TRIBUNJAKRATA.COM - Di tengah terjangan cuaca ekstrem hujan deras hingga angin kencang di sebagian besar Pulau Jawa, longsor menjadi bencana yang mengintai.
Di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, longsor melanda Desa Pasirlangu, pada Sabtu (24/1/2026).
Hingga Minggu pagi (25/1/2026), sebanyak 10 orang tewas tertimbun dan jenazahnya sudah ditemukan.
Tim SAR gabungan masih terus melakukan pencarian di area longsor karena disinyalir masih ada 80 orang hilang,
Jakarta yang juga dilanda cuaca ekstrem tak lepas bayang-bayang potensi longsor.
BPBD DKI Jakarta telah menerbitkan peringatan dini potensi longsor di 21 wilayah kecamatan, sejak Jumat (23/1/2026).
21 wilayah potensi longsor itu masuk zona menengah-tinggi menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (PVMBG BMKG).
"Prakiraan wilayah potensi terjadi gerakan tanah disusun berdasarkan hasil tumpang susun (overlay) antara peta zona kerentanan gerakan tanah dengan peta prakiraan curah hujan bulanan yang diperoleh dari BMKG," tulis BPBD DKI Jakarta dalam keterangannya.
Zona menengah-tinggi yang dimaksud adalah klasifikasi tingkat kerawanan terjadinya gerakan tanah (longsor/pergeseran tanah) yang cukup besar hingga tinggi, bukan berarti pasti terjadi, tapi risikonya signifikan.
Berikut daftar wilayahnya:
"Untuk itu, kepada Lurah, Camat, dan masyarakat diimbau untuk tetap mengantisipasi adanya potensi gerakan tanah pada saat curah hujan di atas normal," imbau BPBD DKI Jakarta.
Bukan hanya potensi, longsor sendiri sudah terjadi di Jalan Johar, RT 2 RW 05 Kelurahan Srengseng Sawah, Kecacamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan pada Kamis (22/1/2026) sekira pukul 18.00 WIB.
Longsor di bantaran kali itu diduga disebabkan karena intensitas hujan tinggi, kondisi tanah yang lablil hingga kikisan dari aliran kali.
Runtuhan tanah dan turap menimpa satu rumah, dan lima orang terdampak.
Berdasarkan keterangan BPBD DKI Jakarta, dipastikan tidak ada korban jiwa dari peristiwa tersebut.