Sebut Isu Reshuffle Kabinet Prabowo 2026 Masih Gelap Gulita, Ini Sosok Pengamat Politik Adi Prayitno
January 26, 2026 06:49 AM

 

SURYA.co.id – Desas-desus perombakan Kabinet Merah Putih kembali mengemuka dan menyedot perhatian publik.

Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka disebut-sebut tengah bersiap melakukan reshuffle, meski belum ada pernyataan resmi dari Istana.

Isu tersebut mencuat tak lama setelah Presiden Prabowo menggelar retret bersama para menteri di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada awal Januari 2026.

Agenda yang tertutup ini kemudian memicu berbagai tafsir, terutama karena diikuti oleh serangkaian pertemuan sejumlah tokoh di Istana Negara tanpa pengumuman terbuka mengenai maksud dan substansinya.

Situasi ini membuat publik membaca tanda-tanda politik yang dinilai tak biasa.

Pengamat Nilai Isu Reshuffle Masih Gelap Gulita

Pengamat politik Adi Prayitno justru melihat kejanggalan dalam derasnya isu reshuffle yang beredar saat ini.

Menurutnya, tidak ada sinyal kuat bahwa Presiden Prabowo akan melakukan perombakan kabinet dalam waktu dekat.

RESHUFFLE - Presiden Prabowo Subianto secara resmi melantik empat jabatan menteri dan satu wakil menteri Kabinet Merah Putih sisa masa jabatan 2024-2029 di Istana Negara, Jakarta, Senin (8/9/2025).
RESHUFFLE - Presiden Prabowo Subianto secara resmi melantik empat jabatan menteri dan satu wakil menteri Kabinet Merah Putih sisa masa jabatan 2024-2029 di Istana Negara, Jakarta, Senin (8/9/2025). (istimewa)

Adi menilai suasana politik terkait reshuffle justru cenderung kabur, terlebih Presiden Prabowo belakangan kerap menyampaikan apresiasi terhadap kinerja para pembantunya di kabinet.

"Nah itu yang repot, gelap gulita, tiba-tiba isu reshuffle mencuat," ujarnya, Sabtu (24/1/2026), dikutip SURYA.CO.ID dari Tribunnews.com.

"Yang jadi ramai itu karena isu reshuffle kali ini terkesan mendadak karena pada saat bersamaan beberapa waktu lalu presiden mengapresiasi kinerja menterinya yang total bekerja."

"Entah dari mana datangnya sumber isu reshuffle yang terkesan tiba-tiba ini," tutur Adi.

Baca juga: Bocoran Pengamat Tentang 3 Pos Menteri yang Paling Rawan Terkena Reshuffle Awal Tahun 2026

Evaluasi Wajar, Tapi Politik Tak Pernah Benar-benar Sepi

Meski mempertanyakan sumber isu, Adi menegaskan bahwa reshuffle kabinet adalah hal yang lumrah dalam pemerintahan.

Evaluasi, menurutnya, merupakan bagian dari upaya menjaga efektivitas kerja kabinet.

Namun, Adi juga menyoroti adanya kemungkinan dinamika politik di balik rumor perombakan tersebut.

Ia menyinggung aktivitas sejumlah menteri yang belakangan diketahui menyambangi kediaman Presiden ke-7 RI Joko Widodo di Solo, Jawa Tengah, serta rumah Prabowo di Kertanegara, Jakarta Selatan.

"Memang setelah setahun pemerintahan Prabowo-Gibran banyak desakan publik agar menteri yang kerjanya buruk segera diganti untuk mengakselerasi kinerja pemerintah."

"Soal siapa menterinya publik sudah sering menyebut di berbagai media soal kinerja menteri yang jadi sorotan," jelas Adi.

"(Atau) Jangan-jangan ini ada kaitannya dengan seorang menteri yang pernah ke Solo dan ke Kertanegara beberapa waktu lalu," imbuhnya.

Setahun Pemerintahan, Urgensi Pergantian Tetap Terbuka

Menteri Kabinet Merah Putih sebelum berfoto bersama usai pelantikan di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (21/10/2024). Presiden Prabowo Subianto resmi melantik ke-53 dan kepala badan negara setingkat menteri dalam Kabinet Merah Putih periode 2024-2029.
Menteri Kabinet Merah Putih sebelum berfoto bersama usai pelantikan di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (21/10/2024). Presiden Prabowo Subianto resmi melantik ke-53 dan kepala badan negara setingkat menteri dalam Kabinet Merah Putih periode 2024-2029. (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN)

Adi menekankan bahwa meskipun isu reshuffle saat ini belum memiliki dasar yang terang, urgensi perombakan kabinet tetap ada jika ditemukan menteri yang tidak menunjukkan kinerja optimal.

Menurutnya, masa satu tahun lebih sudah cukup untuk menilai efektivitas kerja para menteri dalam menjalankan program prioritas pemerintah.

"Urgensi reshuffle tetap ada karena sudah setahun lebih pemerintahan. Jika ada menteri tak perform kerjanya seharusnya diganti," tandas Adi.

Pernyataan ini sekaligus menegaskan bahwa reshuffle bukan sekadar isu politik, melainkan instrumen evaluasi yang sah dalam menjaga ritme pemerintahan agar tetap responsif terhadap tuntutan publik.

Baca juga: Presiden Prabowo Bakal Rombak Kabinet Lagi? Ini 4 Klaster Menteri yang Berpotensi Kena Reshuffle

Sosok Pengamat Politik Adi Prayitno

Ia dikenal luas sebagai analis yang konsisten mengamati relasi kekuasaan, perilaku elite politik, serta arah kebijakan pemerintahan dari waktu ke waktu.

Dalam kapasitas profesionalnya, Adi Prayitno menjabat sebagai Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI), sebuah lembaga riset politik yang fokus pada kajian opini publik, elektoral, dan kebijakan strategis.

Melalui PPI, ia kerap merilis analisis berbasis data dan tren politik yang dijadikan rujukan oleh media, akademisi, hingga praktisi politik.

Selain aktif sebagai peneliti dan analis, Adi Prayitno juga berkiprah di dunia akademik.

Ia dikenal sebagai akademisi dan dosen yang menaruh perhatian besar pada penguatan literasi politik dan demokrasi.

Latar belakang akademis ini membuat pandangannya relatif sistematis, tidak semata spekulatif, serta berangkat dari kerangka teori politik yang kuat.

Di ruang publik, Adi Prayitno sering tampil sebagai narasumber di berbagai stasiun televisi nasional, media daring, hingga forum diskusi politik.

Gaya komunikasinya lugas, tenang, dan argumentatif, sehingga mudah dipahami oleh publik luas tanpa kehilangan kedalaman analisis.

Ia juga dikenal tidak segan mengkritik pemerintah maupun oposisi secara proporsional, tergantung pada konteks isu yang dibahas.

Dalam menanggapi isu-isu strategis (mulai dari reshuffle kabinet, relasi presiden dengan partai politik, hingga dinamika kekuasaan pasca-pemilu) Adi Prayitno cenderung mengambil posisi moderat.

Ia menekankan pentingnya membaca politik tidak hanya dari pernyataan elite, tetapi juga dari gestur, timing kebijakan, serta tekanan opini publik.

Konsistensinya mengamati politik nasional menjadikan Adi Prayitno sebagai salah satu pengamat yang suaranya diperhitungkan.

Bagi media, ia bukan sekadar komentator, melainkan analis yang membantu publik memahami apa yang sebenarnya terjadi di balik layar kekuasaan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.