TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Anggota DPRD DKI Jakarta Ghozi Zulazmi memberikan evaluasi terhadap penanganan banjir yang melanda hampir seluruh wilayah Jakarta dalam beberapa hari terakhir.
Menurut Ghozi, banjir yang terjadi tidak bisa dilepaskan dari faktor curah hujan ekstrem yang sudah diprediksi sebelumnya, termasuk potensi banjir rob di wilayah pesisir utara Jakarta.
“Sejak tanggal 16, 17, 18 sebenarnya sudah ada informasi bahwa curah hujan akan sangat tinggi, bahkan di pesisir utara diprediksi terjadi rob. Dan sampai hari ini intensitas hujan ekstrem itu masih terjadi,” kata Ghozi, Jumat (23/1/2026).
Ia menjelaskan, secara alamiah kondisi tersebut menyebabkan daya tampung daratan tidak mampu menahan volume air yang datang, ditambah dengan kondisi air laut yang sedang pasang.
“Kalau intensitas hujan tinggi, daratan tidak bisa menampung, laut juga penuh, pasti banjir terjadi di mana-mana. Bukan hanya di utara, kemarin hampir seluruh Jakarta lumpuh,” ucapnya.
Ghozi menyoroti dampak banjir yang menyebabkan aktivitas warga terganggu, mulai dari penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) di sekolah hingga kebijakan bekerja dari rumah atau work from home.
Meski demikian, Ghozi menyampaikan apresiasi kepada seluruh petugas di lapangan yang telah bekerja keras menangani banjir.
“Kami mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada Pasukan Biru, teman-teman SDA, PPSU atau Pasukan Oranye, BPBD, Dinas Sosial, serta aparat kewilayahan di kelurahan dan kecamatan. Mereka berjibaku membantu warga dan itu tidak mudah,” ucapnya.
Namun di sisi lain, Ghozi menilai masih terdapat sejumlah persoalan teknis yang perlu segera dievaluasi, salah satunya terkait kinerja pompa air.
Ia mengungkapkan adanya laporan pompa yang tidak berfungsi optimal, bahkan ada yang dimatikan karena kekhawatiran mengalami kerusakan.
“Ada pompa yang mati karena khawatir rusak atau tidak kuat secara teknis. Padahal pompanya ada, tapi tidak semuanya digunakan, sehingga daya sedotnya kecil dan tidak maksimal mengurai banjir,” jelas Ghozi.
Selain pompa, Ghozi juga menyoroti kesiapsiagaan petugas pintu air. Menurutnya, pintu air seharusnya dijaga secara ketat agar buka-tutup dapat dilakukan dengan cepat sesuai kondisi debit air.
“Ada beberapa kejadian pintu air tidak sigap, ada yang macet, bahkan ada yang jebol. Kalau sedikit saja lengah, dampaknya bisa besar,” katanya.
Ia juga menyinggung kondisi infrastruktur fisik seperti dinding pembatas sungai dengan permukiman dan jalan yang mengalami keretakan, namun belum tertangani secara maksimal.
Ghozi berharap seluruh pihak dapat fokus menyelesaikan persoalan banjir secara menyeluruh, baik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, DPRD, hingga pemerintah pusat.
“Kita harus fokus menyelesaikan banjir ini. Pemerintah pusat juga perlu memberi perhatian karena Jakarta sudah darurat banjir,” tegasnya.
Ia menambahkan, penanganan banjir tidak cukup hanya mengandalkan sungai seperti Ciliwung, tetapi juga harus memperhatikan wilayah muara dan pesisir utara Jakarta.
“Permukaan laut sudah tinggi, maka NCICD atau tanggul laut harus benar-benar diselesaikan. Sistem polder yang dibangun harus efektif, bukan hanya membangun, tapi benar-benar menyelesaikan masalah banjir,” pungkas Ghozi.