Kondisi tersebut terjadi seiring terhentinya distribusi batubara akibat pembatasan operasional truk pengangkut di wilayah Sumatera Selatan
PROHABA.CO, JAKARTA – Ancaman pemadaman listrik di Sumatra kembali dikhawatirkan terjadi setelah stok batubara di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Bengkulu dilaporkan menipis.
Risiko gangguan pasokan listrik yang bakal terjadi bila tidak diatasi diungkapkan pihak PT PLN (Persero).
PLN menyebutkan pasokan batubara yang tersisa saat ini hanya cukup untuk sekitar tiga hari operasional pembangkit.
Kondisi tersebut terjadi seiring terhentinya distribusi batubara akibat pembatasan operasional truk pengangkut di wilayah Sumatera Selatan.
PLN pun meminta agar akses angkutan batubara kembali dibuka demi menjaga keandalan sistem kelistrikan di Sumatra bagian selatan.
Direktur Manajemen Pembangkitan PT PLN (Persero) Rizal Calvary Marimbo mengatakan, gangguan distribusi ini berdampak langsung pada rantai pasok energi primer pembangkit.
PLTU Bengkulu, kata dia, memiliki peran strategis dalam menopang pasokan listrik regional.
Baca juga: Surplus Perdagangan Aceh Capai Rp 565 Miliar, Batubara Jadi Primadona Ekspor
Baca juga: MPG Terus Berupaya Pastikan Pasokan Batubara untuk PLTU 3 & 4 Nagan Raya
“Saat ini PLTU tidak mendapatkan pasokan batu bara karena adanya desakan dari pemerintah provinsi. Stok yang tersedia sangat terbatas dan hanya cukup untuk tiga hari ke depan,” ujar Rizal, melalui keterangannya ke Kompas.com, Kamis (22/1/2026).
Pasokan tersendat, risiko pemadaman meluas
Rizal menjelaskan, PLTU Bengkulu merupakan bagian penting dari sistem kelistrikan Sumatera, khususnya Sumatera bagian selatan.
Jika pasokan batubara tidak segera pulih, kapasitas pembangkit berpotensi menurun dan mengganggu keandalan pasokan listrik.
“Apabila distribusi batu bara tidak segera kembali normal, maka potensi pemadaman listrik tidak hanya terjadi di Bengkulu, tetapi dapat meluas ke beberapa wilayah di Sumatera Selatan, bahkan hingga Jambi,” kata Rizal.
Sebelumnya, distribusi batubara ke PLTU Bengkulu terhambat akibat pembatasan operasional sekitar 150 truk pengangkut.
Pembatasan ini berkaitan dengan aspirasi pemerintah daerah dan masyarakat terkait dampak lalu lintas serta aktivitas angkutan batubara terhadap lingkungan dan kondisi sosial setempat.
Baca juga: 20 Gardu Induk Kembali Beroperasi, PLN Pastikan Listrik Aceh Normal Lagi
Baca juga: Aksi Pencurian Kabel Trafo PLN di Langsa Baro, Sekitar 30 Rumah Padam
Di sisi lain, batu ara masih menjadi sumber energi utama PLTU yang menyuplai listrik bagi jutaan pelanggan di Sumatera.
Terhentinya pasokan secara mendadak membuat stok di pembangkit menipis dan menempatkan sistem kelistrikan dalam kondisi siaga.
“Saya meminta dengan hormat kepada Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru membuka jalan agar truk-truk batu bara segera memenuhi kebutuhan pasokan batu bara di PLTU Bengkulu,” ujar Rizal.
PLN menegaskan, keberlanjutan pasokan listrik merupakan kepentingan strategis nasional.
Listrik tidak hanya menjadi kebutuhan dasar masyarakat, tetapi juga penopang utama aktivitas ekonomi, pelayanan publik, dan kegiatan industri di daerah.
Meski demikian, PLN menyatakan memahami perhatian pemerintah daerah terhadap dampak sosial dan lingkungan dari aktivitas angkutan batu bara.
Perusahaan berharap solusi yang diambil dapat mengakomodasi kepentingan daerah tanpa mengorbankan keandalan pasokan listrik.
Baca juga: Dukung Pemulihan Listrik Aceh, Direksi PLN Pusat Kunjungi PLTU Nagan Raya 3-4
“Kami berharap ada ruang dialog dan solusi bersama. Jika suplai batu bara terhenti terlalu lama, pemadaman listrik menjadi tidak terhindarkan dan ini akan berdampak langsung pada masyarakat,” ujar Rizal.
Saat ini, PLN terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan terkait agar distribusi batu bara ke PLTU Bengkulu dapat kembali berjalan normal dan risiko gangguan listrik di Sumatera bisa diminimalkan.(*)
Sumber: https://money.kompas.com/read/2026/01/22/142537926/stok-batu-bara-menipis-ancaman-listrik-padam-bayangi-sumatera