Tribunlampung.co.id, Lampung Tengah - Masyarakat mendesak pemerintah segera melakukan perbaikan jembatan gantung Way Pengubuan penghubung Kecamatan Way Pengubuan-Kecamatan Terbanggi Besar, Kabupaten Lampung Tengah.
Diketahui hingga saat ini perbaikan jembatan urung juga dilakukan paska insiden satu unit mobil boks bermuatan kerupuk jatuh ke sungai saat melintas di jembatan gantung Way Pengubuan pada Sabtu 17 Januari 2026 sekitar pukul 15.00 WIB lalu.
Salah satu tali baja pada jembatan yang terbuat dari material kayu tersebut nyaris putus usai dilewati satu unit mobil karena usianya jembatan sudah puluhan tahun.
Samsuri selaku Kepala Kampung Tanjung Ratu mengatakan, sejauh ini belum ada kabar terkait upaya tindak lanjut perbaikan jembatan paska insiden.
Menurutnya, jembatan tersebut harus segera mendapat perbaikan agar aktivitas masyarakat kembali normal.
"Belum ada info perbaikan. Kalau kondisi terkini masyarakat masih terkendala, terutama bagi masyarakat yang biasa beraktivitas melintasi jembatan tersebut," ujar Samsuri, Kamis (22/1/2026).
"Bahkan ada anak sekolah yang terpaksa jalan memutar jauh sekali, hingga 20 kilometer karena sekolah di kecamatan yang berbeda," terusnya.
Menurutnya, kondisi jembatan gantung saat ini hanya tinggal satu tali gantung yang tersisa, dan dinyatakan tidak bisa dilalui, terutama untuk anak sekolah.
Sebab, kata dia, jika dipaksakan akan berpotensi menimbulkan bahaya.
Padahal, ujar Samsuri, biasanya jembatan tersebut biasa dilalui pejalan kaki, motor, dan sepeda.
"Menurut kami sangat urgent, karena situasi ini tidak diprediksi dan membuat rutinitas jadi terganggu," kata dia
Samsuri mengatakan, jembatan Gantung Way Pengubuan dibangun pada tahun 1973 dan sudah banyak berjasa untuk mobilitas masyarakat setempat.
Menurutnya, jembatan kayu yang usianya sudah 53 tahun itu terputus akibat satu unit mobil boks yang nekat melintas.
"Mobil boks bermuatan kerupuk dari arah Kampung Purnamatungga itu nekat melintasi jembatan padahal kondisinya memprihatinkan," ujarnya.
"Akibatnya salah satu tali baja central putus, membuat jembatan terpelintir, mobil boks yang ada di atas jembatan jatuh ke sungai terseret derasnya arus sungai sekitar 150 meter, dan tertahan di rerumpunan bambu," kata dia.
Karena usianya yang sudah tua, jembatan Way Pengubuan biasanya khusus diperuntukkan bagi pejalan kaki dan kendaraan sepeda motor.
Samsuri mengatakan, jembatan tersebut menjadi jalur utama akses anak sekolah, pedagang, petani, dan pekerja di wilayah tersebut.
Kampung yang terdampak terhambatnya mobilitas akibat insiden di jembatan tersebut diantaranya Tanjung Ratu, Purnama Tunggal, Muji Rahayu, Gayau Saksi, Slusuban.
Dia berharap pemerintah segera melakukan penanggulangan untuk memulihkan akses warga setenpat, terutama untuk anak sekolah.
"Jembatan ini sangat vital, karena satu-satunya akses anak sekolah dari TK, SD, SMP dan SLTA melintas jembatan ini. Pekerja perusahaan juga lewat disini," tukasnya.
"Mohon segera dibangun, kasihan anak-anak sekolah. Jembatan ini satu-satunya akses ke sekolah, kalau harus muter jauh banget," tutupnya.
(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/Fajar Ihwani Sidiq)