SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Di tengah krisis finansial yang membelit Sriwijaya FC, kiper lokal Rangga Pratama menunjukkan dedikasi yang luar biasa. Pada Derby Sumsel Pegadaian Championship 2025/26 melawan Sumsel United, Sabtu (24/1/2026) di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring Palembang, Rangga yang masuk sebagai pengganti menit ke-68, menahan gempuran tim lawan dengan penampilan yang membuat suporter terharu.
“Ini semacam ikhlaslah. Sudah ada waktu bertanding, sudah dikasih menit bermain. Ikhlas walaupun tidak dari awal. Tidak tahu kenapa itu,” ujar kiper senior Sriwijaya FC Rangga Pratama kepada Sripoku.com.
Kiper 29 tahun asal Sako, Palembang, harus menggantikan Muyassir alias Acil Kuba yang cedera saat skor 0-4 untuk Elang Andalas. Dengan hanya dua kiper tersisa, Rangga memikul beban berat bersama Acil Kuba, apalagi tim Sriwijaya FC sudah lama tanpa pelatih kiper.
Krisis kiper Sriwijaya FC memang bukan rahasia. Dari empat kiper di awal musim, dua sudah pergi. Geri Mandagi belum kembali karena masalah tiket dan gaji, sementara Muhamad Zaenuri Azhar memilih mundur. Kondisi ini membuat Rangga dan Acil menjadi tulang punggung pertahanan Elang Andalas di sisa kompetisi.
Meski berada di dasar klasemen Grup 1 Wilayah Barat dengan 2 poin dari 17 laga, Rangga tetap teguh. “Harapan ke depan, semoga kami sehat-sehat sampai akhir kompetisi,” katanya.
Kesetiaan Rangga kepada Sriwijaya FC pun menjadi sorotan. Di akun Instagram @ranggaprtamaa, ia menuliskan alasannya bertahan meski tim tengah terpuruk: “Lebih baik sakit tapi tetap ada, daripada sakit tapi hilang semuanya.”
Sebagai anak lokal Palembang dan ayah dari dua anak, Razqya (3) dan Raqeela (2), Rangga menegaskan cintanya kepada tim.
“Saya tidak mau sampai Sriwijaya FC WO (walk out) atau bubar. Kami bermain dengan hati untuk SFC.”
Baca juga: Bantah Gabung Persikad, Coach Azul Tegaskan Kiper Sriwijaya FC Ajay Merapat ke Persela
Ia juga berharap ada dukungan nyata dari manajemen dan investor agar tim bisa bertahan.
“Apapun yang terjadi musim ini, walaupun hasilnya pahit, kami pemain akan tetap berjuang agar SFC tidak hilang. Pemain kerja, manajemen harus kerja juga. Semoga ada kabar baik dari investor atau perusahaan yang mau membantu operasional,” tuturnya.
Dengan semangat “ikhlas dan cinta” seperti Rangga Pratama, Sriwijaya FC tetap berjuang meski berada di ujung tanduk, membuktikan bahwa sepak bola bukan hanya soal kemenangan, tapi juga tentang hati dan loyalitas.