TRIBUNJOGJA.COM - Tingginya tuntutan buyer terhadap mutu layanan pariwisata mendorong Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta mengarahkan Jogja Business Matching (JBM) 2026 sebagai ruang adopsi standar internasional, terutama untuk menyiapkan pelaku usaha menghadapi pasar global, ujar Kepala Dinas Pariwisata DIY Imam Pratanadi.
Menurut Imam, pertemuan antara buyer dan seller dalam ajang JBM tidak lagi dimaknai semata sebagai transaksi bisnis. Lebih dari itu, forum tersebut menjadi instrumen untuk memastikan kualitas produk jasa pariwisata di DIY dapat meningkat lebih cepat dan selaras dengan kebijakan nasional dalam pembangunan pariwisata.
“Tuntutan buyer terhadap produk jasa pariwisata yang berkualitas semakin tinggi, dan ini selaras dengan kebijakan Kemenparekraf untuk menjadikan Indonesia pilihan utama masyarakat dunia,” kata Imam dalam sambutan pembukaan Jogja Business Matching 2026 di Yogyakarta, Rabu (21/1/2026).
Imam menekankan, adopsi standar global menjadi hal yang tidak terelakkan, terutama pada sektor MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition). Ia mencontohkan pasar Eropa yang telah memiliki garis kebijakan ketat terkait Global Standard of Tourism Development yang wajib dipenuhi oleh penyedia jasa pariwisata. Kondisi tersebut, menurutnya, menuntut kesiapan pelaku usaha sejak dini.
“Kita harus memastikan produk yang ditawarkan berkualitas dan berkelanjutan. Dengan belajar menyediakan standar internasional, para pelaku usaha di DIY akan lebih siap saat menawarkan jasanya ke pasar global yang lebih luas,” imbuhnya.
Penyelenggaraan JBM 2026 juga mencatat peningkatan partisipasi. Sebanyak 239 buyer dan 94 seller terlibat dalam ajang ini, dengan lebih dari 90 persen seller berasal dari luar Daerah Istimewa Yogyakarta. Komposisi tersebut mempertegas peran DIY sebagai pusat penghubung (hub) yang mempertemukan berbagai kepentingan dalam pembangunan pariwisata nasional yang lebih berkualitas.
Project Director Jogja Business Matching 2026, Sri Astuti, menjelaskan sekitar 94 seller yang berpartisipasi berasal dari beragam sektor, mulai dari hotel, travel agent, desa wisata, pusat oleh-oleh, pengelola destinasi wisata, pelatihan sumber daya manusia, konsultan, hingga event organizer. Sementara itu, jumlah buyer mencapai sekitar 200 peserta, dengan komposisi 60 persen berasal dari travel agent dan 40 persen dari non-travel.
“Konsep business matching yang diterapkan memungkinkan seller bertemu dengan buyer dalam format mixed meeting. Harapannya, tidak hanya seller dan buyer yang bisa menjalin networking dan kerja sama bisnis, tetapi juga di antara buyer sendiri,” kata Sri Astuti.
Ia menambahkan, penyelenggara menargetkan potensi bisnis dari ajang ini mencapai sekitar Rp 2 miliar.
Dari sisi makro, Ketua Tim Area II Kementerian Pariwisata Wisnanda Haris memaparkan pergerakan wisatawan nusantara telah mencapai 1,08 miliar hingga November, sementara kunjungan wisatawan mancanegara tercatat sebanyak 17,6 juta. Sektor pariwisata juga memberikan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 4,9 persen.
“Kami mengapresiasi khusus Jogja sebagai tuan rumah pelaksanaan JBM. Jogja memiliki paket lengkap sebagai destinasi unggulan, mulai dari kekayaan sejarah, seni, hingga kuliner. Ada beberapa titik ikonik seperti Keraton, Malioboro, Candi Prambanan, hingga kawasan lereng Gunung Merapi sebagai daya tarik utama yang tidak terbantahkan,” tegasnya.
Melalui Jogja Business Matching 2026, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta menegaskan arah pembangunan pariwisata yang tidak hanya berorientasi pada jumlah kunjungan, tetapi juga pada peningkatan kualitas layanan dan kesiapan pelaku usaha untuk bersaing di pasar global.