TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Angkot konvensional mati suri. Keberadaan angkutan kota (angkot) konvensional di Kota Jambi semakin terpinggirkan.
Meski masih dapat ditemui di sejumlah ruas jalan, jumlah angkot yang beroperasi terus menurun dan kini hanya tersisa di beberapa jalur lama.
Para sopir angkot mengakui bahwa armada yang masih aktif jauh lebih sedikit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Tidak seperti dulu, sekarang cuma beberapa saja,” ujar seorang sopir angkot merah rute Pal Merah Lama yang meminta identitasnya tidak disebutkan, Kamis (22/1/2026).
Dulu angkot jadi "raja terminal". Armada mereka yang paling banyak dan menguasai rute-rute jarak dekat.
Ongkos yang murah hingga tersedianya musik menjadi pilihan penumpang untuk naik angkot.
Namun, kini penumpang angkot makin hari makin sepi.
Memang masih ada, tapi tak seperti masa jayanya.
Ia mengungkapkan, minimnya jumlah penumpang menjadi persoalan utama.
Bahkan, untuk memperoleh satu penumpang saja, ia harus menunggu cukup lama di terminal.
“Sekarang satu jam ngetem di terminal belum tentu dapat penumpang. Kalau dulu cepat sekali,” katanya.
Banyak faktor yang membuat eksistensi angkot sebagai angkutan umum yang beroperasi di Kota Jambi, kian tergerus.
Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya kepemilikan kendaraan pribadi, terutama sepeda motor.
Selain itu, kehadiran layanan transportasi daring seperti ojek online (ojol) maupun taksi online juga turut menggerus minat masyarakat menggunakan angkot konvensional.
Pantauan TribunJambi.com di Terminal Rawasari tadi siang menunjukkan hanya beberapa unit angkot yang masih beroperasi.
Angkot tersebut mayoritas berwarna merah dengan trayek Pal Merah Lama.
Sementara itu, angkot berwarna kuning dengan tujuan Simpang Kawat dan Pudak, hijau jurusan Jelutung, serta biru jurusan Telanaipura, sudah tidak lagi terlihat.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Jambi, Amran, tidak menampik kondisi tersebut.
Ia menilai angkot konvensional saat ini berada pada fase “mati suri”, seiring pesatnya pertumbuhan transportasi pribadi dan transportasi berbasis aplikasi.
“Perkembangannya sangat cepat, masyarakat sekarang lebih banyak pakai kendaraan pribadi dan ojek online,” ujarnya.
Sebagai upaya memenuhi kebutuhan transportasi publik, Pemerintah Kota Jambi menghadirkan angkot listrik dan Bus Listrik Trans Bahagia sebagai alternatif angkutan massal yang ramah lingkungan.
Amran menegaskan, jalur yang dilalui moda transportasi listrik tersebut tidak bersinggungan dengan rute angkot konvensional.
“Rutenya Rawasari–Simpang Rimbo dan Rawasari–Pal 10,” pungkasnya.
Angkot Listrik Masih Gratis
Hingga saat ini, layanan angkot listrik dan Bus Listrik Trans Bahagia di Kota Jambi masih dapat digunakan masyarakat tanpa dipungut biaya.
Amran menyebutkan, operasional kedua moda transportasi tersebut masih sepenuhnya disubsidi oleh pemerintah daerah.
“Sama seperti tahun lalu, masih kita subsidi,” kata Amran, Kamis (22/1).
Meski demikian, ia memastikan bahwa ke depan layanan tersebut akan dikenakan tarif.
Saat ini, pemerintah masih membahas mekanisme penetapan tarif yang akan diberlakukan.
“Nanti pasti akan ada tarif, sekarang masih kita bicarakan mekanismenya,” ujarnya.
(Tribunjambi.com/M Yon Rinaldi)
Baca juga: Hasil Semifinal Gubernur Cup 2026 Merangin vs Tanjab Barat Hari Ini
Baca juga: Pria yang Renggut Nyawa Anggota Polres Muaro Jambi Dihukum 13 Tahun Penjara
Baca juga: Daftar 84 Pejabat Eselon II hingga IV Pemprov Jambi Dilantik di Rumah Dinas