Respons Masalah Banjir di Bekasi, Dedi Mulyadi Senggol Developer Perumahan untuk Turun Tangan
January 23, 2026 11:28 AM

TRIBUNJABAR.ID - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi akhirnya angkat bicara memberikan respons soal bencana banjir di Bekasi.

Mendapat laporan dari warganya yang terdampak banjir itu, Dedi Mulyadi menyenggol para developer perumahan untuk turun tangan.

Hal itu disampaikan Dedi Mulyadi saat merespons video warga perumahan di Bekasi yang mengalami kebanjiran.

Warga tersebut memperlihatkan suasana banjir setinggi lutut di tempat tinggalnya.

Ia mengeluh karena Dedi Mulyadi hanya menyoroti masalah perumahan baru yang dianggap menimbulkan banjir.

Baca juga: Dedi Mulyadi Ambil Sikap Tegas, Sentil Aparat hingga Warga di Subang yang Biarkan Tambang Ilegal

Sementara dirinya yang juga tinggal di perumahan sudah lama seolah tak diperhatikan. 

“Nih KDM lihat rumah gue kebanjiran lagi, Harapan Indah, lu mikirinnya perumahan yang baru-baru, yang lama-lama kagak lu utusin, lu lihat tuh begini,” ujarnya kesal mengadu ke Gubernur Jawa Barat yang akrab disapa KDM tersebut.

Lalu, warga Bekasi itu menceritakan keponakannya meninggal saat banjir  sampai diangkut mobil rescue hingga Tim SAR.

Ia juga menyebut bahwa banjir di perumahannya di Harapan Indah Bekasi itu terjadi 2 kali dalam seminggu.

Karena hal itu, warga Bekasi itu meminta tolong kepada Dedi Mulyadi untuk mengatasi banjir tersebut karena selama ini pihak warga sulit menghubungi developer perumahannya.

Kini, video keluhan warga perumahan Harapan Indah Kota Bekasi itu direspons Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

Dedi menjelaskan bahwa saat ini pihaknya gencar melakukan penghentian pembangunan perumahan di daerah-daerah rawan.

Ia mengatakan bahwa kebijakan tersebut sebagian bagian dari cara dan upaya pemerintah untuk menyelesaikan seluruh carut marut tata ruang pembangunan di Jawa Barat.

Terkait banjir di Bekasi, Dedi Mulyadi mengatakan bahwa pihaknya pun sudah tahu permasalahan banjir di kawasan yang dikeluhkan warga tersebut.

Dedi menyebut bahwa banjir yang kerap melanda Bekasi lebih banyak dialami perumahan-perumahan yang dulunya menjanjikan kawasan bebas banjir.

“Kita tahu banjir yang melanda Bekasi paling banyak dialami oleh perumahan-perumahan yang dulu menjanjikan sebagai kawasan bebas banjir,” ungkap Dedi Mulyadi, dikutip dari video di Instagram-nya, Jumat (23/1/2026).

Ia pun prihatin, saat terjadi banjir, para developer perumahan yang mengumbar janji tersebut justru tak peduli dan tak turun ke lapangan, setidaknya untuk menemui warga sebagai konsumennya.

Baca juga: Jabar Puncaki Angka PHK Nasional, Dedi Mulyadi Soroti Mutu Angkatan Kerja

Dedi mengatakan pihak developer perumahan justru lebih sibuk untuk mengajukan izin baru pembangunan.

Untuk menyelesaikan masalah tersebut, Dedi Mulyadi mengajak para developer perumahan itu untuk turun tangan.

“Untuk itu saya mengajak para pengembang perumahan di seluruh provinsi Jawa Barat yang hari ini perumahannya dilanda banjir sebaiknya turun, temui warga,” imbuhnya.

Ia juga meminta agar para developer itu sama-sama mencari solusi dengan pemerintah.

Dedi menyebut permasalahan perumahan selama ini segala sesuatunya selalu dibebankan kepada pemerintah.

“Jangan segala sesuatu dibebankan ke pemerintah, karena bagaimana pun saat pembangunan pasi dulu mendapatkan keuntungan,” tandasnya.

Lebih lanjut, Dedi Mulyadi meminta maaf kepada warga Jawa Barat jika layanan pemerintahannya belum memuaskan semua pihak.

Banjir di Bekasi

Sebelumnya, banjir juga melanda di wilayah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Banjir tersebut selalu melanda setiap musim hujan tiba.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi turun tangan dengan memberikan solusi bakal menyiapkan sodetan dan penataan ulang tata ruang dalam mengatasi banjir.

Banjir yang melanda sejumlah kecamatan di Kabupaten Bekasi kembali menegaskan persoalan klasik yang terjadi hampir setiap tahun ketika musim penghujan tiba.

Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Bekasi, Asep Surya Atmaja menilai banjir bukan kejadian baru, melainkan banjir langganan yang dipicu oleh persoalan tata ruang dan sistem aliran air yang belum tertangani secara optimal.

“Artinya ada perencanaan tata ruang yang harus kita benahi. Banjir ini tidak bisa terus dibiarkan, harus ada solusi konkret,” ujar Asep Surya Atmaja di Cikarang pada Jumat (23/1/2026), dikutip dari TribunBekasi.com.

Salah satu penyebab utama banjir disebut berasal dari meluapnya Kali Cikarang Bekasi Laut (CBL).

Saat debit air Kali CBL meningkat, aliran sungai-sungai kecil di sekitarnya tidak mampu menampung arus sehingga terjadi antrean air. Kondisi tersebut diperparah oleh saluran air yang tidak lancar.

"Ada juga luapan Sungai Citarum dan anak-anak sungai lainnya," katanya.

Menurutnya, solusi kedepannya perlu ada pembangunan sodetan untuk mengalihkan aliran air tidak numpuk di satu titik. Selain itu juga perlu normalisasi sungai hingga perbaikan tanggul.

"Maka ini perlu komunikasi dengan pak gubernur dan pemerintah pusat," katanya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.