Laporan Wartawan TribunLombok.com, Robby Firmansyah
TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal menginginkan Musium NTB sebagai pusat kajian peradaban dengan koleksi yang ada saat ini mencapai 70 ribu benda bersejarah.
"Saya membayangkan Musium ini akan menjadi musium peradaban, jadi orang yang ingin mengetahui tentang NTB bisa di sini," kata Iqbal, Jumat (23/1/2026).
Dari puluhan ribu koleksi Musium NTB saat ini sudah memenuhi syarat untuk membangun musium tematik sesuai dengan jenis bendanya, misalnya terkait dengan kain khas dari suku di NTB seperti Sasak, Samawa dan Mbojo.
Kemudian senjata khas dari NTB seperti keris dan lainnya. Termasuk naskah-naskah lontar terkait peristiwa masa lalu yang menjadi catatan sejarah, bisa didapatkan di satu tempat yang sama. Sehingga seseorang dengan minta tertentu bisa dengan mudah mendapatkan informasi terkait dengan sejarah NTB.
"Kalau mau membuat musium yang lebih spesialisasi koleksi di sini sudah cukup untuk membuat itu, tinggal kita tambah dari luar karena disini menyimpan kain, keris dan lontar kalau masing-masing itu kita buat musium khusus jadi orang yang punya minat bisa masuk ke musium itu," kata Iqbal.
Kepala Musium NTB, Dr Ahmad Nur Alam mengatakan keinginan untuk mengembangkan musium ini, sejalan dengan rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) tahun 2025-2030.
"Membentuk musium tematik menjadi destinasi internasional," kata Alam kepada, Sabtu (24/1/2026).
Baca juga: Wagub Dinda Dorong Museum NTB Jadi Ruang Kreatif yang Menarik Generasi Muda
Artinya ini sejalan dengan triple agenda dari Gubernur Lalu Muhamad Iqbal yang ingin menghadirkan pariwisata berkelas dunia, namun ini dari segi sejarah peradaban di NTB.
Doktor lulusan Universitas Mataram ini mengatakan, di NTB ada dua peristiwa besar yang pernah mengguncang dunia yaitu letusan Gunung Samalas Rinjani di Lombok tahun 1257 dan letusan Gunung Tambora di Sumbawa tahun 1815.
Dengan nilai sejarah yang tinggi ini, dua peristiwa besar ini dihajatkan menjadi magnet di musium tematik yang akan dibangun tersebut. Karena menurut Alam, ini peristiwa lokal namun dampaknya mendunia.
Sehingga perlu dihidupkan kembali, agar masyarakat tahu bagaimana dahsyatnya letusan dua gunung api tersebut. Lalu bagaimana penduduk di NTB bisa memulihkan kembali hidupnya pasca bencana dahsyat tersebut.
"Kelokalan itu bisa menginstal ulang terkait peristiwa itu, bagaimana ketangguhan manusia bisa menyesuaikan menyusun hidupnya kembali setelah terintersep oleh letusan Gunung Samalas dan Tambora," kata Alam.
Sebagai langkah nyata dalam mewujudkan musium peradaban dengan tema letusan Gunung Samalas Rinjani dan Tambora ini, Musium NTB sudah menyusun detail engineering desain (DED) untuk membangun gedung baru.
Gedung baru ini rencananya akan dibangun di lahan yang saat ini menjadi lokasi parkir para pengunjung Musium NTB, atau tepatnya di sebelah timur bangunan saat ini.
Alam mengatakan pembangunan gedung ini ditaksir menelan anggaran mencapai Rp14 miliar untuk fisik saja, jika dengan interior dan display koleksi musium diperkirakan mencapai Rp22-25 miliar.
"Intinya ketika kita melihat benda tersebut menarik, ketika kita baca berkesan, ini membutuhkan desain yang modern," kata Alam.
Namun dia belum memastikan pengerjaan fisik dari bangunan musium peradaban ini akan dilakukan tahun ini atau tahun depan, Alam mengatakan itu tergantung pada kebijakan anggaran dan kemampuan fiskal daerah.
"Kalau anggaran tahun ini siap, kami rasa sudah bisa dilakukan. Tetapi semua itu tergantung kebijakan dan kemampuan fiskal kita," kata Alam.
Meski demikian, dia memastikan pada tahun keempat kepemimpinan Iqbal-Dinda, masyarakat NTB bisa merasakan kehadiran musium ini.
Selain pembangunan fisik, untuk menghadirkan nilai sejarah yang mendalam terkait dua peristiwa ini, akan dilakukan kajian kembali untuk mencari benda-benda yang bisa menjadi bukti peradaban manusia pasca kejadian tersebut.
"Jadi yang kita lakukan mencari tema-tema yang berkaitan dengan itu, terkait dengan apa yang kira-kira bisa memberikan sejarah peristiwa kejadian yang berdampak kepada dunia terkait dua hal itu," kata Alam.
Ini nantinya akan melibatkan banyak pihak untuk melakukan kajian-kajian mendalam, sehingga benar-benar bisa menggambarkan peristiwa berabad-abad itu secara utuh dan menjadi rujukan nantinya.
(*)