TRIBUNBENGKULU.COM - Penyebab kecelakaan pesawat ATR 42-500 sedang ramai jadi perbincangan publik.
Apalagi saat ini baru ditemukan 2 korban, 1 penumpang bernama Deden Maulana dan 1 orang lagi Pramugari bernama Florencia Lolita.
Sementara 8 korban lainnya yang terdiri dari 6 orang kru dan 2 orang penumpang belum berhasil ditemukan.
Mengingat kondisi kecelakaan pesawat di lereng gunung Bulusaraung sangat curam dan terjal sehingga dilakukan proses pencarian korban.
Di tengah pencarian para korban tersebut kini pihak Airnav Indonesia buka suara.
AirNav Indonesia (Perum LPPNPI) adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tunggal penyedia jasa navigasi penerbangan di Indonesia, bertugas menjamin keselamatan, keteraturan, dan efisiensi lalu lintas udara nasional.
Dengan menyediakan layanan seperti pemanduan lalu lintas udara (ATC), telekomunikasi, informasi aeronautika, hingga meteorologi, serta berkoordinasi dengan Basarnas untuk layanan SAR, demi mendukung konektivitas dan pertumbuhan ekonomi negara kepulauan ini, dengan standar internasional.
Kinin Direktur Utama AirNav Indonesia Capt. Avirianto menegaskan bahwa Air Traffic Control (ATC) tidak pernah mengarahkan pesawat ATR 42-500 untuk terbang menuju kawasan Pegunungan Bulusaraung sebelum kecelakaan terjadi.
Pernyataan ini disampaikan Avirianto di hadapan Komisi V DPR RI, sebagai respons atas berbagai spekulasi publik yang mempertanyakan peran ATC dalam tragedi tersebut.
Menurut Avirianto, arahan ATC kepada pesawat sudah sesuai prosedur, yakni pendaratan ke runway 21 Bandara Sultan Hasanuddin, Maros, Sulawesi Selatan.
Ia menekankan, tidak ada satu pun instruksi dari ATC yang memerintahkan pesawat masuk ke jalur pegunungan.
Runway 21 dan Faktor Cuaca
Dalam rapat kerja yang digelar di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (20/1/2026), Avirianto menjelaskan bahwa pemilihan runway 21 didasarkan pada kondisi angin yang memengaruhi performa pesawat.
“Kalau angin itu berpengaruh sama performance pesawat, sehingga diarahkan ke runway 21, Pak, dari arah selatan. Nah, ini yang mungkin nanti kami akan meningkatkan, Pak, prosedur...,” ujar Avirianto.
Meski jalur pendaratan runway 21 berada dekat area pegunungan, Avirianto menegaskan bahwa jika prosedur diikuti secara benar, pesawat tidak akan melenceng hingga memasuki wilayah Bulusaraung.
DPR Minta Kejelasan: ATC atau Bukan?
Ketua Komisi V DPR Lasarus langsung meminta klarifikasi tegas dalam rapat tersebut.
“Sebentar, Pak. Berarti mengambil dari posisi gunung itu bukan arahan dari ATC? Itu kesimpulan dulu,” tanya Lasarus.
“Bukan, Pak,” jawab Avirianto.
“Bukan ya? Oke, clear dulu, Pak, sampai di situ saja dulu,” kata Lasarus.
Avirianto kembali menegaskan bahwa kondisi cuaca menjadi alasan utama penggunaan runway 21.
“Karena cuaca, Pak. Jadi akhirnya memang arahnya harus dari runway 21, Pak,” jelasnya.
Prosedur Normal, Tapi Pesawat Kebablasan
Avirianto menuturkan bahwa pendaratan melalui runway 21 merupakan hal yang lazim di Bandara Sultan Hasanuddin.
Pesawat yang mengikuti prosedur seharusnya tidak sampai memasuki kawasan pegunungan.
“Iya, Pak. Sebenarnya kalau memang kita... karena kan kita sudah sering, Pak, datang dari situ.
Kalau kita mengikuti prosedurnya, tidak sampai ke situ (gunung), Pak,” kata Avirianto.
Namun dalam kasus ini, pesawat tidak berbelok menuju bandara, melainkan kebablasan hingga menabrak Gunung Bulusaraung.
KNKT Akan Tentukan Titik Kesalahan
Menanggapi hal tersebut, Avirianto menegaskan bahwa Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) akan melakukan investigasi menyeluruh untuk menentukan penyebab pasti kecelakaan.
“Tapi nanti dari KNKT yang akan menginvestigasi ada apa pesawat ini atau pilotnya, Pak. Karena kalau peleset ya pasti ke situ (gunung),” jelasnya.
Ia juga menyatakan bahwa AirNav akan melakukan evaluasi dan perubahan prosedur agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.
“Makanya kita untuk ke depan kita akan lihat lagi, Pak, prosedur ini. Saya akan rubah nantinya, Pak, untuk evaluasi,” sambung Avirianto.
Kenapa Runway 21, Bukan Runway Lain?
Lasarus kemudian menyoroti alasan mengapa pesawat tidak dialihkan ke runway lain, mengingat ATR 42-500 tidak membutuhkan landasan pacu panjang.
“Pesawat ini kan ATR 42 seri 500, itu butuh runway pendek, Pak. Ini tidak butuh runway panjang. Sementara runway di sana kan panjang banget, Pak,” tukas Lasarus.
Menanggapi hal tersebut, Avirianto menjelaskan bahwa pengaturan runway tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan seluruh lalu lintas penerbangan di bandara.
