TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Di tengah tren peningkatan harga emas yang terus mencatatkan rekor baru, minat masyarakat terhadap investasi emas fisik secara digital kian menguat.
Adapun, harga emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali cetak rekor harga tertinggi lagi pada Rabu (21/1), di level Rp 2,772 juta/gram. Harga itu naik Rp 35.000 dari hari sebelumnya di level Rp 2,737 juta per gram.
Sementara, Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) atau Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) mencatat lonjakan signifikan transaksi perdagangan pasar fisik emas digital.
Sepanjang 2025, volume perdagangan emas fisik digital di ICDX mencapai 58,65 juta gram. Angka itu tumbuh 25,2 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 46,84 juta gram.
Lonjakan lebih tajam terjadi dari sisi nilai transaksi. Total nilai perdagangan emas digital sepanjang 2025 mencapai Rp 115,6 triliun, melonjak 101,04 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar Rp 57,5 triliun.
Direktur ICDX, Nursalam mengatakan, meningkatnya minat masyarakat membeli emas fisik secara digital melalui Bursa Berjangka ini dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, dengan satu di antaranya adalah kemudahan dan kepraktisan.
"Melalui platform digital, masyarakat tidak perlu lagi mendatangi gerai fisik untuk membeli emas, melainkan cukup memanfaatkan aplikasi di ponsel pintar," katanya, dalam keterangan pers, Rabu (21/1).
Selain itu, menurut dia, digitalisasi yang merambah hampir seluruh sektor kehidupan turut mendorong perubahan perilaku investasi masyarakat.
"Generasi muda, khususnya GenZ yang telah memiliki penghasilan sendiri, mulai memanfaatkan skema investasi emas digital dengan nominal yang disesuaikan kemampuan finansial masing-masing," ucapnya.
Melihat tren pertumbuhan tersebut, Nursalam menyatakan, ICDX menargetkan volume transaksi emas fisik digital pada 2026 dapat meningkat sekitar 30 persen.
Sebagai bursa penyelenggara, dia menambahkan, ICDX berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan bagi seluruh pemangku kepentingan di ekosistem perdagangan emas digital.
Mekanisme perdagangan emas fisik digital di bursa dirancang aman dan terjamin. Seluruh transaksi berada di bawah pengawasan pemerintah melalui Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).
"Selain itu juga didukung lembaga kliring yang berperan sebagai penjamin serta penyelesai transaksi, serta lembaga depository yang menyimpan emas fisik yang diperdagangkan secara digital," jelasnya.
Pengamat ekonomi dan investasi, sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi dan Komunikasi Bisnis Universitas Islam Nusantara Bandung, Yoyok Prasetyo menilai, peningkatan minat investasi emas digital itu sebagai perkembangan positif bagi ekosistem investasi nasional.
"Emas yang dibeli secara digital menjadi alternatif penting untuk memperkaya portofolio investasi masyarakat, terutama di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian," ucapnya.
Yoyok menekankan, pekerjaan rumah bagi seluruh pemangku kepentingan ke depan adalah memperkuat sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, khususnya terkait aspek keamanan transaksi.
Ia menilai, faktor keamanan masih menjadi pertimbangan utama masyarakat sebelum memutuskan berinvestasi, termasuk dalam instrumen emas digital.
Adapun, tren kenaikan harga emas dinilai masih berpeluang berlanjut di tengah ketidakpastian global yang kian meningkat.
Kondisi geopolitik yang tidak menentu menjadi katalis utama yang menopang reli harga emas hingga mencetak rekor baru.
Analis mata uang dan komoditas Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai prospek emas ke depan masih sangat positif.
Menurutnya, eskalasi risiko global berpotensi mempercepat kenaikan harga emas sebagai aset lindung nilai.
“Prospek emas masih sangat bagus. Situasi geopolitik yang makin tidak menentu akan mempercepat kenaikan harga emas,” ujarnya, kepada Kontan, Rabu (21/1).
Lukman mengungkapkan, harga spot emas internasional saat ini sudah mendekati rata-rata proyeksi analis global di kisaran 5.000 dolar AS per ons pada 2026.
Bahkan, ia memperkirakan harga emas dunia bisa bergerak lebih tinggi di kisaran 5.400 dolar AS hingga 5.700 dolar AS per ons, dengan potensi revisi ke atas jika tensi global berlanjut.
Dengan asumsi nilai tukar rupiah berada di level saat ini, Lukman memproyeksikan harga emas Antam pada kuartal I/2026 berada di kisaran Rp 2,9 juta hingga Rp 3 juta per gram. (Kompas.com/Suparjo Ramalan/Kontan/Muhammad Alief Andri)