Bisnis Pesantren di Tengah Pasar Roti Modern, Inovasi Tanpa Henti demi Kepuasan Pelanggan
January 22, 2026 02:38 AM

 

TRIBUNNEWS.COM - Bagi Mumtaz Bakery, tepung dan ragi mungkin hanyalah benda mati, namun inovasi adalah ruhnya.

Saat ini, inovasi bukan hanya sekedar pilihan apalagi cuma sebatas slogan.

Inovasi justru menjadi sebuah keharusan.

Apalagi di dunia bisnis F&B, yang persaingannya kian dinamis dan ketatnya makin luar biasa.

Dan itulah prinsip yang coba dikedepankan Mumtaz Bakery, agar bersaing di tengah pasar roti modern.

Berdiri di bawah naungan Pondok Imam Bukhari Karanganyar.

Mumtaz Bakery mencoba mendobrak stigma bahwa bisnis pesantren bukan sekedar pelengkap ekonomi saja.

Baca juga: Dari Pesantren ke Etalase, Ketika Roti Menjadi Jalan Dakwah dan Kemandirian

ETALASE - Tampilan produk roti Mumtaz Bakery yang menjadi salah satu badan usaha milik Pondok Pesantren Imam Bukhari Karanganyar. Dari pesantren ke etalase, ketika roti menjadi jalan dakwah dan kemandirian.
ETALASE - Tampilan produk roti Mumtaz Bakery yang menjadi salah satu badan usaha milik Pondok Pesantren Imam Bukhari Karanganyar. Dari pesantren ke etalase, ketika roti menjadi jalan dakwah dan kemandirian. (Tribunnews.com/Dwi Setiawan)

Mumtaz Bakery juga mencoba berani mengambil positioning sebagai pemain inti, bukan sekedar penonton saja di dunia bisnis, terutama produk roti.

Seakan tidak merasa gentar bersaing dengan puluhan brand roti yang sudah ternama.

Mumtaz Bakery terus berusaha tumbuh dengan baik, apapun rintangannya, namun tetap sesuai koridor bisnis islam yang menjadi pijakannya.

Melayani lidah pelanggan seakan menjadi bagian ibadah yang harus dilakukan Mumtaz Bakery dengan cara sempurna.

Karena bagi Mumtaz Bakery.

Lewat sepotong roti, Mumtaz Bakery sepenuhnya percaya hal itu bisa menjadi sebuah jalan dakwah, kebermanfaatan umat, sekaligus bentuk kemandirian mereka.

Bisnis Usaha Pesantren di Tengah Zaman Modern, Inovasi Bukan Sekedar Slogan

Pandangan skeptis masyarakat yang menganggap Pondok Pesantren hanyalah tempat belajar mengaji, menuntut ilmu agama, dan memperbaiki akhlak, tentu masih ada.

Dan untuk mematahkan stigma tersebut.

Pondok Imam Bukhari yang terletak di Jl Solo-Purwodadi mencoba melebarkan sayapnya.

Salah satunya dengan membentuk berbagai badan usaha produktif yang menghasilkan profit untuk mendukung kemajuan pondok.

Mumtaz Bakery, menjadi salah satu badan usaha yang bisa jadi menjadi ujung tombaknya.

Sosok Zainul Abidin, Marketing Badan Usaha Milik Mahad Imam Bukhari (BUMM) ketika ditemui Tribunnews di Pondok Pesantren Imam Bukhari, Selokantor, Gondangrejo, Karanganyar, Rabu (21/1/2026).
Sosok Zainul Abidin, Marketing Badan Usaha Milik Mahad Imam Bukhari (BUMM) ketika ditemui Tribunnews di Pondok Pesantren Imam Bukhari, Selokantor, Gondangrejo, Karanganyar, Rabu (21/1/2026). (Tribunnews.com/Dwi Setiawan)

Ketika disinggung soal strategi Mumtaz Bakery membangun citra agar produknya relevan dengan seleras pasar roti pada hari ini.

Mumtaz Bakery menjelaskan inovasi menjadi hal yang tidak boleh ditinggalkan begitu saja.

Inovasi pun bukan hanya dipandang soal produk saja, melainkan segala hal yang ada di bisnisnya.

Salah satunya menyoal pelayanan.

Hal itulah yang disampaikan oleh Zainul Abidin, selaku Marketing Badan Usaha Milik Mahad Imam Bukhari ketika ditemui Tribunnews pada Rabu (21/1/2026) siang WIB.