“Iya, Pak. Kita antre, Pak. Di belakangnya ada Boeing, Pak. Kan di sini kan tidak cuma ATR, Pak, ada beberapa traffic yang sudah menggunakan runway dari sana, Pak. Sehingga kalau kita mengubah runway, berarti mengubah semuanya, Pak,” jelasnya.
Lasarus pun menegaskan bahwa pembahasan ini bukan untuk memperdebatkan pilihan, melainkan memahami rangkaian keputusan yang diambil.
“Baik. Saya rasa ini tidak untuk berdebat, tetapi pilihan menggunakan jalur yang sekarang, itulah yang terjadi hari ini,” kata Lasarus.
Kritik DPR: Seharusnya Putar di Laut Saat Cuaca Buruk
Dalam bagian akhir rapat, Lasarus mengungkapkan keheranannya terkait tidak adanya perintah dari ATC agar pesawat berputar di atas laut saat cuaca memburuk.
“Kalau ATC punya pilihan yang lain, ini bukan pilihan yang harus dipilih, Pak. Apalagi dalam kondisi cuaca buruk,” ujar Lasarus.
Menurutnya, dalam situasi cuaca ekstrem, wilayah pegunungan seharusnya dihindari sepenuhnya.
“Harusnya ATC tidak boleh mengarahkan ke situ. Harusnya ATC suruh mengarahkan saja muter-muter di laut sana,” katanya.
Lasarus bahkan mengaku telah berdiskusi dengan banyak pilot sebelum menyampaikan pandangannya dalam rapat.
“Ini yang ngomong sama saya ini pilot lho, Pak. Orang yang ngerti yang bicara sama saya, Pak. Bapak kan pilot juga ini? Kapten,” ujarnya.
“Iya, Pak,” jawab Avirianto.
Lasarus menutup pernyataannya dengan kalimat tegas.
“Singkat ceritanya, Pak. Kalau cuaca buruk bukan ke gunung.”
Black Box Pesawat ATR 42-500 Ditemukan
Akhirnya black box pesawat ATR 42-500 berhasil ditemukan oleh Tim SAR.
Meski sudah ditemukan keberadaan balck box tersebut belum bisa diamankan, mengingat kondisi yang belum memungkinkan.
Black box terletak di bagian ekor pesawat ATR 42-500 PK-THT.
Sebagai informasi, black box (kotak hitam) menjadi benda yang paling dicari setelah terjadinya kecelakaan pesawat terbang.
Itu karena kotak hitam merupakan perangkat penyimpan data penerbangan yang nantinya bisa dijadikan petunjuk untuk mengungkap penyebab kecelakaan pesawat terbang.
Meski namanya black box tapi warnanya itu orange.
Diketahui bahwa black box berada di bagian ekor, namun akses menuju titik tersebut sangat terbatas dan berisiko tinggi.
Untuk menjangkau area tersebut, Tim SAR Gabungan harus menyiapkan strategi khusus.
Personel memerlukan tali sepanjang sekitar 100 meter dari Pos 8 untuk melakukan teknik grappling atau repling menuruni lereng curam menuju badan pesawat.
“Kita harus memerlukan dari Pos 8 tali sekitar 100 meter untuk bisa grappling ke area pesawat,” ujar Tim SAR, Rabu (21/1/2026).
Kondisi geografis menjadi tantangan utama. Selain kemiringan tebing yang ekstrem, permukaan lokasi didominasi bebatuan dan minim pijakan, sehingga setiap pergerakan harus dilakukan dengan perhitungan matang.
“Lokasi ekornya ada di bagian selatan,” ungkapnya.
Basarnas Makassar juga telah berkoordinasi dengan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk memastikan titik pasti keberadaan black box sebelum proses evakuasi dilakukan.
“Letak black box-nya sendiri kami sudah berkoordinasi dengan KNKT, letak dari black box itu dari bagian ekor,” jelasnya.
Sementara itu, Danrem 141/Toddopuli Brigjen TNI Andre Clift Rumbayan memastikan tim khusus telah disiapkan untuk fokus menuju bagian ekor pesawat, meskipun perangkat perekam tersebut belum berhasil diangkat.
“Ada tim yang khusus untuk ke ekor,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa pencarian di area tersebut membutuhkan teknik khusus karena posisi ekor berada di lereng yang sangat terjal.
“Dan itu posisinya juga harus menggunakan teknik repling. Ini di lereng juga,” jelasnya.
Pesawat ATR 42-500 PK-THT sendiri diketahui hilang kontak pada Sabtu (17/1/2026).
Serpihan pesawat ditemukan beberapa jam kemudian di kawasan Gunung Bulusaraung, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, pada koordinat 04°55’48” Lintang Selatan – 119°44’52” Bujur Timur.
Pada hari keempat pencarian, lokasi black box akhirnya teridentifikasi.
Namun hingga kini, tim masih mempersiapkan peralatan tambahan dan skema penjangkauan paling aman agar proses evakuasi dapat dilakukan tanpa mengorbankan keselamatan personel.
Sebagai perangkat vital, black box berisi Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR) yang merekam parameter penerbangan seperti kecepatan, ketinggian, hingga percakapan pilot.
Meski dikenal sebagai kotak hitam, perangkat ini justru berwarna oranye terang agar mudah ditemukan dan dirancang tahan benturan serta suhu ekstrem.
Temuan black box nantinya akan menjadi kunci utama untuk mengungkap rangkaian peristiwa sebelum pesawat mengalami kecelakaan, sekaligus menjadi bahan evaluasi penting bagi peningkatan keselamatan penerbangan ke depan.