IHSG Terkoreksi -1,37 Persen di Mid-End Januari 2026, IPOT Rekomendasi Saham Defensif dan Uptrend
January 27, 2026 01:32 AM

 

SURYA.co.id | SURABAYA - Sepanjang periode 19–23 Januari 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi sebesar -1,37 persen dan ditutup di level 8.951,01 pada akhir perdagangan Jumat (23/1/2026).

Pelemahan ini dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan domestik.

Baca juga: Net Buy Asing Capai Rp3,2 Triliun di Pertengahan Januari 2026, IPOT: Perhatikan Pasar Domestik

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah, menjelaskan sentimen dari global yang memengaruhi IHSG yakni meningkatnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Eropa menekan sentimen risiko pasar.

Sementara dari dalam negeri, tekanan IHSG diperparah oleh koreksi tajam pada saham-saham berkapitalisasi besar seperti ASII dan UNTR di awal pekan.

"Koreksi UNTR terjadi menyusul pencabutan izin tambang emas milik anak usahanya oleh pemerintah. Selain itu, tekanan pasar berlanjut seiring kebijakan MSCI yang akan menerapkan formula perhitungan baru, sehingga memicu aksi jual pada saham-saham dengan narasi indeks MSCI seperti BUMI, PTRO, dan emiten terkait lainnya," jelas Hari, dalam rilisnya Senin (26/1/2026).

Sentimen Pekan Ini

Memasuki pekan perdagangan mendatang, mulai Senin (26/1/2026) hingga Jumat (30/1/2026), Hari memprediksi, Wall Street diperkirakan bergerak terbatas dengan kecenderungan konsolidasi seiring meningkatnya sikap kehati-hatian investor di tengah beragam sentimen global dan agenda pasar ke depan.

"Dari Amerika Serikat, pasar juga akan mencermati rilis sejumlah data ekonomi penting, seperti Non-Farm Payrolls (NFP), neraca perdagangan serta data jobless claims, yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan pasar dan membentuk ekspektasi pelaku pasar terhadap kebijakan moneter selanjutnya," jelas Hari.

Sementara itu dari sisi domestik makro, pemerintah Indonesia diperkirakan akan semakin memfokuskan kebijakan pada upaya menjaga stabilitas makroekonomi dan memperkuat nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS di tengah meningkatnya volatilitas pasar global.

"Langkah tersebut tercermin dari sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang berkelanjutan, mulai dari pengendalian defisit anggaran, optimalisasi penerimaan negara, hingga pengelolaan belanja yang lebih terarah," jelas Hari.

Ia menambahkan dari sisi moneter, Bank Indonesia cenderung mempertahankan suku bunga acuannya sebagai upaya menjaga daya tarik aset domestik sekaligus mendukung stabilisasi pasar valas dan pengelolaan likuiditas.

"Kombinasi kebijakan ini diharapkan dapat menahan tekanan eksternal, menjaga kepercayaan investor, serta menopang stabilitas pasar keuangan domestik kedepan," beber Hari.

Proyeksi dan Rekomendasi IPOT Pekan Ini

Berbicara tentang potensi market untuk sepekan ke depan, Hari memperkirakan IHSG bergerak konsolidatif dalam range support 8950 dan resistance 9080, meskipun aturan baru terkait perhitungan free float belum resmi diberlakukan.

"Pasar cenderung bergerak lebih dahulu dengan mengantisipasi skenario terburuk, sehingga pelaku pasar mulai melakukan penyesuaian posisi," terang Hari.

Dampaknya, saham-saham yang sebelumnya diperdagangkan dengan valuasi premium berbasis narasi indeks mulai mengalami normalisasi harga seiring penyesuaian ekspektasi investor.

"Dalam kondisi tersebut investor dan trader dapat mencermati peluang pada saham-saham defensif maupun saham yang masih berada dalam tren naik (uptrend), khususnya yang didukung oleh volume transaksi yang solid serta aliran dana asing. Meski demikian, manajemen risiko tetap menjadi faktor utama yang perlu diperhatikan di tengah potensi volatilitas pasar," beber Hari.

Merespons dinamika market yang ada saat ini, IPOT yang kini telah bertransformasi menjadi Wealth Creation Platform merekomendasikan strategi investasi pada saham-saham uptrend dengan dengan Booster Modal dan instrumen obligasi yang semuanya ini bisa dikelola dengan fitur Multi-Account untuk memisahkan setiap strategi ataupun tujuan investasi sehingga risiko lebih mudah untuk dikelola dan fitur Shared Access yang dapat digunakan keluarga dan komunitas untuk berkolaborasi dan berinvestasi bersama.

1. Buy AADI ( Entry: 8450, Target Price: 8875, Stop Loss: 8200). Secara teknikal, AADI masih bergerak dalam tren uptrend dan didukung oleh aksi akumulasi asing yang konsisten. Dalam sepekan terakhir, saham AADI tercatat dibukukan net buy asing sebesar Rp145 miliar, sehingga potensi kelanjutan penguatan dinilai masih relatif kuat seiring terjaganya minat beli investor.

2. Buy PGAS (Entry: 2270, Target Price: 2680, Stop Loss: 2150). Secara teknikal, PGAS juga mencatat penguatan yang cukup solid dengan pergerakan uptrend yang didukung oleh peningkatan volume perdagangan. Selain faktor teknikal, sentimen positif datang dari kenaikan harga gas alam di pasar global, yang turut memperkuat prospek kinerja emiten. Dengan kombinasi tersebut, PGAS dinilai masih memiliki potensi penguatan yang relatif besar untuk pergerakan pekan ini.

3. Buy EMAS (Entry: 6175, Target Price: 6800 dan Stop Loss: 6050). Saham EMAS yang berhasil menembus area all time high pada pekan lalu masih berpotensi melanjutkan penguatan. Prospek positif ini sejalan dengan kenaikan harga emas global yang masih berada dalam fase rally, sehingga sentimen terhadap saham berbasis emas tetap kuat.

4. Buy Obligasi PBS38 dan FR59 di IPOT Bond dengan harga beli yang lebih kompetitif dibandingkan platform lain. Bagi investor yang ingin memperoleh imbal hasil maksimal, seri PBS38 dengan YTM 6,67?pat menjadi pilihan utama karena menawarkan return kompetitif dengan tenor panjang. Sementara itu, untuk investor yang lebih mengutamakan fleksibilitas dengan tenor jangka pendek, seri FR59 dengan YTM 4.75 % tetap memberikan peluang menarik.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.