TRIBUNTRENDS.COM - Nama Whip Pink mendadak mencuat dan ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial. Produk ini menjadi sorotan tajam publik setelah dikaitkan dengan kabar meninggalnya Lula Lahfah.
Perbincangan pun berkembang cepat, memunculkan rasa penasaran sekaligus kekhawatiran warganet mengenai apa sebenarnya produk tersebut dan bagaimana fungsinya.
Di tengah derasnya arus informasi, Whip Pink tampil mencolok dengan kemasan khas berwarna pink yang tampak lucu, modern, dan terkesan eksklusif.
Namun di balik tampilannya yang menarik perhatian, produk ini sejatinya berisi gas Nitrous Oxide (N₂O) dan dipasarkan secara terbuka di berbagai kota di Indonesia.
Baca juga: Firasat Reza Arap Soal Kesehatan Lula Lahfah yang Kini Jadi Kenangan Pahit, Sempat Sindir Sang Pacar
Secara fungsi, Whip Pink merupakan whipped cream charger, yakni tabung gas yang digunakan untuk membantu proses pembuatan whipping cream dalam industri makanan.
Gas Nitrous Oxide yang terkandung di dalamnya berperan penting dalam membuat krim mengembang dengan cepat dan stabil.
Dalam konteks kuliner, penggunaan gas Nitrous Oxide sebenarnya legal dan aman selama digunakan sesuai dengan peruntukannya.
Produk sejenis telah lama digunakan oleh pelaku industri makanan dan minuman, terutama dalam pembuatan dessert dan hidangan berbasis krim.
Namun demikian, persoalan muncul ketika gas tersebut disalahgunakan di luar fungsi makanan.
Penyalahgunaan inilah yang kemudian dinilai dapat menimbulkan risiko kesehatan dan memicu kekhawatiran publik.
Meski memiliki fungsi yang jelas di dunia kuliner, cara promosi dan tampilan Whip Pink justru memantik tanda tanya di kalangan warganet.
Banyak pihak menilai kemasan dan strategi pemasaran produk ini tidak lazim untuk sebuah produk gas dapur.
Perpaduan warna pink yang mencolok, desain yang terlihat imut, serta kesan eksklusif dinilai berpotensi menimbulkan persepsi keliru mengenai kegunaan sebenarnya dari produk tersebut.
Baca juga: Reza Arap Kecewa Lula Lahfah Abaikan Ucapannya Semasa Hidup, Sindir Hidup Tak Sehat Sang Pacar
Berdasarkan informasi yang dikutip dari akun Instagram resmi Whip Pink pada 24 Januari 2026, produk ini dipasarkan dengan harga yang bervariasi, tergantung ukuran dan wilayah distribusi.
Di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Makassar, Semarang, Yogyakarta, Balikpapan, Surabaya, dan Medan, Whip Pink dijual dengan harga:
Sementara itu, di wilayah Bali, Lombok, Gili T, dan Batam, harga yang ditawarkan sedikit lebih tinggi, yakni:
Perbedaan harga tersebut disesuaikan dengan kapasitas gas yang dikemas dalam setiap tabung, serta lokasi pemasaran produk.
Whip Pink diketahui memasarkan produknya secara terbuka melalui situs resmi dan akun Instagram @whippink.co.
Pola pemasaran ini membuat produk tersebut relatif mudah dikenal dan dijangkau oleh masyarakat luas, termasuk mereka yang tidak berkecimpung di dunia kuliner profesional.
Hal inilah yang kemudian memicu diskusi publik mengenai batasan pemasaran dan segmentasi konsumen produk gas dapur.
Salah satu faktor utama yang membuat Whip Pink menuai sorotan adalah desain kemasan dan strategi branding yang dianggap tidak biasa.
Selain didominasi warna pink, produk ini juga sempat dipromosikan menggunakan sarung velvet bernuansa mewah, sesuatu yang jarang ditemukan pada produk gas dapur.
Baca juga: Teka-teki Penyebab Lula Lahfah Meninggal, Benarkah Karena Overdosis? Dokumen Medis Tersebar
Banyak pihak mempertanyakan alasan penggunaan kemasan elegan dan eksklusif untuk produk yang sejatinya digunakan dalam proses pembuatan makanan.
Sebagian warganet menilai, secara fungsi, whipped cream charger bukanlah barang yang aneh atau berbahaya jika digunakan sesuai peruntukannya.
Namun, cara pengemasan dan promosi Whip Pink dinilai “tidak wajar” dan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman mengenai kegunaan produk tersebut.
Terlepas dari berbagai kontroversi dan perdebatan yang muncul di ruang publik, fungsi Whip Pink tetaplah sebagai alat bantu pembuatan whipped cream agar mengembang dengan cepat.
Produk ini tidak ditujukan untuk penggunaan lain di luar kebutuhan kuliner.
Perbincangan yang mengemuka pun menjadi pengingat bahwa desain, promosi dan edukasi penggunaan produk memiliki peran penting agar tidak menimbulkan persepsi keliru di tengah masyarakat.
***