BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Sejumlah nelayan Sungailiat yang tergabung dalam Kelompok Nelayan dan Pengusaha Ikan Sungailiat (KNPIS) menghadirkan inovasi baru berupa ponton keruk pasir untuk mengatasi pendangkalan alur Muara Air Kantung, Jelitik, Sungailiat, Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ( Babel ).
Ponton berwarna biru tersebut berbeda dari ponton pada umumnya yang digunakan untuk aktivitas penambangan timah. Ponton ini dirancang khusus untuk mengeruk pasir dan sedimentasi di bawah air. Di dalamnya terdapat mesin penyedot pasir dengan pipa besar sebagai saluran pembuangan material hasil pengerukan.
Dikenal juga dengan sebutan CSD (Cutter Suction Dredger) mini, ponton keruk tersebut nantinya akan beroperasional mengerukan pasir-pasir yang menyebabkan pendangkalan di tengah alur Muara Air Kantung, Jelitik, Sungailiat.
Pembuatan ponton keruk itu dilakukan dari hasil bantuan dana CSR PT. Timah Tbk dan telah diresmikan secara langsung oleh perwakilan PT. Timah Tbk, nelayan setempat, Pemerintah Daerah dan unsur-unsur lainnya, Jumat (23/1/2026) di dermaga Satpolairud Polres Bangka.
Perwakilan KNPIS, Lukman mengatakan bahwa diciptakannya ponton tersebut berangkat dari permasalahan muara yang begitu panjang dan sudah puluhan tahun sehingga membuat nelayan sulit melaur akibat pendangkalan.
“Banyak bantuan pengerukan seperti escavator yang tetapi hanya mengeruk di pinggir muara,” kata Lukman.
Oleh karena itu, muncul lah ide dari masyarakat nelayan untuk membuat dan mewujudkan CSD mini dari bantuan CSR PT. Timah untuk melakukan pengerukan di tengah alur muara.
“Besar harapan kami, PT Timah terus andil dalam penanganan alur muara dan pemerintah untuk menopang membantu dana operasional CSD mini,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia, Ridwan sangat mengapresiasi inovasi cemerlang dari nelayan yang tergabung dalam KNPIS tersebut.
Kata dia, ini membuktikan bahwa para nelayan mampu memberikan solusi nyata untuk pengerukan sedimentasi muar jelitik.
“Ini menjadi bukti bahwa nelayan juga bisa berpikir secara logika dan solutif,” ungkapnya. (Bangkapos.com/Arya Bima Mahendra)