dibanding kebutuhan konsumsi masyarakat.
Baca juga: 62.119 Warga Berau Kini Bekerja di Sektor Informal, Didorong Kemudahan Usaha
“Ikan layang kerap masuk dalam pendorong inflasi. Yang perlu diketahui penangkapan ikan itu ada musimnya. Ketika tidak ada ikan layang, masih ada juga ikan laut yang lain," ungkapnya kepada TribunKaltim.co, Rabu (21/1/2025).
Apabila jumlah tangkap besar, daya konsumsi di Berau paling hanya 4–5 ton. Sedangkan penangkapan bisa mencapai 7–8 ton.
Kelebihan hasil tangkapan itu tidak bisa disimpan terlalu lama, terutama untuk jenis ikan layang yang cepat rusak.
Ikan layang, kata dia, tidak bisa disimpan dalam freezer dalam jangka panjang karena kualitasnya akan menurun. Oleh sebab itu, sisa tangkapan yang tidak terserap pasar lokal harus segera dikirim ke daerah lain.
“Sisanya harus segera kita kirim, karena sifat ikan layang ini cepat busuk. Tidak bisa di freezer atau jangka panjang. Jadi harus dikirim, misalnya melalui Kutim, Bontang dan daerah lain,” jelasnya.
Bisa saja, kata Dia, ketika tim survei BPS turun ke lapangan ikan layang sedang tidak tersedia. Tapi masih banyak ikan laut lainnya yang dijual di pasaran. Kondisi di lapangan bisa saja berbeda dengan hasil survei, tergantung waktu pengambilan data.
“Sebenarnya ikan kita melimpah. Mungkin kebetulan tim survei BPS turun, ikan layang sedang kosong di pasar. Tapi produksinya cukup tinggi. Yang jelas masih bisa terkendali,” ujarnya.
Diakui, ikan layang memang beberapa kali masuk dalam komoditas penyumbang inflasi, namun tidak terus-menerus. Dalam periode tertentu, ikan layang bergantian dengan sektor lain yang turut mempengaruhi angka inflasi daerah.
Dari sisi harga, ikan layang segar biasanya dijual di kisaran Rp 50 ribu hingga Rp 55 ribu per kilogram (Kg).
Namun, jika tingkat kesegarannya mulai berkurang, harganya bisa turun hingga Rp 30 ribu sampai Rp 35 ribu per kilogram. Kondisi ini tentunya juga mempengaruhi pilihan masyarakat dalam membeli ikan.
“Masyarakat biasa memilih ikan laut yang lain, tapi ketika kosong biasanya beralih ke ikan layang,” tuturnya.
Untuk mengantisipasi ketergantungan pada satu jenis ikan, pihaknya mendorong masyarakat agar tidak hanya mengandalkan ikan laut saja. Masih banyak pilihan ikan air tawar yang bisa dikonsumsi dan perlu lebih didorong keberadaannya di pasar.
“Masih banyak ikan air tawar lain yang bisa dikonsumsi, seperti ikan nila, ikan mas hingga lele. Harus kita hambur juga di pasar,” katanya.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui bantuan kolam terpal untuk masyarakat, agar budidaya ikan air tawar bisa berkembang dan hasilnya bisa masuk ke pasar lokal.
Dengan begitu, pilihan ikan bagi masyarakat menjadi lebih beragam dan tidak bertumpu pada satu komoditas saja.
Ia menilai, pola konsumsi masyarakat Berau memang cenderung lebih memilih ikan laut karena letak geografis yang dekat dengan wilayah pesisir. Hal ini berbeda dengan daerah di Pulau Jawa yang jauh dari laut dan lebih banyak mengonsumsi ikan air tawar.
“Berau kan dekat dengan laut, jadi masyarakat lebih suka konsumsi ikan laut. Beda dengan daerah yang sulit mencari ikan laut, jadi lebih banyak konsumsi ikan air tawar,” pungkasnya. (*)