Dugaan Keracunan MBG di Sentolo, JCW Nilai Pengawasan Lemah dan Minta Program Ditinjau Ulang
January 22, 2026 01:14 AM

 

TRIBUNJOGJA.COM - Kasus dugaan keracunan makanan akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di Kabupaten Kulon Progo. Insiden yang dilaporkan berlangsung di wilayah Kapanewon Sentolo itu menimpa puluhan korban, mulai dari pelajar hingga guru, dan memicu sorotan atas pengawasan serta akuntabilitas pelaksanaan program tersebut.

Deputi Bidang Pengaduan Masyarakat dan Monitoring Peradilan Jogja Corruption Watch (JCW), Baharuddin Kamba, menilai peristiwa ini tidak sekadar menambah daftar panjang korban yang diduga berasal dari MBG, tetapi juga menunjukkan lemahnya pengawasan.

Ia menyatakan, meskipun satuan pelayanan penyedia gizi (SPPG) telah memiliki sertifikat sesuai ketentuan, hal itu tidak sepenuhnya menjamin nihilnya kasus dugaan keracunan dari menu MBG.

Pengawasan lemah

“Kasus dugaan keracunan MBG di Kulon Progo tidak hanya menambah daftar panjang jumlah korban yang diduga berasal dari MBG yang disajikan, tetapi lemahnya pengawasan. Meskipun SPPG tersebut telah memiliki sertifikat yang telah ditentukan, tetapi tidak sepenuhnya menjamin kasus dugaan keracunan dari menu MBG nihil, karena faktanya kasus dugaan keracunan dari menu MBG yang terjadi,” ujar Baharuddin Kamba.

Selain pengawasan, JCW juga menyoroti aspek penganggaran. Baharuddin menyebut pengadaan seragam bagi karyawan SPPG yang menembus Rp 423 miliar tidak memiliki korelasi langsung dengan peningkatan gizi bagi penerima MBG. Karena itu, menurutnya, transparansi dan akuntabilitas penggunaan anggaran menjadi penting.

“Hal lainnya adalah pengadaan seragam bagi karyawan SPPG tembus Rp 423 miliar yang tidak ada korelasinya dengan peningkatan gizi bagi penerima MBG tersebut. Sehingga menjadi penting perlunya transparansi dan akuntabilitas dari anggaran tersebut,” katanya.

Tinjau ulang rencana MBG bulan puasa

JCW juga meminta rencana pelaksanaan MBG pada bulan puasa yang diperkirakan sebulan mendatang untuk ditinjau ulang. Baharuddin menekankan, apabila menu MBG diklaim mampu bertahan hingga 12 jam, harus ada pihak yang bertanggung jawab jika terjadi kasus keracunan pada periode tersebut. Ia mengingatkan, kasus-kasus sebelumnya diduga terjadi karena makanan sudah basi dan tidak layak dikonsumsi.

“Rencana MBG tetap diadakan di bulan puasa yang kurang lebih sebulan mendatang perlu ditinjau ulang, karena jika diklaim menu MBG yang diklaim tahan sampai 12 jam harus benar-benar ada yang bertanggung jawab apabila ada kasus keracunan pada saat di bulan puasa nanti, karena kasus dugaan keracunan MBG sebelumnya terjadi karena makanan sudah basi dan tidak layak dikonsumsi. Jangan sampai justru di bulan puasa nanti jika dipaksakan MBG tetap ada justru kasus dugaan keracunan MBG meningkat,” ujarnya.

Pernyataan Disdikpora Kulon Progo

Ia menjelaskan, pihaknya langsung melakukan pendataan terhadap warga sekolah yang mengalami gejala keracunan. Hingga pukul 06.34 WIB, Rabu pagi, tercatat 87 orang terdampak, terdiri atas pelajar dan guru. Pendataan masih terus berlangsung dengan berkoordinasi bersama pihak terkait, termasuk Dinas Kesehatan (Dinkes), karena jumlah korban masih berpotensi bertambah.

“Nanti kami akan melakukan pendataan secara detail, seperti nama pelajar, alamat, sekolahnya, gejalanya, hingga dirawat di sana,” jelas Nur Hadiyanto.

Berdasarkan data Disdikpora, 87 orang tersebut sempat dirawat di empat fasilitas kesehatan, yakni Puskesmas Sentolo 1, Klinik Pengasih Husada, RSUD Nyi Ageng Serang Sentolo, dan RS Queen Latifa Sentolo. Dari jumlah itu, 83 orang merupakan pelajar dan empat lainnya guru, yang berasal dari tujuh sekolah di wilayah Sentolo. Sebanyak 18 orang sempat menjalani rawat inap pada Senin (20/1/2026). “Hari ini sebagian pelajar yang bergejala keracunan sudah masuk sekolah lagi,” ungkap Nur Hadiyanto.

Kasus keracunan kali ini merupakan yang ketiga terjadi di Kulon Progo. Sebelumnya, peristiwa serupa dilaporkan terjadi di wilayah Kapanewon Wates pada Juli 2025, dengan lebih dari 400 pelajar mengalami gejala keracunan.

Salah satu sekolah dengan jumlah korban terbanyak adalah SD Negeri 2 Sentolo. Kepala sekolah setempat, Suryadi, menyampaikan bahwa 21 pelajar mengalami gejala keracunan. “Sebanyak 13 anak masih izin masuk sekolah, sekarang istirahat di rumah,” katanya.

Menurut Suryadi, laporan pertama diterima sekitar pukul 17.15 WIB, Selasa, dari orang tua pelajar melalui grup percakapan WhatsApp. Para pelajar dilaporkan mengalami muntah-muntah dan dirujuk ke Puskesmas Sentolo I. “Jumlah yang bergejala terus bertambah sampai pukul 21.00 WIB, kebanyakan sempat dirawat di Puskesmas,” jelasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.