Mengapa Harga Emas Terus Naik Bahkan Bisa Melebihi Rp 3 Juta per Gram? 
January 25, 2026 09:19 AM

 

POS-KUPANG.COM - Tren harga emas belakangan ini terus meningkat bahkan berpeluang melebihi angka Rp 3 juta per gram. 

Hingga Sabtu (24/1/2026) malam, data pada grafik Sahabat Pegadaian memperlihatkan harga emas yang terus menanjak. 

Harga emas per gram untuk Galeri24 mengalami kenaikan Rp 10.000 dari Rp 2.915.000 ke Rp 2.925.000. 

Merk UBS melangkah lebih tinggi sebesar Rp 18.000 dari Rp 2.956.000 ke Rp 2.974.000.  Antam juga mengalami  kenaikan sebesar Rp 7.000 menjadi Rp 2.887.000. 

Mengapa Harga emas terus menanjak? Berikut penjelasan Guru Besar Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Anton Agus Setyawan, S.E., M.Si.

Anton mengatakan, naik turunnya emas bergantung pada kondisi ekonomi global. 

Menurut dia, kondisi banyak negara berperang mempengaruhi harga emas dari hari ke hari. 

Apabila negara-negara tersebut sepakat berdamai, bukan tidak mungkin harga emas akan stabil. 

"Misalnya, mungkin kalau nanti Rusia-Ukraina damai, Iran ada solusi krisis politik, kemudian Amerika mengurangi ketegangan. Maka, harga emas yang Rp 3 juta tidak akan terjadi," tambahnya. 

Namun sebaliknya, Anton menjelaskan jika situasi geopolitik dunia makin memburuk maka kenaikan harga emas hingga level Rp 3 juta sangat mungkin terjadi. 

"Tapi kalau situasinya (perang) makin buruk ya sangat mungkin itu untuk terjadi," pungkasnya. 

Beli sekarang atau nanti? 

Lonjakan tarif emas yang belum mereda bikin sebagian masyarakat dan investor bimbang.  

Tak sedikit orang bingung, apakah momentum ini pas untuk membeli emas atau lebih baik menunggu dulu sampai harganya turun. 

Menurut Anton, keputusan membeli emas sekarang ini sangat bergantung terhadap tujuan investasi. 

Jika tujuannya untuk mencari untung atau spekulasi, beli sekarang bisa jadi opsi. 

"Kalau mau mencari untung atau spekulasi bisa beli sekarang, karena ke depan harganya masih akan naik," beber Anton.  

Ihwal peluang harga emas menurun, Anton kembali menarik benang merah dengan kondisi perekonomian secara umum dan pilihan investasi lainnya. 

Anton mengingatkan, investasi yang baik sejatinya bukan sekadar menyimpan aset, melainkan mengalirkan uang dalam sektor real. 

"Artinya, uang investasi itu digunakan untuk usaha-usaha yang real, seperti pembangunan pabrik atau bisnis," jelasnya. 

Syukur-syukur, lanjut Anton, sektor yang berbentuk manufaktur yang menghasilkan produk fisik, menciptakan nilai tambah, menyerap tenaga kerja hingga meningkatkan pertumbuhan ekonomi. 

"Itu inti dari investasi yang baik ketika kondisi ekonomi membaik," sebutnya. 

Anton juga mencontohkan aliran dana investasi yang ditabung atau didepositokan ke perbankan. 

Dana tersebut kemudian disalurkan sebagai pinjaman ke sektor usaha real hingga privat untuk berbisnis. 

Dari proses tersebut, perbankan tumbuh, dan pelaku usaha berkembang, dan investor mendapatkan hasil. 

"Atau pilihan kedua investor bisa membeli saham, kemudian saham itu menjadi tambahan modal bagi perusahaan," sebut Anton. 

"Perusahaan memutar uangnya ke sektor real kemudian investor tadi mendapatkan return berupa dividen. (Investasi) yang sehat seperti itu," tambahnya.  

Berbeda dengan investasi emas, Anton menjelaskan ketika investor membeli emas untuk disimpan dan mencari keuntungan, tidak ada aliran modal ke sektor real. 

"Namun sekarang situasinya sedang tidak baik-baik saja, penuh ketidakpastian, orang ketika berbisnis risikonya lebih besar daripada keuntungannya," tutur Anton. 

Ketika kondisi ekonomi secara umum bermasalah dan tidak membaik, maka sebagian orang akan memilih berinvestasi emas. 

Baca juga: Opini: Paradoks Negara - Antara Realitas dan Harapan

"Jadi jawaban harga emas akan turun atau tidak itu tergantung pada apakah pemerintah mampu memperbaiki kondisi ekonomi," jelas Anton. 

"Ini saja sebenarnya tidak cukup juga. Harga emas akan pula tergantung pada kondisi ekonomi global," tegas Anton. 

Harga emas naik jadi sinyal buruk perekonomian  

Lonjakan harga emas yang terjadi secara terus menerus menjadi sinyal buruk terhadap perekonomian. 

"Makna kenaikan emas itu sebenarnya sinyal buruk bagi perekonomian. Artinya, masyarakat, investor, konsumen itu tidak yakin dengan kondisi ekonomi ke depan," ulas Anton. 

Ketidakyakinan tersebut mendorong investor untuk berlomba-lomba membeli instrumen emas. 

"Kalau semua orang portofolio investasinya emas, menandakan ekonomi tidak baik-baik saja. Kita bisa melihat kemarin World Bank dan IMF menunjukkan laporan untuk perekonomian global yang mengalami perlambatan," kata Anton. 

Salah satu pemicunya adalah kondisi geopolitik global yang tidak kondusif.  

"Bagaimana kebijakan presiden Trump di Venezuela, rencana menguasai Greenland meski belakangan agak turun ketegangannya, kemudian krisis politik di Iran," kata Anton. 

"Lalu secara khusus Venezuela, karena mempunyai cadangan minyak yang terbesar di dunia. Kemudian kondisi Iran yang bisa mempengaruhi suplai minyak dunia juga. Hal-hal ini mengkhawatirkan bagi investor global," lanjut Anton. 

Anton menambahkan, belum lagi ditambah krisis ekonomi di Inggris dengan angka penganggurannya. 

"Kemudian Amerika sendiri dengan pola kebijakan politiknya Trump yang menyebabkan dunia jadi lebih tidak stabil," sebutnya. 

Faktor tersebutlah yang mendorong investor memilih menunggu dan mengamankan asetnya dalam bentuk emas.  (*)

Sumber: KOMPAS.COM 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.