Pria yang akrab disapa Zain itu mengungkapkan selain inovasi produk, inovasi dalam hal lain seperti pelayanan hingga sentuhan teknologi sangat penting.

Dimulai dari inovasi produk.

Dari sudut pandang Zain, inovasi produk tidak selalu harus mengeluarkan varian baru setiap 6-12 bulan.

Karena yang terpenting baginya, justru positioning Mumtaz Bakery dalam menentukan market atau pasarnya terlebih dahulu.

"Saat ini belum ada lagi soal varian, karena prinsip saya, kembali ke market, itu dulu yang dilihat," kata Zain.

"Karena apapun varian produknya selama marketnya masih ada, jadi kami fokus ambil saja disitu dulu, bukan lagi soal head to head dengan kompetitor," tambahnya.

Zain menuturkan inovasi dan perbaikan dari sisi pelayanan lebih ia kedepankan, karena hal itu punya pengaruh luar biasa bagi apapun bisnis usahanya di tengah era yang serba maju dengan teknologi seperti sekarang ini.

Salah satu tampilan roti ketika proses produksi di Mumtaz Bakery, Selokaton, Gondangrejo, Karanganyar, Rabu (21/1/2026). (Tribunnews.com/Dwi Setiawan)

Dari sisi inovasi pelayanan.

Zain menekankan hal ini menjadi pilar terdepan yang dilakukan Mumtaz Bakery untuk menjaga kepuasaan sekaligus loyalitas pelanggan.

"Dalam dua tahun terakhir, kami fokus betul ke pelayanan, karena menurut saya, sekarang orang lebih cenderung lihat online dulu, ketimbang offline," jelas Zain.

"Online dalam artian pertama kali ketika melihat visual, kemudian pasti dia akan ke CS, dan saya jamin CS pasti baik dimanapun berada,"

"Namun pertanyaannya adalah ketika customer itu datang ke toko, sama gak dapatnya (red: pelayanan), harusnya sama, itulah fokus kami,"

Zain pun mengutarakan badan usaha yang ia kelola itu juga tidak alergi dengan komplain.

Yang terpenting baginya, adalah pihaknya sebisa mungkin responsif terhadap apapun komplain dari pelanggan.

Tidak lupa juga mengedapankan sikap positif dan penuh empati, ketika menanggapi sebuah kritikan.

"Disini, melayani itu bukan hanya sekedar SOP, melainkan sudah menjadi budaya," tegas Zain.

Dari sisi teknologi, Zain juga menjelaskan pihaknya tidak menampik kemajuan teknologi, sehingga Mumtaz Bakery harus adaptif.

Salah satunya pembaharuan alat-alat produksi tertentu yang bertujuan untuk meminimalkan sentuhan manusia, guna menjaga higienitas produk.

Produk Keluaran Mumtaz Bakery

Jika menengok produk apa saja yang dijual, ada banyak varian dari paling murah dan mahal.

Zain pun menjelaskan berbagai hal soal produk keluaran Mumtaz Bakery yang paling diburu dan laris manis karena banyak peminatnya.

Untuk roti hajatan roti krumpul menjadi salah satu yang paling banyak diburu.

Sementara yang lainnya, flossroll hingga bolen pisang juga menjadi roti kategori premium yang diminati.

Untuk roti reguler alias yang harganya hemat, roti Q-Boy, roti abon, yang harganya tiga ribuan juga laku keras.

OLEH-OLEH - Berbagai macam varian roti 'premium' Mumtaz Bakery yang sering dijadikan oleh-oleh di Pondok Imam Bukhari Karanganyar.
OLEH-OLEH - Berbagai macam varian roti 'premium' Mumtaz Bakery yang sering dijadikan oleh-oleh di Pondok Imam Bukhari Karanganyar. (Tribunnews.com/Dwi Setiawan)

Adapula produk roti kering, yang kian menambah opsi bagi para customer saat berbelanja.

Zain pun berharap kedepannya, Mumtaz Bakery terus tumbuh dan berkembang dengan baik.

Ia juga sepenuhnya ingin keberadaan badan usaha milik pondok seperti Mumtaz Bakery, menghapus stigma negatif tentang pesantren, sekaligus mengikis secara perlahan ekslusifitas.

Terkait produk Mumtaz Bakery.

Pihak manajemen tidak hanya menjual produknya di gerai alias toko aja yang kini sudah punya tiga cabang (Selokaton, Mojosongo dan Andong), melainkan juga menitipkan di warung-warung usaha kecil.

