Guru Agus yang Dikeroyok Siswa Dimutasi dan Wajib Tes Kejiwaan, Gubernur Jambi: Layak Ga jadi Guru
January 23, 2026 12:39 PM

 

BANGKAPOS.COM -- Agus Saputra, guru yang dikeroyok siswa di Jambi dimutasi.

Tak hanya dimutasi, Agus juga wajib menjalani tes kejiwaan terkait kelayakannya untuk tetap menjadi tenaga pendidik.

Kebijakan ini dilakukan oleh Gubernur Jambi, Al Haris, setelah melihat peristiwa guru dikeroyok siswa, beberapa waktu lalu.

Gubernur Al Haris menegaskan pemindahan oknum guru tersebut adalah harga mati untuk meredam konflik yang berlarut-larut.

"Yang pasti guru itu kita pindahkan dari situ. Enggak mungkin dia tetap di situ, mesti harus dipindah," tegas Al Haris mengutip unggahan akun @kabarjambiupdate.

Tak hanya mutasi, Gubernur memberikan instruksi khusus kepada Dinas Pendidikan untuk melakukan assessment kejiwaan. 

Baca juga: Sosok Widyarlina, Istri Kedua Capt Andy Dahananto Pilot Pesawat ATR 42-500, Berharap Ketemu Suami

Jika hasil pemeriksaan menunjukkan ketidaklayakan sebagai pendidik, maka AS akan kehilangan status fungsionalnya sebagai guru.

"Saya minta pemeriksaan kejiwaannya juga nanti. Apakah beliau masih layak seorang guru? Kalau misalnya tidak layak, ya kita pindahkan ke tempat jabatan bukan guru lagi (staf biasa)," pungkasnya.

Hina Orang Tua Murid, jadi Pemicu Agus Dikeroyok

Hina orang tua murid diduga jadi pemicu Agus Saputra dikeroyok.

Profesi ayah siswi yang diduga dihina oleh guru Agus Saputra di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi adalah seorang tukang kebun sekolah.

Diketahui Agus Saputra (38) merupakan guru mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris.

Baru-baru ini namanya jadi perbincangan hangat publik setelah dikeroyok oleh sejumlah pelajarnya padan 13 Januari 2026 lalu.

Berdasarkan keterangan sejumlah rekan kerja Agus, sebelum terjadinya pengeroyokan, ada beberapa peristiwa yang terjadi antara Agus dengan beberapa pelajarnya.

Seorang guru yang meminta tidak disebutkan identitasnya mengatakan, Agus sempat tersinggung ketika pintu kelas tertutup ketika ia hendak mengajar.

Teguran ini berujung pada desakan Agus kepada lima hingga tujuh muridnya untuk bikin pernyataan maaf.

"Pernyataan maaf ini cukup sulit, sebab para murid harus bikin video bersama orangtua serta menulis surat pernyataan maaf di atas materai," kata guru tersebut.

Tak lama setelah insiden pintu tertutup, beberapa guru melihat ada dua siswi menangis.

Satu dari siswi itu menangis karena Agus membawa-bawa pekerjaan ayah dari siswi tersebut.

Keesokan harinya, masih kata guru tersebut, ayah dari siswi yang menangis ini datang ke sekolah.

Rupanya, ia sehari-harinya kerja sebagai tukang kebun di sekolah tempat siswinya menimba ilmu.

Namun, oleh guru yang lain, ayah siswi itu tidak dipertemukan dengan Agus demi mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Siang hari, sejumlah murid menemui Agus untuk meminta keringanan soal permintaan maaf.

Namun, Agus malah membahas hal lain yang bikin para murid kecewa.

"Tak lama kemudian, terjadilah pengeroyokan yang viral itu," kata guru ini.

Menurut siswa insiial Jm, siswi yang menangis inisialnya Ag.

Sebelum ia menangis, Agus terlebih dahulu marah karena pintu kelas tertutup.

Agus lantas bertanya, siapa yang menutup pintu.

Baca juga: Inara Rusli Terancam 5 Tahun Penjara Nikah Tanpa Izin Istri Sah, Isbat Nikah jadi Bukti Perzinaan

"Saya jawab, Ag yang menutup pintu, tetapi saya yang menyuruh dia," kata Jm.

Jm mengungkapkan, Agus juga menyinggung latar belakang orangtua Ag yang bekerja sebagai petugas kebersihan sekolah sekaligus tukang kebun.

