PRABOWO Akui Masih Banyak Masyarakat Tinggal di Gubuk dan Makan Nasi Garam: Tapi Mereka Tetap Senyum
January 23, 2026 08:27 PM

TRIBUN-MEDAN.com - Presiden Prabowo Subianto mengakui masih banyak masyarakat Indonesia yang tersenyum meski cuma makan garam. 

Ia mengakui banyak masyarakat yang hidup sangat sederhana. 

Pernyataannya ini mengomentari survei internasional yang menyebut bahwa Indonesia menjadi negara paling bahagia sedunia.

"Saya tahu rakyat saya banyak dari mereka tinggal di gubuk. Banyak yang tidak punya air bersih, tak punya kamar mandi, mereka makan nasi dengan garam."

"Namun, mereka tetap tersenyum dan punya harapan," kata Prabowo saat berpidato di World Economic Forum di Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026), dikutip dari YouTube Sekretariat Presiden.

Prabowo pun mengaku terkejut atas hasil survei dari Gallup Poll dan Universitas Hardvard di mana masyarakat Indonesia menjadi rakyat yang paling bahagia.

Meski terkejut, Ketua Umum Gerindra itu juga mengaku lega karena meski hidup dalam kesederhanaan, rakyat Indonesia tetap bahagia.

"Saya sendiri terkejut. Gallup Poll dan Universitas Harvard menemukan melalui survei penelitian terhadap rakyat Indonesia, rakyat Indonesia jadi rakyat yang paling bahagia," ujarnya.

Baca juga: Rico Waas Sambut ASEAN Plus Cadet Sail 2026, Medan Jadi Lokasi Rangkaian Event

Baca juga: Bendahara SMKN 1 Pancur Batu Dipenjara 1 Tahun 6 Bulan Korupsi Dana Bos dan SPP

Baca juga: Jual Dua HP Curian di Pajak Ular, Pecandu Narkoba Nginap di Sel Polsek Medan Area

Di sisi lain, Prabowo turut sedih atas capaian tersebut karena meski bahagia, banyak rakyat Indonesia masih masuk dalam garis kemiskinan.

Survei Gallup Poll-Universitas Harvard Pernah Diungkap Sebelumnya
 
Sebelum di forum tersebut, Prabowo pertama kali mengungkap survei dari Gallup Poll dan Universitas Harvard saat berpidato dalam Puncak Perayaan Natal 2025 di Tenis Indoor Kompleks Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta, pada 5 Januari 2026 lalu.

Saat itu, dia mengatakan survei dari kedua lembaga itu menjadikan penduduk Indonesia sebagai penduduk paling bahagia di dunia.

Dia merinci bahwa surviei dilakukan terhadap penduduk di 200 negara.

Prabowo mengungkap data tersebut menanggapi pengakuan dunia bahwa rakyat Indonesia bisa hidup dalam harmoni meski memiliki perbedaan suku, ras, agama, dan antar golongan (SARA).

"Secara umum, bangsa-bangsa lain mulai melihat bangsa Indonesia bahwa bangsa sebesar ini dapat hidup dengan harmoni, dengan saling menghormati, dan saling mencintai."

"Baru saja keluar sebuah survei dunia yang dilakukan bersama oleh Harvard University dan Gallup Poll di mana dari hampir 200 negara, negara yang rakyatnya setelah ditanya menjawab bahwa rakyat tersebut mengalami bahagia. Negara yang paling nomor satu di dunia, sekarang rakyatnya mengatakan dia bahagia adalah bangsa Indonesia," katanya.

Prabowo terharu atas hasil survei tersebut karena dirinya mengaku masih banyak rakyat Indonesia yang sebenarnya belum sejahtera.

Di sisi lain, dia menyebut ada rakyat masih belum sejahtera tetap merasa bahagia hidup di Indonesia.

Menurutnya, apa yang dialami rakyat Indonesia tersebut membingungkan negara lain.

"Ini mengharukan bagi saya karena saya paham bahwa sebagian besar rakyat kita sesungguhnya masih mengalami kehidupan yang sangat sederhana dan dalam keadaan harus kita akui, yang belum sesungguhnya sejahtera."

"Tetapi kalau ditanya masih mengatakan bahwa dia (rakyat Indonesia) masih bahagia. Ini membingungkan bangsa-bangsa lain," ujarnya.

Survei Harvard 2025: Indonesia Negara Paling Sejahera di Dunia
Mengacu pernyataan Prabowo, Universitas Harvard memang sempat menggelar survei bersama dengan Universitas Baylor, dan Gallup pada tahun 2025.

Mengutip Reuters dari laporan New York Post, Indonesia berada di peringkat pertama dengan penduduk 'paling sejahtera' di dunia.

"Studi ini melibatkan lebih dari 200 ribu responden di 22 negara yang secara keseluruhan mewakili 64 persen populasi global," demikian rilis dari laporan tersebut.

Adapun survei tahun 2025 berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya di mana kini dilakukan dengan menggunakan konsep 'kesejahteraan yang berkembang'.

Dalam survei ini, kesejahteraan yang dimaksud mencakup tidak hanya kesehatan fisik dan mental, tetapi juga makna dan tujuan hidup, karakter dan kebajikan, hubungan sosial yang kuat, serta stabilitas material dan ekonomi.

Baca juga: Tandatangani Board of Peace, Prabowo: Penderitaan Rakyat Gaza Sudah Sangat Berkurang

Hasil survei pun menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki kekuatan dalam relasi sosial.

"Indonesia tidak menonjol secara ekonomi tetapi memiliki kekuatan dalam hubungan sosial dan nilai-nilai karakter yang mendukung komunitas," kata salah satu peneliti.

Faktor-faktor di atas menempatkan Indonesia di peringkat pertama meninggalkan Amerika Serikat (AS) di peringkat ke-12 dan Jepang di posisi terakhir.

Selain Indonesia, negara-negara lain yang menduduki peringkat tertinggi termasuk Israel, Filipina, Meksiko, dan Polandia.

Berdasarkan hasil survei ini, negara-negara dengan pendapatan per kapita tinggi cenderung kurang memiliki hubungan sosial yang bermakna dan keterlibatan komunitas dibandingkan dengan negara-negara berkembang.

“Kami tidak mengatakan bahwa kekayaan atau umur panjang tidak penting. Namun, temuan ini menyarankan bahwa mungkin ada harga yang harus dibayar dalam proses pembangunan,” kata Brendan Case, salah satu penulis studi tersebut.

Para peneliti menyerukan kepada dunia untuk mempertimbangkan kembali arah pembangunan global dengan mencari keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan nilai-nilai manusia seperti tujuan hidup, hubungan antarindividu, dan kebajikan.

(*/tribun-medan.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.