Bahkan, Mumtaz Bakery juga berusaha membangun awareness pelanggan dengan hadir di stand Car Free Day setiap akhir pekan di Colomadu dan Solo yang berlokasi di Jalan Slamet Riyadi.

Ada pula layanan antar pesanan yang kian memanjakan customer agar semakin betah dan loyal berbelanja di Mumtaz Bakery.

Tak lupa, Mumtaz Bakery juga melakukan pendekatan lain ke masyarakat sekitar, tak terkecuali masjid yang kerapkali mengadakan majelis ilmu.

Urgensi Badan Usaha bagi Lembaga Pendidikan

Redaksi Tribunnews pun berkesempatan untuk bertukar pikiran, melihat dari sisi akademis, menyoal urgensi badan usaha bagi sebuah lembaga pendidikan, termasuk pondok pesantren.

Menurut Asa Sheila Amelia S.M M.M, yang kini berstatus Dosen Prodi Manajemen, Fakultas Ekonomi Sosial dan Humaniora, UMPKU Surakarta.

Ia memandang transformasi pesantren dari lembaga yang semula berfokus pada pengajaran keislaman menuju lembaga produktif, menjadi hal menarik.

Dikatakannya, hal itu sebagai proses adaptasi terhadap beberapa perubahan yang tidak bisa dicegah.

"Dalam pandangan akademisi, transferomasi ini dipahami sebagai proses adaptasi institusional terhadap perubahan sosial dan ekonomi," kata Asa Sheila Amelia ketika dihubungi Tribunnews, Rabu (21/1/2026).

"Pesantren secara historis menjalankan fungsi tafaqquh fiddin, namun islam juga menekankan keseimbangan antara urusan akhirat dan dunia,"

"Oleh karena itu, keterlibatan pesantren dalam aktifitas ekonomi tidak dipandang sebagai komersialisasi agama, melainkan sebagai ijtihad kelembagaan agar pesantren tetap berkelanjutan dan relevan," tambahnya.

Ketika disinggung terkait pentingnya lembaga pendidikan islam punya financial independence.

Asa Sheila Amelia mengutarakan hal itu menjadi hal yang tidak bisa dikotak-kotakan.

Bahkan, dirinya menyebut secara akademik dan ekonomi islam, kemandirian finansial pesantren memiliki urgensi strategis.

Mulai dari sisi keberlanjutan kelembagaan, otonomi pendidikan, dan perspektif ekonomi islam.

"Pertama, sisi keberlanjutan kelembagaan, financial independence melalui badan usaha akan menciptakan arus kas dan daya tahun institusi," kata Asa.

"Kedua, sisi otonomi kependidikan, pesantren yang mandiri secara ekonomi punya kebebasan menjaga nilai, kurikulum, dan arah dakwah tanpa intervensi eksternal,"

"Ketiga, dari perspektif ekonomi islam, kemandirian finansial merupakan bagian dari menjaga izzah umat, dan tambahannya adalah unit usaha pesantren bisa berfungsi sebagai laboratorium bisnis syariah," jelasnya.

ETALASE - Tampilan produk roti Mumtaz Bakery yang menjadi salah satu badan usaha milik Pondok Pesantren Imam Bukhari Karanganyar. Dari pesantren ke etalase, ketika roti menjadi jalan dakwah dan kemandirian.
ETALASE - Tampilan produk roti Mumtaz Bakery yang menjadi salah satu badan usaha milik Pondok Pesantren Imam Bukhari Karanganyar. Dari pesantren ke etalase, ketika roti menjadi jalan dakwah dan kemandirian. (Tribunnews.com/Dwi Setiawan)

Asa Sheila Amelia pun turut membagikan sudut pandang dari akademisi, menyoal seperti apa idealnya pesantren di masa depan alias yang akan datang.

Menurutnya, pesantren pada masa mendatang idealnya berperan sebagai pusat pendidikan dan dakwah, lembaga berkelanjutan secara ekonomi, inkubator kewirausahaan dan motor pemberdayaan ekonomi umat.

"Dengan prinsip utama, profit tunduk pada nilai, bisnis mengabdi pada pendidikan, dan ekonomi menjadi jalan ibadah dalam dakwah," lanjut Asa.

"Kesimpulan akademiknya, dari suut pandang akademisi dan ekonomi islam, transformasi pesantren menjadi lembaga produktif bukanlah penyimpangan nilai, melainkan evolusi kelembagaan yang rasional, kontekstual dan syari," tutupnya.

(Tribunnews.com/Dwi Setiawan)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.