Bahkan, menurut Jm, pembicaraan sempat mengarah soal gaji orangtua dan dana komite sekolah.

"Ag diam saja di kelas. Setelah kami keluar, dia menangis di kantin," ujar Jm.

Esok harinya, Selasa, Jm menceritakan kejadian lain.

Saat belajar-mengajar berlangsung, ada siswa yang berteriak di dalam kelas. Guru Agus kebetulan melintas dan merasa tersinggung.

Dia lalu masuk ke kelas dan menanyakan siapa yang berteriak.

"Salah satu siswa langsung mengaku, lalu ditampar," ungkap Jm.

Siswa yang berteriak lalu mengaku dan ditampar itu berinisial MLF.

Berdasarkan keterangan MLF, saat kegiatan belajar mengajar hampir selesai, suasana di kelas ribut. Ia kemudian menegur teman-temannya agar diam. 

"Saya bilang, woi, diam. Tidak tahu kalau beliau lewat depan kelas," kata MLF dalam video wawancara yang diperoleh Tribun Jambi, Sabtu (17/1/2026).

Setelah penamparan tersebut, Jm menuturkan, sejumlah guru dan siswa berusaha menengahi agar tidak pecah keributan.

Namun, emosi sejumlah siswa disebut memuncak hingga terjadi kekerasan fisik. Videonya viral di media sosial. 

Saat kejadian kekerasan, Jm mengaku berada di lapangan dan tidak terlibat langsung.

Baca juga: Sosok Daisy Fajarina Ibu Manohara, Aibnya Dibongkar, Anak Ngaku Dijual hingga Dipukuli: Bukti Banyak

Agus dan Siswa Saling Lapor

Setelah guru Agus Saputra melaporkan kejadian viral pengeroyokan yang terjadi di lingkungan sekolahnya, kini siswa yang terlibat dan ada dalam video yang viral turut melapor ke Polda Jambi.

Siswa berinisial LF pada Senin (19/1/2026) malam datang ke Polda Jambi didampingi keluarga dan kuasa hukumnya.

Berdasarkan pantauan Tribunjambi.com, siswa dan kuasa hukumnya tiba di Polda Jambi sekitar pukul 20.50 WIB.

LF tampak mengenakan jaket dengan penutup kepala.

Ia lebih banyak diam dan tertunduk saat awak media mencoba mewawancarai.

Mereka langsung masuk ke ruang Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) untuk melakukan laporan kasus ini.

"Iya, kita akan laporan dulu," kata Kuasa Hukum, Dian Burlian.

Kini, baik guru maupun siswa yang terlibat sudah saling lapor ke aparat penegak hukum.

Sebelumnya, Agus Saputra Guru di SMK Negeri Tanjung Jabung Timur juga sudah melapor ke Polda Jambi pada Kamis (15/1/2026).

Agus didampingi kakaknya, datang ke Polda Jambi sekitar pukul empat sore dan melakukan pembuatan laporan polisi hampir empat jam.

Baca juga: Nasib Syifa jadi Tentara Amerika Serikat, Status WNI Terancam Hilang, DPR Singgung Pelanggaran UU

Kakak kandung Agus, Nasir mengatakan bahwa langkah hukum ini diambil karena adiknya merasa dirugikan terlebih secara mental setelah kasus ini viral di sosial media.

"Kondisi adik saya sedikit pusing, kita bikin laporan dari jam  empat sore.

"Adik saya dirugikan secara mental dan psikis terlebih di medsos. Karena kita warga negara kita berhak melapor," kata Nasir pada Kamis (15/1/2026) malam.

Ia mangatakan bahwa pasca kejadian Agus telah melakukan visum.

Di mana ada beberapa luka lebam di tubuhnya yang juga akan menjadi bukti untuk  pihak kepolisian.

"Sudah ada visum dan ada bekas lebam," ujarnya

Kabid Humas Polda Jambi, Kombes Pol Erlan Munaji sebelumnya menyebut, kasus ini sedang dalam penyelidikan kepolisian.

"Kita akan tindak lanjuti pelaporan tersebut, sesuai aturan yang berlaku," kata dia, Ahad (18/1/2026).

Erlan juga mengungkapkan bahwa pihaknya telah memberikan edukasi kepada pihak terkait.

(Bangkapos.com/TribunJambi.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.