WARTAKOTALIVE.COM, MATRAMAN -- Dentuman keras yang memecah keheningan subuh itu masih terngiang jelas di ingatan Nurmayati (53).
Atap rumah tua yang telah puluhan tahun ia tempati mendadak runtuh, menimpa dirinya dan sang anak, Reyhan, Kamis (22/1/2026) dini hari.
Rumah sederhana milik Nurmayati di Jalan Pisangan Baru 2 RT 04/07, Kelurahan Pisangan Baru, Kecamatan Matraman, Jakarta Timur, berdiri di gang sempit.
Baca juga: Atap Rumah Warga di Matraman Jakarta Timur Roboh, Satu Orang Terluka hingga Dirawat di Puskesmas
Bangunannya non permanen, terbuat dari kayu, termasuk bagian atap yang kini hanya tersisa rangka lapuk.
Sejak kejadian itu, terpal menjadi satu-satunya pelindung dari hujan.
Pagi itu, sekitar pukul 05.00 WIB, Nurmayati terbangun untuk melaksanakan salat Subuh, kebiasaan yang telah ia jalani sejak muda.
Saat kakinya menapak lantai, ia terkejut mendapati air hujan telah menggenang di dalam rumah.
Ia bergegas menyiapkan wadah penampung air.
Namun, sebelum sempat diletakkan, suara keras terdengar.
Atap rumah tiba-tiba ambruk.
Kayu-kayu runtuh menghantam tubuhnya dan menimbun Reyhan yang berada tepat di belakangnya.
“Saya enggak nyangka sama sekali. Baru mau tadahin air, tiba-tiba bruk,” ujar Nurmayati lirih, Jumat (23/1/2026).
Dalam kepanikan, ia berteriak meminta pertolongan.
Reyhan yang saat itu sedang sakit hanya terdiam, tak mampu berteriak saat tertimpa reruntuhan.
Adik Nurmayati segera mematikan aliran listrik sebelum membantu mengevakuasi ibu dan anak tersebut dari puing-puing kayu.
Reyhan mengalami luka di bagian pelipis dan langsung dilarikan ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan perawatan medis.
Setelah itu, ia terpaksa mengungsi ke rumah kerabat yang tak jauh dari lokasi kejadian.
Baca juga: Diterjang Hujan Deras dan Angin Kencang, Atap Rumah Warga di Bekasi Terbang
Rumah yang ambruk itu merupakan warisan orang tua Nurmayati dan telah ditempati keluarga mereka selama lebih dari setengah abad.
Bangunan tersebut jarang tersentuh renovasi besar, kecuali penggantian lantai tanah menjadi keramik beberapa tahun lalu.
“Bangunan ini sudah sangat tua. Ibu saya saja sekarang usianya 86 tahun. Kami tinggal di sini dari dulu,” katanya.
Kini, Nurmayati hanya berharap adanya bantuan bedah rumah dari pemerintah agar ia dan anak-anaknya bisa kembali tidur dengan rasa aman, tanpa dihantui ketakutan atap runtuh di tengah malam.
Bagi Nurmayati, kejadian itu bukan sekadar musibah, melainkan peringatan pahit tentang rapuhnya tempat berlindung yang selama puluhan tahun ia sebut rumah.