TRIBUNJATIM.COM - Mbah Srinah (68) tinggal di rumah kecil berdinding kalsiboard dengan atap asbes yang mulai rapuh.
Rumahnya berada di balik rimbunnya kebun di Desa Tunjungrejo, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.
Ia menjalani hari-hari tuanya sendiri, sederhana, dan nyaris tanpa keluhan di rumah kecil tersebut.
Baca juga: Warga Emosi Dimintai Iuran Rp100 Ribu untuk Keamanan, Ketua RW Akui Kesalahan Pakai Kop Linmas
Saat senja turun dan gelap merambat perlahan, rumah kecil itu menjadi saksi bisu kesunyian hidup seorang nenek yang memilih bertahan jauh dari hiruk-pikuk desa.
Angin malam dan suara jangkrik menjadi teman setia.
Ketika hujan datang, doa sederhana pun terucap: semoga atap yang bocor tak runtuh malam ini.
Sudah sekitar 10 tahun Mbah Srinah tinggal di kebun tersebut.
Lahan tersebut bukan miliknya, namun kebaikan hati pemilik kebun membuatnya boleh tinggal selama yang ia mau.
Rumah itu pun bukan rumah permanen, hanya sekadar tempat berlindung agar ia tak sepenuhnya terpapar panas dan hujan.
Ia bertahan hidup dari uluran tangan para tetangga.
Suaminya telah lama meninggal dunia.
Sementara dua anaknya sudah berkeluarga dan tinggal di luar desa, salah satunya di Jepara.
Namun, Mbah Srinah memilih tidak ikut bersama mereka.
"Mboten purun ngrepotke (tidak mau merepotkan), teng mriki mawon (di sini saja)," ucapnya lirih, mengutip Kompas.com.
Tak ingin merepotkan anak-anaknya, ia memilih menjalani hidup seorang diri meski tanpa penghasilan tetap.
Untuk makan sehari-hari, Mbah Srinah bergantung pada uluran tangan para tetangga.
Sepiring nasi dengan lauk sederhana kerap datang tanpa diminta.
Baginya, itu lebih dari cukup.
Meski hidup dalam keterbatasan, Mbah Srinah mengaku tak pernah merasa ditelantarkan.
Ia menyebut perhatian dari pemerintah desa dan warga sekitar sebagai penguat langkahnya menjalani hari.
"Dapat bantuan, Pak. Pak Bayan itu baik banget, Pak Ali (kepala desa) juga," katanya dengan senyum tipis.
Yuliana, warga yang juga pemilik kebun tempat Mbah Srinah tinggal mengatakan, nenek tersebut sudah dianggap seperti keluarga sendiri.
Ia tak keberatan lahannya digunakan sebagai tempat tinggal.
"Kalau makan ya biasanya dari tetangga-tetangga. Lahannya milik saya."
"Sampai kapan pun beliau mau tinggal di situ, saya enggak apa-apa," ujarnya.
Baca juga: Pensiunan Jenderal Tantang Roy Suryo Sumpah Pocong Terkait Ijazah Jokowi, Siap Sumbangkan Dana
Kebaikan tak hanya datang dari warga sekitar.
Sesekali, relawan juga menyalurkan bantuan berupa beras, kasur, hingga kebutuhan harian lainnya.
Sementara itu, Perangkat Desa Tunjungrejo, Moh Sulthon, menjelaskan bahwa secara fisik, Mbah Srinah masih mampu mengurus dirinya sendiri.
Namun, untuk kebutuhan makan memang masih mengandalkan bantuan sosial dan kepedulian warga.
"Mbah Srinah masuk penerima PKH dan BPNT. Bantuan rutin dari dinas sosial ada, pencairannya tiga bulan sekali," jelasnya.
Seorang warga Palembang bernama Ibu Anggi kini hanya bisa terbaring lemah akibat penyakit kanker yang dideritanya.
Dalam keadaan ekonomi yang serba kekurangan, kondisinya kian memprihatinkan.
Ia harus tinggal di sebuah rumah sangat sederhana bersama ibu dan neneknya.
Sebuah potret kemiskinan dan perjuangan hidup yang menyayat hati yang dialami Ibu Anggi itu pun viral di media sosial TikTok.
Adalah akun @jajan_palembangupdate yang membagikan kisah Ibu Anggi.
Dalam video berdurasi satu menit tersebut, terlihat kondisi Ibu Anggi yang sudah tidak mampu lagi berjalan.
Seluruh aktivitasnya kini hanya dilakukan di atas tempat tidur.
Penyakit kanker yang menggerogoti tubuhnya membuat ia kehilangan kemampuan mobilitas.
Sementara ia masih memiliki tanggung jawab besar membesarkan dua anak yang masih kecil.
Untuk kebutuhan makan sehari-hari, keluarga ini seringkali hanya bisa berharap pada belas kasihan dan bantuan dari para tetangga sekitar.
Pemilik konten yang memviralkan kisah ini menegaskan bahwa mereka tidak membuka penggalangan dana dalam bentuk rekening atau perantara.
Hal ini dilakukan demi memastikan bantuan benar-benar sampai secara tepat sasaran dan transparan.
"Bagi kawan-kawan yang ingin membantu, atau sekadar memberikan bantuan apa pun itu, bisa langsung datang ke rumah Ibu Anggi.
Kami tidak menggalang dana, jadi kalau mau membantu silakan langsung ke lokasi tanpa melalui perantara," ujar narasi dalam video tersebut.
Baca juga: Warga Waspada Konsumsi Siomay Ikan Sapu-sapu, Cermati Ciri-cirinya, Risiko Kesehatan Mengintai
Bagi masyarakat Palembang atau para dermawan yang tergerak hatinya untuk meringankan beban Ibu Anggi, dapat mengunjungi kediamannya di alamat berikut:
Lokasi: Lorong Bahari (Belakang Sri Melayu)
Kawasan: Way Hitam, Demang Lebar Daun, Palembang
Kehadiran donatur secara langsung diharapkan tidak hanya membantu secara materi (seperti sembako, biaya pengobatan, atau kebutuhan anak-anak), tetapi juga memberikan dukungan moral bagi Ibu Anggi yang tengah berjuang melawan penyakitnya di tengah keterbatasan.