TRIBUNJATENG.COM, BATANG – Sekitar 700 warga Dukuh Rejosari, Desa Pranten, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang mengungsi setelah kampung mereka diterjang longsor.
Sebagian warga mengungsi ke rumah sanak saudara mereka, sebagian lainnya ke tempat-tempat pengungsian yang disediakan pemerintah setempat.
Longsor terjadi, pada Jumat (23/1/2026) pukul 17.30.
Peristiwa tersebut menyebabkan dua rumah rusak parah dan hampir 700 warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Tak hanya permukiman, material longsor dan pohon tumbang juga menutup sejumlah jalur vital, termasuk akses Dukuh Pranten dari Rejosari dan Deles, serta jalur Rejosari-Sigemplong.
Akibatnya, Desa Pranten sempat lumpuh total karena listrik padam dan distribusi air bersih terhenti.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Batang, Muhammad Fajri menjelaskan, longsor dipicu oleh hujan lebat disertai angin kencang yang mengguyur wilayah tersebut sejak Jumat pagi hingga petang.
“Material tebing menjadi basah dan tidak kuat menahan beban sehingga terjadi longsor. Penyebab utamanya adalah cuaca ekstrem,” kata Fajri kepada Tribun Jateng, Senin (26/1/2026).
Dampak langsung longsor mengenai dua rumah.
Satu rumah milik Mahno (53) rusak total tertimbun material longsoran, sementara rumah Turahman (55) rusak berat.
Keduanya merupakan petani yang tinggal di RT 04 RW 02 Dukuh Rejosari, Pranten.
Selain itu, terdapat 14 rumah yang berada di zona rawan longsor.
Sebagai langkah antisipasi, BPBD bersama pemerintah desa dan unsur terkait telah melakukan pengungsian warga sebelum kondisi memburuk.
Berdasarkan data BPBD Kabupaten Batang, dari total 170 kepala keluarga di Dukuh Rejosari, 110 KK mengungsi ke rumah kerabat di wilayah Dieng Kulon.
Adapun 60 KK lainnya masih bertahan di sekitar lokasi dengan kewaspadaan tinggi.
“Hasil asesmen kami, 259 warga mengungsi ke rumah sanak saudara di wilayah Dieng, sementara 430 warga lainnya mengungsi di lokasi yang lebih aman di sekitar Desa Pranten dan Pacet. Total hampir 700 warga terdampak,” papar Fajri.
BPBD Kabupaten Batang bersama lintas sektor terus melakukan penanganan darurat dengan menyalurkan bantuan logistik pangan dan nonpangan.
Bantuan dari BPBD meliputi selimut, kasur lipat, matras, family kit, serta satu unit gergaji mesin untuk membantu pembersihan material longsor.
“Gergaji mesin sangat dibutuhkan warga untuk membuka akses dan penanganan darurat, sehingga kami prioritaskan untuk Desa Pranten,” ucapnya.
Sementara itu, dapur umum direncanakan didirikan di Balai Desa Pranten dan dikelola oleh warga setempat bersama relawan.
Untuk warga yang mengungsi di Dieng, bantuan difokuskan melalui jalur keluarga karena sebagian besar pengungsi memilih tinggal bersama kerabat.
Terkait kerawanan wilayah, Fajri mengungkapkan bahwa lokasi longsor sebenarnya telah masuk dalam rencana relokasi sejak tiga tahun lalu.
Namun, dari sepuluh rumah yang dianjurkan pindah, baru dua rumah yang bersedia direlokasi.
Tinjauan wakil bupati
Pada Senin (26/1/2026) kemarin, Wakil Bupati Batang, Suyono, bersama Wakapolres Batang dan unsur Muspika Kecamatan Bawang meninjau langsung lokasi kejadian.
Di hadapan warga dan petugas gabungan, Suyono memastikan penanganan darurat berjalan maksimal serta keselamatan warga menjadi prioritas utama.
“Alhamdulillah tidak ada korban jiwa. Namun kondisi tanah masih sangat labil sehingga warga kami minta tetap waspada dan tidak memaksakan kembali ke rumah,” kata Suyono kepada Tribun Jateng.
Ia mengapresiasi keterlibatan TNI, Polri, relawan, hingga perusahaan Geodipa yang menurunkan alat berat untuk membantu pembersihan material longsor.
Di sisi lain, Pemkab Batang melalui Dinas Sosial (Dinsos) menyalurkan bantuan logistik bagi warga terdampak bencana longsor di Desa Pranten.
Penyaluran dilakukan bekerja sama dengan BPBD sebagai upaya memenuhi kebutuhan dasar pengungsi.
Kepala Dinsos Kabupaten Batang, Willopo, mengatakan bantuan yang dikirimkan berupa bahan makanan mentah agar dapat langsung dimasak di lokasi oleh dapur umum warga setempat.
“Ini menindaklanjuti permintaan logistik terkait bencana longsor di Pranten. Kami bekerja sama dengan BPBD untuk mengirimkan bantuan. Perkiraannya antara 1,5 hingga 3 kuintal bahan logistik,” kata Willopo, Senin.
Bantuan yang disalurkan antara lain bihun jagung 6 dus, minyak goreng 36 liter, telur 60 kilogram, serta kertas nasi 6 pack.
Menurutnya, logistik tersebut diharapkan cukup untuk memenuhi kebutuhan warga selama beberapa hari ke depan.
Willopo menjelaskan, Dinsos sengaja menyalurkan bantuan dalam bentuk bahan mentah karena di Desa Pranten telah tersedia dapur umum swadaya masyarakat.
“Kalau dimasak di sini lalu dikirim, selain butuh waktu lama, sampai di lokasi juga sudah dingin dan tidak maksimal. Jadi lebih efektif bahan mentah agar langsung dimasak di sana,” jelasnya.
Selain menyalurkan bantuan ke Pranten, Dinsos Batang juga tetap menyiagakan stok logistik di kantor sebagai antisipasi jika kembali membuka Dapur Umum (DU).
Sebelumnya, Dinsos telah mengoperasikan dapur umum selama delapan hari pascabencana. (Tito Isna Utama)