Hujan dan Banjir Bayangi Jakarta Sepanjang Januari
kumparanNEWS January 23, 2026 04:57 AM
Sejak Kamis (22/1) pagi pada jam berangkat kerja/sekolah, hujan lebat mengguyur DKI Jakarta. BMKG mengkategorikan hujan di Ibu Kota masuk level Awas, yaitu sangat lebat-ekstrem.
Status peringatan dini untuk semua wilayah DKI Jakarta ini naik level, dari sebelumnya sebagian wilayah di level Waspada dan sebagian di level Siaga.
Menurut BMKG, pelevelan dalam peringatan dini cuaca ini menunjukkan nilai akumulasi hujan harian paling tinggi dalam satu kota atau kabupaten.
Prakiraan Cuaca Jakarta
Perbesar
Prakiraan cuaca Jabodetabek untuk Jumat 23/1/2026 Foto: Dok. BMKG
BMKG juga telah melansir prakiraan hujan Jakarta untuk Jumat (23/1). Diprakirakan hujan Jakarta seperti hari ini, yaitu berada pada level AWAS.
Level AWAS yang berarti hujan sangat lebat hingga ekstrem berpotensi melanda Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Tangerang [semuanya di Provinsi Banten], Jakarta Utara, Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Timur, dan Jakarta Selatan [Provinsi DKI Jakarta].
Sedangkan Kabupaten Bekasi, Kota Bekasi, Kabupaten Bogor, Kota Bogor, dan Kota Depok [Provinsi Jabar] berstatus SIAGA, yaitu hujan lebat hingga sangat lebat.
Kata Istana soal Banjir
Perbesar
Kondisi banjir di Jalan DI Panjaitan, sekitar Stasiun Whoosh, Kamis (22/1/2026). Foto: KCIC
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi, mengungkapkan penyebab banjir di Jakarta, tak hanya soal faktor cuaca. Perubahan tata ruang juga menjadi salah satu penyebabnya.
"Faktor cuaca, tingginya curah hujan di bulan basah akhir Januari ini memang cukup tinggi. Tetapi kita tentu menyadari bahwa ini tidak sekadar faktor cuaca. Bagaimana perubahan tata ruang juga di situ berpengaruh, bagaimana pendangkalan-pendangkalan aliran daerah-daerah aliran sungai itu juga berpengaruh," ujar Prasetyo kepada wartawan, Kamis (22/1).
Prasetyo bilang, pada era 70-an, ada lebih dari 1.000 setu yang terdapat di kawasan Jabodetabek. Setu ini berfungsi untuk menyerap air. Namun saat ini, menurut dia, jumlah setu yang ada berkurang drastis.
"Data mengatakan bahwa wilayah Jabodetabek ini dulunya memiliki kurang lebih 1.000 situ atau danau atau telaga yang itu menjadi reservoir-reservoir daerah tangkapan air. Nah, menurut data terakhir, hari ini kurang lebih hanya tinggal tersisa 200 setu," ungkap dia.
Karenanya, Presiden Prabowo Subianto turut menyoroti masalah ini. Menurut Prasetyo, Prabowo ingin persoalan banjir ini diselesaikan dari hulu ke hilir.
Intensitas Hujan di Sebagian Indonesia Meningkat Jelang Akhir Januari
Perbesar
Seorang warga menggunakan payung saat hujan deras di Jakarta, Sabtu (15/11/2025). Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO
Tak hanya di Ibu Kota, BMKG juga mengimbau masyarakat di provinsi lain untuk memperkuat kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang meluas di sejumlah wilayah Indonesia lainnya.
BMKG mengungkapkan, berdasarkan analisis dinamika atmosfer terbaru, wilayah yang mencakup Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara diprakirakan mengalami peningkatan intensitas hujan menjelang akhir bulan ini.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa gangguan atmosfer yang terpantau saat ini memicu pertumbuhan awan konvektif secara signifikan. Kondisi ini dapat memicu potensi banjir, tanah longsor, dan gangguan pada sektor transportasi di wilayah terdampak.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun tetap meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem menjelang akhir Januari ini," kata Faisal seperti dikutip dari website BMKG, Kamis (22/1).
"Dinamika atmosfer saat ini memang menunjukkan adanya peningkatan pertumbuhan awan hujan di wilayah selatan Indonesia, namun dengan kesiapsiagaan yang baik dan terus memantau informasi resmi dari BMKG, kita dapat meminimalisir risiko bencana,” bebernya.
Bibit Siklon hingga Monsun Asia
Perbesar
Bibit Siklon Tropis 22 Januari 2026 mempenaruhi cuaca Indonesia Foto: Dok. BMKG
Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani menjelaskan terdapat sejumlah faktor teknis yang memengaruhi kondisi cuaca sepekan ke depan, antara lain bibit siklon tropis (bibit badai).
Di sisi lain, Monsun Asia menguat hingga 23 Januari 2026 yang disertai dengan seruakan dingin (cold surge) yang signifikan dari wilayah daratan Asia. Fenomena ini meningkatkan kecepatan angin di Laut China Selatan dan memicu pertumbuhan awan hujan secara masif di wilayah selatan khatulistiwa.
"Secara bersamaan, aktifnya Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Equator, dan Kelvin, yang didukung nilai OLR negatif, memperkuat pembentukan awan Cumulonimbus di atmosfer," jelas Andri.
Andri menjelaskan, kondisi tersebut berpadu dengan kelembapan udara yang tinggi pada lapisan bawah hingga menengah atmosfer. Labilitas atmosfer yang kuat ini mendukung penuh proses konvektif skala lokal di wilayah Indonesia bagian selatan.
Daerah yang Berpotensi Dilanda Cuaca Ekstrem
Perbesar
Seorang warga melihat awan tebal yang menyelimuti wilayah Senayan, Jakarta, Sabtu (15/11/2025). Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO
Andri mengungkapkan, hasil analisis dinamika atmosfer menunjukkan bahwa potensi hujan lebat disertai kilat dan angin kencang akan melanda sebagian besar wilayah Indonesia secara bergantian menjelang akhir Januari 2026.
Potensi serupa berlanjut pada 23 Januari di wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, serta NTT.
Selanjutnya, intensitas cuaca ekstrem berpotensi di Jawa Tengah dan Jawa Timur pada 24 Januari. BMKG memprakirakan wilayah Bali, NTB, dan NTT akan mengalami peningkatan curah hujan pada periode 25–26 Januari.
“Dinamika cuaca ini menuntut kewaspadaan tinggi dari masyarakat di provinsi-provinsi tersebut guna mengantisipasi dampak bencana hidrometeorologi yang mungkin timbul,” kata Andri.