Program Creative Youth Center Kotim Dipertanyakan Setelah Hampir Setahun Tanpa Kabar
January 27, 2026 11:05 AM

 

TRIBUNKALTENG.COM, SAMPIT - Waktu terus berjalan, namun kabar tentang Creative Youth Center (CYC) di Kabupaten Kotawaringin Timur justru terasa semakin senyap. 

Program unggulan yang dulu dielu-elukan sebagai ruang masa depan bagi pemuda, kini nyaris tak terdengar gaungnya.

Hampir satu tahun sejak kembali dilantik untuk periode kedua, Bupati Kotim Halikinnor belum juga menunjukkan progres nyata atas program tersebut. 

Di tengah kondisi bupati yang dalam beberapa pekan terakhir dikabarkan berada di Jakarta untuk menjalani perawatan kesehatan, sejumlah janji kampanye kembali dipertanyakan publik.

Satu diantaranya yaitu program unggulan Creative Youth Center atau ikon keberpihakan kepada generasi muda yang pernah menjadi materi kampanye politik, namun hingga kini belum benar-benar hadir di lapangan.

Kekecewaan itu datang dari Komunitas Pemuda Peduli Masyarakat (KPPM). 

Organisasi ini menilai, absennya progres CYC mencerminkan lemahnya komitmen pemerintah daerah terhadap janji publik.

“Hampir satu tahun berlalu, tapi tidak ada penjelasan yang bisa dipegang. Yang ada hanya narasi. Ini bukan persoalan sabar atau tidak sabar, ini soal tanggung jawab,” ujar Ketua Umum KPPM, M Ridho. 

Menurutnya, Creative Youth Center seolah berhenti di ruang pidato dan dokumen kampanye. 

Tidak ada informasi terbuka mengenai perencanaan, tahapan pelaksanaan, maupun pelibatan komunitas pemuda yang seharusnya menjadi subjek utama program tersebut.

Alih-alih menjadi ruang tumbuh kreativitas, CYC kini dinilai kabur arah dan tujuan. 

KPPM bahkan menilai kondisi ini menyerupai pola lama dalam politik daerah janji dibunyikan keras saat kampanye, lalu perlahan memudar setelah kekuasaan diraih.

“Kalau hampir satu tahun hanya dihabiskan di tahap wacana, wajar kalau publik bertanya: ini program pembangunan atau sekadar alat pencitraan?” lanjutnya.

Kritik juga diarahkan pada minimnya partisipasi pemuda lokal. KPPM menilai, program yang mengatasnamakan pemuda namun dijalankan tanpa melibatkan mereka, pada akhirnya akan kehilangan makna.

“Tanpa pemuda di dalamnya, Creative Youth Center hanya jadi nama. Tidak ada isi, tidak ada jiwa,” katanya.

KPPM menegaskan bahwa generasi muda Kotawaringin Timur tidak membutuhkan slogan kreatif yang muncul setiap musim Pilkada. 

Yang dibutuhkan adalah kejelasan kebijakan, transparansi proses, serta keberanian pemerintah untuk menepati janji atau jujur jika belum mampu merealisasikannya.

Baca juga: Terik Menyengat di Sampit, Warga Kotim Menanti Hujan yang Mulai Diprediksi BMKG

Baca juga: Gudang Rumah di Ketapang Sampit Kotim Terbakar, Diduga Akibat Korsleting Listrik

“Kami tidak menuntut proyek besar. Kami hanya ingin kejujuran. Jika belum siap, sampaikan ke publik. Jangan biarkan pemuda terus menunggu tanpa kepastian,” tegasnya.

Menjelang kembali menghangatnya suhu politik lokal, KPPM mengingatkan agar Creative Youth Center tidak lagi dijadikan komoditas elektoral tanpa evaluasi dan komitmen keberlanjutan yang jelas.

KPPM memastikan akan terus bersuara dan mengawal setiap janji politik yang membawa nama pemuda, karena masa depan generasi muda Kotawaringin Timur dinilai terlalu berharga untuk dikorbankan demi kepentingan jangka pendek.

“Satu tahun tanpa progres adalah alarm. Pemuda mengingat, dan publik menilai,” tutup Ketua Umum KPPM.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.