PROHABA.CO, MEDAN - Kecelakaan maut antara kereta api dan mobil Toyota Avanza di Kota Tebingtinggi meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban.
Kecelakaan tragis itu terjadi di perlintasan kereta api tanpa palang pintu di Kota Tebingtinggi, Sumatera Utara.
Rabu (21/1/2026) sekitar pukul 18.24 WIB, sebuah minibus Toyota Avanza yang melintas di Jalan Abdul Hamid, Kelurahan Bagelen, Kecamatan Padang Hilir, terseret oleh Kereta Api Sribilah Utama yang melaju dari Rantau Prapat menuju Medan.
Insiden tersebut menelan korban jiwa sebanyak sembilan orang penumpang minibus, delapan meninggal di lokasi kejadian dan satu lainnya meninggal saat mendapatkan perawatan medis di RS Bhayangkara Kota Tebingtinggi.
Korban meninggal dunia terdiri dari berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga lansia.
Berikut identitas dari sembilan orang yang menjadi korban dalam kecelakaan tersebut.
- Abdul Kadir Al Jaelani, pria berusia 42 tahun warga Lingkungan 7 Pasar IV Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan. (Pengemudi, sempat dirawat di RS Bhayangkara namun dinyatakan meninggal dunia).
- Rizal, pria berusia 59 tahun yang beralamat di Jalan Mutiara 8, Desa Sigara-gara, Kecamatan Patumbak, Kabupaten Deli Serdang. (Dibawa ke Tanjung Morawa)
- Daratul Lailla, wanita berusia 50 tahun warga Jalan Satria Ujung Gang Sedulur, Desa Mekar Sari, Kecamatan Deli Tua, Kabupaten Deli Serdang.
- Risnawati, wanita berusia 57 tahun warga Jalan Deli Tua Gang Al Iman, Dusun I Desa Mekar Sari, Kecamatan Deli Tua, Kabupaten Deli Serdang. (Dibawa ke Tanjung Morawa).
- Muhammad Hafiz, anak laki-laki berusia 4 tahun yang merupakan anak dari Daratul Lailla.
- Muhammad Rafka Attaqih, anak laki-laki berusia sekitar enam tahun. (Anak Kadir dan Devi).
- Asrah, wanita berusia 80 tahun warga Kecamatan Deli Tua, Kabupaten Deli Serdang.
- Sri Devi, wanita berusia 41 tahun warga Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan.
- Zaitun, anak yang masih belum diketahui usianya.
Baca juga: Ibu dan Dua Anak Tewas Tersambar Kereta Api Harina di Pekalongan
Setelah kejadian, Informasi yang didapat, seluruh korban telah dibawa ke rumah duka masing-masing baik di wilayah Deli Tua, Tanjung Morawa Maupun Medan Marelan.
Seluruh korban dibawa menggunakan beberapa unit mobil ambulance, membuat warga Kota Tebingtinggi yang menyaksikan iring-iringan korban turut menyampaikan bela sungkawa atas peristiwa tragis ini.
Kecelakaan melibatkan Kereta Api (KA) Sribilah Utama relasi Rantau Prapat–Medan dengan sebuah minibus terjadi di perlintasan sebidang liar kilometer 83+300, petak jalan antara Stasiun Laut Tador dan Stasiun Tebing Tinggi, Rabu (21/1/2026) sekitar pukul 18.24 WIB.
Peristiwa tersebut bermula saat KA Sribilah Utama melaju menuju Medan.
Berdasarkan keterangan warga sekitar lokasi, masinis telah membunyikan suling lokomotif secara berulang sebagai tanda peringatan sebelum memasuki perlintasan sebidang tanpa palang pintu.
Namun, sebuah minibus tiba-tiba muncul dari arah samping dan langsung melintas tanpa berhenti.
Diduga, pengemudi tidak sempat memastikan kondisi jalur dengan menengok ke kanan dan kiri, sehingga tabrakan tidak dapat dihindari.
Akibat benturan keras, lokomotif KA Sribilah Utama mengalami kerusakan dan tidak dapat melanjutkan perjalanan.
Plt Manager Humas KAI Divre I Sumatera Utara, Anwar Yuli Prastyo, mengatakan lokomotif penolong segera dikirim dari Stasiun Tebing Tinggi untuk membantu evakuasi.
Baca juga: Harga Emas di Langsa Rp9 Juta Per Mayam, Tertinggi Sepanjang Sejarah
“Akibat kejadian ini, lokomotif KA Sribilah Utama mengalami gangguan dan harus dibantu dengan lokomotif penolong yang dikirim dari Stasiun Tebing Tinggi,” ujar Anwar.
Meskipun kereta mengalami kerusakan, masinis, seluruh kru, dan penumpang KA Sribilah Utama dipastikan dalam kondisi selamat dan tidak mengalami luka-luka.
Sementara itu, delapan penumpang minibus yang selamat dari lokasi kecelakaan langsung dievakuasi oleh petugas KAI bersama pihak kepolisian dengan bantuan warga sekitar.
Korban dibawa ke RS Bhayangkara Tebing Tinggi untuk mendapatkan penanganan medis, sedangkan kendaraan minibus dievakuasi agar jalur kereta api dapat diamankan.
Setelah lokomotif penolong tiba, KA Sribilah Utama ditarik menuju Stasiun Tebing Tinggi untuk dilakukan perbaikan dan akhirnya kembali diberangkatkan menuju Medan pukul 19.56 WIB, mengalami keterlambatan 84 menit dari jadwal semula.
Anwar Yuli Prastyo juga menyampaikan permohonan maaf kepada pelanggan KA Sribilah Utama atas keterlambatan perjalanan yang terjadi akibat insiden ini.
Selain itu, pihak KAI Divre I Sumatera Utara turut menyampaikan simpati dan duka cita kepada para korban.
Pihak KAI menekankan pentingnya kewaspadaan pengguna jalan saat melintasi perlintasan sebidang, terutama yang tidak dilengkapi palang pintu.
“Tidak ada waktu yang lebih berharga daripada nyawa manusia.
Lebih baik kehilangan satu menit untuk berhenti dan memastikan aman, daripada kehilangan keselamatan,” ujarnya.
KAI mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga keselamatan dengan selalu memastikan kondisi jalur benar-benar aman sebelum melintas di perlintasan kereta api.
Baca juga: Tabrakan Maut Kereta Api Kontra Mobil di Deli Serdang, Dua Orang Tewas
Baca juga: Tabrakan Kereta Api Commuter vs Truk Trailer Pengangkut Kayu di Gresik, Satu Orang Meningga
Baca juga: Kecelakaan Maut Libatkan Tiga Kendaraan di Tol Cipali KM 72, Lima Orang Meninggal