4 Warga Bengkulu Terjebak di Perusahaan Scam dan Judol Kamboja, Disetrum Jika Tak Capai Target
January 25, 2026 06:54 PM

 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, M. Bima Kurniawan

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU – Niat ingin memperbaiki ekonomi keluarga justru membawa petaka bagi Imron (29), warga Bengkulu, yang kini terjebak di perusahaan scam (penipuan) dan judi online (judol) Kamboja.

Bersama tiga rekannya, Imron berangkat dengan iming-iming pekerjaan di perusahaan elektronik di Vietnam dengan gaji Rp12,8 juta per bulan.

Istri Imron, Sustri (42), menceritakan awal mula keberangkatan suaminya yang sebelumnya bekerja sebagai buruh bongkar muat di gudang buah.

Karena kesulitan ekonomi, Imron tertarik dengan tawaran kerja ke Vietnam yang disampaikan oleh temannya.

“Sebelum berangkat abang izin dulu, katanya temannya yang mengajak ke Vietnam dan akan datang dari Palembang,” ujar Sustri saat diwawancarai TribunBengkulu.com pada Selasa (25/1/2026).

Ternyata Berada di Kamboja

Namun, setelah beberapa hari keberangkatan suaminya, Sustri terkejut ketika Imron mengabari bahwa dirinya justru berada di Kamboja, bukan Vietnam seperti yang dijanjikan.

“Seminggu baru dia ngabarin kalau sudah di Kamboja, tapi dia sempat bilang kerja dulu di Vietnam katanya sebagai sales elektronik,” ungkap Sustri.

Setelah beberapa hari, Imron kembali mengabari bahwa pekerjaan yang dijalaninya jauh dari janji awal.

“Penjelasannya di Kamboja bekerja sebagai sales elektronik dan kosmetik, beberapa hari kemudian dia menjelaskan pekerjaannya mengurus judi online,” kata Sustri.

Jam Kerja Panjang dan Larangan Memegang Ponsel

Dalam pengakuannya, Imron bekerja selama 12 jam per hari dengan masa percobaan selama dua bulan.

Selama masa tersebut, ia dilarang memegang telepon genggam pribadi.

“Kerjanya itu selama 12 jam, masa percobaan dua bulan tidak boleh memegang HP. Jadi dia nelpon pakai HP perusahaan,” ujar Sustri.

Tekanan Kerja dan Ancaman Hukuman

Tak hanya jam kerja yang panjang, tekanan kerja yang diterima Imron dan rekan-rekannya juga sangat berat.

Jika target tidak tercapai, mereka harus membayar denda.

“Selama bekerja jika tidak memenuhi target diberikan denda, dan kalau buat kesalahan lagi kerjanya di sentrum,” kata Sustri menirukan penjelasan suaminya.

Karena tidak mampu memenuhi target dan kerap melakukan kesalahan, Imron dan rekan-rekannya terancam dipindahkan ke perusahaan lain.

Kondisi tersebut membuat mereka ketakutan.

Di perusahaan baru, mereka berpotensi mendapatkan perlakuan yang lebih kejam.

“Karena tidak bisa memenuhi target dan sering buat kesalahan, jadi mau dipindahkan ke perusahaan lain. Karena mereka takut dipindahkan itulah mereka kabur Sabtu kemarin,” jelas Sustri.

Kabur dan Mengadu ke KBRI

Imron bersama delapan orang lainnya akhirnya nekat melarikan diri dan mendatangi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI).

“Mereka bersembilan dengan teman-teman dari Palembang melarikan diri menuju KBRI, sekarang tinggal dan makan di sana,” ungkap Sustri.

Harapan Keluarga untuk Pemulangan

Atas kejadian tersebut, Sustri berharap pemerintah daerah dan instansi terkait dapat membantu proses pemulangan suaminya dan rekan-rekannya ke tanah air.

“Oleh sebab itu kami meminta agar Gubernur Bengkulu, Wali Kota Bengkulu ataupun instansi terkait dapat membantu dalam proses pengembalian mereka ke Bengkulu,” pungkas Sustri.

Gabung grup Facebook TribunBengkulu.com untuk informasi terkini

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.