- Iran diduga diperkuat dengan persenjataan China, merujuk pada pendaratan pesawat kargo Y-20 yang datang berturut-turut pada (22/1/2026).
Pendaratan pesawat China itu membuat Israel, Amerika Serikat (AS), dan negara-negara Teluk mulai meningkatkan kewaspadaan.
Mengutip Tribunnews pada (23/1), kabar ini dilaporkan oleh beberapa sumber utama sejak (22/1/2026) waktu setempat.
Lebih tepatnya dilaporkan bahwa setelah laporan pendaratan pesawat kargo militer China di Iran mencuat, Israel, AS, dan negara-negara Teluk meningkatkan kewaspadaan.
Sikap tegas Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang menegaskan bahwa setiap serangan dari Iran akan dibalas dengan kekuatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Itu diklaimnya, dipandang sebagai bentuk pencegahan strategis.
Peringatan tersebut tidak hanya diarahkan kepada Teheran, tetapi juga secara tersirat menyasar pihak luar yang berpotensi memperkuat kemampuan militer Iran.
Terkait laporan penerbangan kargo China, Israel menilai kemungkinan adanya dukungan logistik atau teknologi militer asing.
Menyebutnya, sebagai ancaman langsung terhadap ruang gerak operasional militernya khususnya dalam melancarkan serangan pencegahan.
Di sisi lain, Amerika Serikat dan negara-negara Teluk merespons isu ini dengan meningkatkan kewaspadaan.
Lebih tepatnya, melalui penyesuaian ulang postur keamanan regional, alih-alih mengeluarkan pernyataan konfrontatif.
Bagi Washington, setiap indikasi keterlibatan China dalam aktivitas logistik militer di Timur Tengah dipandang dapat mengganggu dominasi dan pengaruh strategis AS di kawasan.
Sementara itu, negara-negara Teluk menilai perkembangan ini sebagai potensi faktor destabilisasi baru yang dapat memperbesar risiko meluasnya konflik regional.
Baik melalui konfrontasi langsung maupun perang proksi.