TRIBUNJATENG.COM - Peristiwa tendangan kungfu pemain PSIR Rembang ke pemain Persikaba Blora mengingatkan kembali dengan peristiwa serupa beberapa pekan lalu.
Belum genap satu bulan Komite Disiplin (Komdis) PSSI Jawa Timur menjatuhkan sanksi larangan seumur hidup kepada Hilmi Gimnastiar pemain dari Putra Jaya Pasuruan.
Kala itu Hilmi juga melakukan tendangan Kungfu ke pemain Perseta Tulung Agung juga di kompetisi Liga 4.
Hukuman itu ditetapkan pada 6 Januari 2026.
Baca juga: Nasib Muhammad Hilmi Pemain Liga 4 Viral Tendang Dada Lawan, Dipecat Klub, Karir Hancur
Baca juga: Nasib Kiper PSIR Raihan Usai Menendang Pemain Persikaba, Tak Cuma Karir Terhenti di Usia 20 Tahun
Kini Kamis 22 Januari 2026 giliran Komdis PSSI Jateng yang mengeluarkan hukuman serupa untuk pemain PSIR Raihan Ably.
Persamaannya baik Raihan dan Hilmi sama-sama pemain kelahiran 2005 yang masih berusia 20 tahun.
Sangat disayangkan memang karena karir mereka seharusnya masih panjang namun harus terhenti karena tindakan kekerasan di lapangan sepak bola.
Kronologi Tendangan Kungfu Pemain PSIR
Insiden mengerikan mewarnai lanjutan gelaran Liga 4 Jawa Tengah saat PSIR Rembang berhadapan dengan Persikaba Blora Rabu (21/1/2026).
Laga yang berlangsung sengit tersebut harus diwarnai peristiwa benturan keras yang membuat salah satu pemain Persikaba, Dimas Rizal, harus mendapatkan perawatan intensif.
Peristiwa tersebut terjadi di tengah pertandingan ketika PSIR Rembang mendapatkan situasi tendangan bebas.
Dalam upaya perebutan bola di area pertahanan, kiper PSIR Rembang terlihat melepaskan sebuah tendangan tinggi bergaya kungfu yang justru mengenai tubuh Dimas Rizal.
Kontak keras dan berbahaya itu langsung membuat pemain Persikaba Blora terjatuh dan terkapar di atas rumput.
Dimas Rizal tampak mengerang kesakitan dan tidak mampu bangkit dalam waktu cukup lama.
Situasi tersebut sontak memicu kepanikan di antara para pemain, ofisial tim, hingga penonton di stadion.
Suasana pertandingan yang sebelumnya berlangsung kompetitif berubah menjadi tegang.
Melihat kondisi tersebut, tim medis segera memasuki lapangan untuk memberikan pertolongan pertama.
Setelah dilakukan pemeriksaan awal, Dimas Rizal dinilai membutuhkan penanganan lanjutan.
Ia kemudian ditandu keluar lapangan dan langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk menjalani pemeriksaan lebih mendalam.
Berdasarkan informasi yang diterima, pemain Persikaba Blora tersebut menjalani pemeriksaan rontgen guna memastikan tidak adanya cedera serius, khususnya pada bagian tulang.
Hingga saat ini, kondisi Dimas Rizal masih dalam perawatan medis dan terus dipantau oleh tim dokter.
Namun sayangnya, hal itu bahkan tidak dianggap pelanggaran oleh wasit.
Sejumlah pemain Persikaba Blora terlihat terpukul dengan insiden tersebut.
Mereka menilai benturan yang terjadi sangat berisiko dan berbahaya, bahkan berpotensi mengancam keselamatan serta karier seorang pesepak bola apabila tidak segera ditangani dengan baik.
Meski pertandingan akhirnya kembali dilanjutkan, perhatian banyak pihak masih tertuju pada kondisi Dimas Rizal yang harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Insiden ini pun menjadi sorotan besar di Liga 4 Jawa Tengah, sekaligus memunculkan desakan kepada perangkat pertandingan dan otoritas liga agar lebih tegas dalam menegakkan aturan, menjaga fair play, serta memastikan keselamatan seluruh pemain di lapangan.
Keselamatan pemain kembali menjadi isu utama, menyusul kejadian yang dinilai dapat membahayakan nyawa.
Banyak pihak berharap evaluasi serius dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang di kompetisi sepak bola Tanah Air, khususnya di level Liga 4.
Pertandingan itu berakhir dengan skor 0-0. Persikaba bahkan harus bermain dengan 10 pemain setelah mendapat kartu merah di menit 30.
