TRIBUNNEWSMAKER.COM – Kondisi jasad Florencia Lolita Wibisono, pramugari pesawat ATR 42-500 yang menjadi korban kecelakaan, ditemukan dalam keadaan memilukan setelah tersangkut di tebing Gunung Bulusaraung, perbatasan Kabupaten Pangkep-Maros, Sulawesi Selatan.
Proses evakuasi berlangsung penuh tantangan karena medan terjal, cuaca yang tidak menentu, serta posisi jasad yang sulit dijangkau oleh tim SAR gabungan.
Penemuan ini menjadi pukulan berat bagi keluarga sekaligus menambah duka mendalam atas tragedi penerbangan yang masih terus diselidiki penyebab pastinya.
Baca juga: Black Box Pesawat ATR 42-500 Ditemukan di Maros, Rekaman Aktivitas Selama Penerbangan Segera Terkuak
Nama Florencia Lolita Wibisono termasuk dalam kru pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport yang dilaporkan jatuh di Gunung Bulusaraung, perbatasan Kabupaten Pangkep-Maros, Sulawesi Selatan pada Sabtu (17/1/2026).
Adapun wanita yang akrab disapa Olen diketahui bertugas sebagai Pramugari dalam penerbangan tersebut.
Pramugari asal Kendis, Minahasa, Sulawesi Utara itu berencana akan menikah.
Hal ini diungkap Yanti (46), salah satu anggota keluarga, saat ditemui di rumah keluarga korban di Tondano Timur, Kabupaten Minahasa.
Alumni Universitas Pelita Harapan itu merupakan anak bungsu dari enam bersaudara dalam keluarganya.
Olen dikenal memiliki pengalaman panjang di dunia penerbangan.
Karier Olen sebagai pramugari dimulai dari PT Wings Abadi Airlines sejak 2012.
Sebagai pramugari senior yangs udah berpengalaman 14 tahun, Olen disebut memiliki kemampuan beradaptasi yang mudah terutama dalam pemahaman prosedur keselamatan, pertolongan pertama dan dapat menyampaikan prosedur keselamatan.
Tak hanya berpengalaman sebagai pramugari, Olen juga dipercaya menangani pelatihan awak kabin yang baru bergabung.
Perannya kerap dikaitkan dengan pembinaan dan pendampingan kru junior.
Diketahui Olen baru sekitar 3 bulan bertugas di pesawat ATR 42-500 milik Air Indonesia Transport.
Jenazah Olen berhasil diidentifikasi oleh tim DVI gabungan dengan mencocokan medis korban melalui sidik jari dan data gigi.
Kepala Pusat Identifikasi (Kapusindent) Bareskrim Polri Brigjen Pol Mashudi menjelaskan proses identifikasi.
Kedatangan jenazah berjenis kelamin perempuan ini disebutnya masih bagus.
Sehingga papillary sidik jari masih bisa terbaca.
Papillary ridges merujuk garis-garis menonjol pada jari.
Dijelaskan, pembuktian dilanjutkan dengan mengambil sampel pembanding.
Sidik jari jempol tangan kiri korban dibandingkan dengan data miliki tim.
Setelah melalui proses pencarian yang penuh tantangan, satu lagi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, akhirnya ditemukan oleh tim SAR gabungan.
Korban diketahui merupakan seorang pramugari bernama Florencia Lolita Wibisono.
Perempuan berusia 32 tahun itu ditemukan dalam kondisi meninggal dunia dengan keadaan yang mengenaskan, tersangkut di dahan pohon di tepi jurang kawasan pegunungan.
Diketahui Florencia ditemukan pada Senin (19/1/2026), atau dua hari setelah pesawat naas tersebut mengalami kecelakaan pada Sabtu (17/1/2026).
Lokasi penemuan berada di area yang sangat curam, dengan kedalaman sekitar 500 meter dari puncak Gunung Bulusaraung.
Anggota Tim Arai Sulawesi Selatan, Saipul, menjadi orang pertama yang menemukan jasad korban kedua dalam peristiwa jatuhnya pesawat ATR 42-500 tersebut. Saat itu, Saipul tengah melakukan penyisiran di sekitar lokasi puing-puing pesawat.
Jasad Florencia tampak tersangkut di sela-sela dahan pohon pada lereng yang terjal. Di tubuh korban masih melekat sebuah nametag, yang kemudian menjadi petunjuk awal identitasnya.
(TribunNewsmaker.com/Eri Ariyanto)