TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Halimi (55) mengaku sudah 25 tahun lamanya berjualan minuman tradisional Lahang atau minuman nira di Kota Bogor.
Minuman legendaris dengan rasa manis dan segar khas Jawa Barat ini dijajakan dengan cara yang masih tradisional.
Yaitu menggunakan batang bambu besar berisi minuman lahang yang dipikul sambil berjalan kaki keliling kota.
Terpantau ada dua batang bambu besar berisi minuman yang Halimi pikul ini.
Di salah satu bambu juga dibuatkan tempat meletakan gelas yang juga terbuat dari bambu.
Ditambah plastik dan sedotan diikat di batang bambu untuk pembeli yanf memilih menggunakan plastik.
Dijajakan Rp 5000 per gelas, Halimi mencari titik keramaian di Kota Bogor demi mendapat banyak pembeli.
Bahkan Halimi juga terkadang mendatangi keramaian meski itu sebuah aksi unjuk rasa dengan harapan demonstran bisa membeli minuman lahangnya.
"Ada 25 tahun (jualan). Biasanya keliling ke Sempur, Suryakencana," kata Halimi kepada TribunnewsBogor.com.
Halimi mengaku bahwa dia berasal dari Cigombong, Kabupaten Bogor.
Daerah Halimi tinggal berjarak sekitar 26 Km dari pusat Kota Bogor.
"Pulang pergi naik angkot atau col mini, atau bus, setiap hari kalau lagi gak hujan mah. Kurang (laku) soalnya kalau lagi hujan," kata Halimi.
Halimi mengaku bahwa puluhan tahun berjualan minuman lahang ini, dia sudah menghidupi istri dan tiga orang anaknya.
Kini di usianya yang tak lagi muda, tinggal satu anak bungsunya yang masih dia urus.
"Sekarang sudah punya cucu tiga. Anak tiga, udah nikah dua, satu lagi mesantren, dulu di Banten, sekarang pindah ke Garut," kata Halimi.
Baca juga: Ternyata Ini Asal Muasal Barang-barang Bekas di Pasar Loak, Pedagang di Bogor Beri Pengakuan
Halimi membeberkan bagaimana minuman lahang manis dan segar yang dia jajakan ini.
"Ini dari pohon aren, yang biasa diambil bunganya jadi kolang kaling," kata Halimi.
Dia mengaku bahwa lahang atau cairan dari pohon aren ini dia tak mengambilnya sendiri.
Tapi dia biasanya beli dari penyadap cairan gula aren di kampungnya.
"Lahangnya beli lagi dari yang nyadap, ambilnya sore sekali, pagi sekali, clak-clak netes gitu. Ini dicampur air lagi, dimasukin es," kata Halimi.
Sehingga minuman ini rasanya manis natural dari aren murni dan juga menyegarkan.
Setiap pergi berjualan, Halimi mengaku bisa membawa 20 liter minuman lahang di dua bambu besar yang dia pikul.
"Ini namanya lodong," kata Halimi menjelaskan dua bambu besar tempat minuman lahangnya.
"Ini 10 liter, ini 10 liter, jadi ada 20 liter, beratnya segalon aja, 20 Kg mah ada dua bambu ini," sambung dia.
Pedagang minuman lahang legendaris yang dijajakan dengan cara tradisional ini juga memikat wisatawan yang datang ke Bogor.
Sebab di era yang makin modern ini, Halimi tetap mempertahankan gaya tradisional berjualan minuman lahang menggunakan bambu.
Hal ini pun menjadi keunikan tersendiri di mata wisatawan yang datang ke Kota Bogor.
"Saya juga suka dimasukin ke TikTok, kalau lagi jualan di Suryakencana, suka difotoin terus," kata Halimi tertawa.