TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Cuaca ekstrem berupa hujan lebat disertai angin kencang yang melanda sejumlah wilayah Jawa Tengah dalam beberapa waktu terakhir dipengaruhi kombinasi puncak musim hujan dan aktivitas Siklon Tropis Luana.
Siklon Tropis Luana merupakan sistem tekanan rendah yang terbentuk di wilayah laut tropis dan berputar dengan kecepatan angin tinggi.
Meski tidak melintas langsung di Jawa Tengah, siklon ini memberikan dampak tidak langsung terhadap kondisi cuaca di wilayah tersebut.
Baca juga: Banyak Jalan Berlubang Saat Musim Hujan, DPRD Jateng Dorong Penanganan Cepat dan Darurat
Aktivitas Siklon Luana memicu peningkatan kecepatan angin sekaligus menarik massa udara lembap dari sekitarnya.
Dampaknya, suplai uap air ke wilayah Jawa, termasuk Jawa Tengah, meningkat dan memicu hujan berintensitas sedang hingga lebat yang disertai angin kencang.
Dampak siklon ini terasa lebih signifikan karena terjadi bersamaan dengan puncak musim hujan pada Januari hingga Februari.
Forecaster BMKG Ahmad Yani Semarang, Farida, menyebut kondisi tersebut memperbesar potensi cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi, terutama di wilayah pegunungan dan kawasan rawan longsor.
“Untuk Januari dan Februari ini memang puncak musim hujan. Potensi hujan intensitas sedang hingga lebat masih ada dan dapat disertai petir serta angin kencang,” ujar Farida, Minggu (25/1/2026).
Pengaruh Siklon Tropis Luana turut memperkuat dinamika atmosfer di wilayah Jawa Tengah, termasuk meningkatkan kecepatan angin dan suplai uap air yang memicu hujan berintensitas tinggi.
Kondisi ini menjadi salah satu faktor terjadinya banjir bandang dan longsor di kawasan wisata Guci, Kabupaten Tegal.
“Selain faktor topografi, cuaca juga berperan. Beberapa hari sebelumnya, wilayah sekitar Tegal tercatat memiliki curah hujan cukup tinggi dan disertai angin kencang,” jelas Farida.
Wilayah pegunungan seperti Guci memang rentan karena secara alami menjadi lokasi tumbuhnya awan hujan akibat proses orografis.
Modifikasi Cuaca, Bukan Penangkal Mutlak
Terkait operasi modifikasi cuaca, Farida menegaskan upaya tersebut bukan untuk menghilangkan hujan sepenuhnya.
“Modifikasi cuaca tidak bisa dinyatakan berhasil 100 persen. Fungsinya lebih untuk mengurangi potensi hujan ekstrem dengan menjatuhkan hujan lebih dulu di laut,” katanya.
Baca juga: Etika Berkendara di Musim Hujan, Menepi Sembarangan Justru Mengundang Bahaya
Penyemaian awan dilakukan di wilayah perairan agar awan tidak berkembang besar dan bergerak ke daratan.
Namun, saat musim hujan, awan tetap bisa tumbuh di daratan karena faktor alamiah Jawa Tengah.
BMKG memprediksi potensi hujan disertai angin kencang di Jawa Tengah masih akan berlangsung hingga Februari 2026, dan meminta masyarakat khususnya wisatawan di kawasan alam untuk meningkatkan kewaspadaan. (Rad)