Sanksi Komdis PSSI Jateng
Komite Disiplin (Komdis) PSSI Jawa Tengah melaksanakan sidang pada Rabu malam (21/1) berkaitan dengan insiden dalam laga PSIR Rembang melawan Persikaba Blora di Stadion Krida, Kabupaten Rembang.
Komdis PSSI Jawa Tengah mengeluarkan Surat Putusan No 52/KD.L4/PSSI.JTG/I/2026 untuk pertandingan terakhir babak penyisihan Liga 4 Jateng 2025/2026 tersebut.
Untuk Jenis pelanggaran Tingkah Laku Buruk penjaga gawang PSIR Rembang atas nama Raihan Ably Valent Ramdan Alfariq yakni melakukan Tindakan kekerasan (Violent Conduct), dengan sengaja mengangkat kakinya secara berlebihan sehingga mencederai Rizal Dimas Avesta pemain Persikaba Blora. Tindakan tersebut dinilai dapat mengancam keselamatan pemain.
Sementara itu untuk sanksi yang diberikan bagi Perangkat Pertandingan berdasarkan memo internal yang dikeluarkan oleh Komite Disiplin kepada Komite Wasit PSSI Jawa Tengah adalah memberikan rekomendasi untuk mendapatkan pembinaan kembali kepada Wasit yang dinilai under perform saat memimpin pertandingan tersebut, melalui hukuman tidak ditugaskan lagi pada kompetisi dan pertandingan lainnya dibawah lingkup PSSI dalam kurun waktu 1 (satu) tahun.
Samuel Evan Haryono menjelaskan bahwa keputusan tersebut telah sesuai dengan ketentuan yang mendasari pelaksanaan Kompetisi Liga 4 Jawa Tengah.
“Hal tersebut tertuang dalam Kode Disiplin PSSI 2025 tentang pelanggaran berat dan kekerasan serta tingkah laku buruk terhadap pemain lawan” ujar Ketua Komdis PSSI Jawa Tengah.
Samuel Evan juga mengatakan bahwa langkah tegas ini diharapkan mampu menyadarkan semua pelaku kompetisi di Liga 4 Jateng.
“Langkah tegas yang ditempuh Komdis Asprov PSSI Jateng untuk menciptakan sepakbola yang aman, nyaman dan fair play. Semoga keputusan ini menjadi pengingat dan pembelajaran bagi kita semua, agar Liga 4 Jawa Tengah berjalan baik berdasarkan ketentuan yang mengaturnya” pungkas Evan.
Sementara itu, Ketua PSSI Jateng Yoyok Sukawi menyayangkan kejadian tersebut.
“Saya dan seluruh jajaran PSSI Jateng menyayangkan kejadian tersebut, semalam pasca kejadian langsung saya perintahkan agar dilakukan rapat Komite Disiplin dan Komite Wasit untuk segera mengambil langkah tegas berupa sanksi bagi pelaku dan wasit yang memimpin kurang tegas. Saya dukung Komite Disiplin dan Komite Wasit untuk menghukum berat. Semoga hukuman tersebut dapat membuat efek jera bagi yang bersangkutan dan menjadi pengingat bagi seluruh insan sepakbola Jawa Tengah untuk tidak melakukan tindakan-tindakan yang mencederai nilai fairplay” kata Yoyok Sukawi.
Di bagian lain, Raihan Alfariq melalui akun instagram official PSIR Rembang.
"Insiden yang terjadi murni reflek saya dan tidak ada niat menciderai," kata Raihan, dikutip dalam video permintaan maaf tersebut.
Tanggapan Kiper Senior
Sementara itu, menanggapi kasus tersebut, mantan penjaga gawang PSIS Semarang, Joko Ribowo mengatakan ada unsur kelalaian sebagai penjaga gawang yang dilakukan Raihan di lapangan.
"Masih muda masih banyak Bimbingan dan atas kejadian itu bisa belajar. Unsur kesengajaan mungkin tidak ada, tapi karena terlalu berani jadi sedikit melupakan aspek tugas seorang penjaga gawang," ungkap Joko Ribowo.
Jokri sapaannya mengaku prihatin atas hukuman larangan bermain seumur hidup yang harus diterima Raihan. Ia berharap, jika memang bisa dilakukan banding, Raihan bisa mengajukan mengingat pemain asal Surabaya kelahiran 17 Oktober 2005 itu masih muda dan punya jenjang karir yang masih panjang.
"Cukup prihatin atas sanksi itu. Anaknya mungkin masih bisa dibina, tapi Yo piye maneh, ini sudah menjadi keputusan dari komisi disiplin PSSI Jateng. Semoga menjadi pelajaran bagi pemain-pemain yang lain karena sepak bola selalu menjunjung nilai menghormati lawan," kata dia. (*)