Indonesia saat ini menawarkan pertumbuhan (ekonomi) berkelanjutan dengan stabilitas
Jakarta (ANTARA) - Presiden RI Prabowo Subianto mengungkapkan alasan dirinya memilih untuk tidak menghadiri undangan sebagai salah satu pembicara kunci pada World Economic Forum (WEF) 2025, yakni karena baru dua bulan menjabat sebagai Presiden.
Dalam sambutannya di hadapan pemimpin negara pada World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, Kamis, Prabowo mengaku bahwa dalam pemerintahan yang baru dua bulan berjalan, tentu saja tidak banyak pencapaian yang bisa dijelaskan.
"Saya diundang untuk berbicara tahun lalu di sini dan saya menolak. Mengapa? Karena jika saya datang tahun lalu, saya baru memimpin pemerintahan saya selama dua bulan. Jadi apa yang bisa saya katakan? Saya hanya akan bisa berbicara, memberikan kata-kata manis," kata Prabowo dalam sambutannya yang disaksikan langsung melalui akun YouTube Sekretariat Presiden dari Jakarta, Kamis malam.
Namun berbeda pada tahun ini, Prabowo mengaku dapat hadir di mimbar WEF 2026 dengan penuh percaya diri dan bangga atas pencapaian yang dilakukan bersama Kabinet Merah Putih yang dipimpinnya.
Dalam satu tahun pertama sejak dilantik Oktober 2024, Prabowo mengaku telah mencapai kemajuan dan perubahan yang luar biasa, terutama dalam lingkup penyederhanaan birokrasi atau peraturan.
"Dalam satu tahun, kita telah mencapai kemajuan yang luar biasa, reformasi yang luar biasa. Kita telah menghapus ratusan peraturan yang tidak masuk akal, peraturan yang menghambat keadilan, yang menciptakan budaya korupsi. Ratusan peraturan telah kita hapus dalam satu tahun," kata Prabowo.
Dalam sambutannya, Presiden menegaskan bahwa negara harus memiliki administrasi publik yang efisien.
Kepala Negara menilai perlunya budaya baru yang diterapkan dalam birokrasi, seperti pemerintah yang harus melayani kepentingan umum, serta tidak bersekongkol dengan para pengusaha yang serakah dan rakus.
Di hadapan para pimpinan negara, Prabowo pun menawarkan Indonesia yang selalu terbuka untuk investasi, baik dalam maupun luar negeri. Presiden menyadari bahwa prasyarat dalam sebuah investasi adalah stabilitas politik dan ekonomi.
"Juga, kepastian penegakan hukum yang adil, yang dijamin oleh pemerintahan yang kuat, bersih, dan demokratis. Indonesia saat ini menawarkan pertumbuhan (ekonomi) berkelanjutan dengan stabilitas. Kita mungkin sangat sederhana, kita mungkin berada di bawah radar, kita tidak suka bersikap mencolok, untuk membual. Namun kita percaya pada bukti," kata Prabowo.







