RSUD Ajibarang Hadirkan Layanan Bak Hotel, Pasien Disuguhi Aroma Kopi
January 27, 2026 04:07 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Siapa sangka, datang ke rumah sakit pemerintah kini bisa terasa seperti masuk ke hotel atau pusat perbelanjaan. 


Di RSUD Ajibarang, pasien tidak lagi disambut bau obat dan antrean panjang, melainkan aroma kopi, sofa empuk, pendingin ruangan sejuk, hingga area bermain anak.


RSUD Ajibarang, Kabupaten Banyumas, melakukan transformasi besar-besaran dengan mengusung konsep pelayanan senyaman hotel dan mall, sekaligus memangkas proses layanan agar secepat perbankan.


Transformasi tersebut dirangkum dalam inovasi bertajuk "Sembilan Wali", yang menekankan kenyamanan pasien, efisiensi layanan, serta pendekatan psikologis dalam penyembuhan.


Direktur RSUD Ajibarang, dr. Noegroho Harbani, M.Sc., Sp.S, mengatakan rumah sakit harus berubah mengikuti ekspektasi masyarakat modern yang menuntut pelayanan cepat, ramah, dan nyaman.


"Kami ingin membuang kesan rumah sakit pemerintah itu lambat dan kaku. 


Kami ubah interior seperti rumah sakit swasta, sofa nyaman, AC dingin, kamar mandi bersih seperti hotel. 


Bahkan kami hadirkan aroma kopi agar kesan rumah sakitnya hilang, berganti seperti di mall," ujar dr. Noegroho kepada Tribunbanyumas.com dalam rilis dalam rangka memasuki hari jadi ke-19, Selasa (27/1/2026).


Salah satu inovasi yang mencuri perhatian adalah penggunaan aromaterapi alami melalui kerja sama dengan gerai Roti Kopi.


Aroma kopi sengaja dihadirkan menciptakan rasa nyaman dan mengurangi kecemasan pasien.


Desain interior poliklinik juga diperbarui dengan konsep modern, ruang tunggu luas, sofa empuk, serta pendingin ruangan yang merata.


Tak hanya fisik bangunan, sistem manajemen rumah sakit (SIM RS) juga direformasi.


Sebelumnya proses administrasi berbelit, kini dipangkas menjadi tiga langkah praktis untuk meningkatkan efisiensi.


"Target kami pelayanan sekelas perbankan, cepat dan presisi," katanya.

Baca juga: Solusi untuk Korban Longsor Desa Sampang Kebumen, Jembatan Darurat hingga Relokasi


Di unit farmasi, waktu tunggu obat non-racikan yang sebelumnya bisa mencapai tiga jam kini ditargetkan di bawah 30 menit.


Ruang tunggu farmasi juga didesain senyaman mungkin agar pasien tidak merasa jenuh.


RSUD Ajibarang juga memberi perhatian khusus bagi pasien anak dengan menghadirkan Kidsland di area poliklinik dan playground di ruang rawat inap.


Anak-anak bisa makan sambil melihat akuarium atau bermain mobil-mobilan.


"Kami percaya psikis yang bahagia akan mempercepat kesembuhan," ungkap dr. Noegroho.


Ruang fisioterapi pun didesain menyerupai klinik kecantikan atau spa, agar pasien merasa lebih rileks saat menjalani terapi nyeri.


Sebagai rumah sakit rujukan utama BPJS di Banyumas Barat, RSUD Ajibarang mencatat Bed Occupancy Rate (BOR) umum di atas 92 persen.


Layanan kesehatan jiwa juga menjadi fokus baru karena tingginya prevalensi gangguan jiwa yang dipicu faktor ekonomi.


"Di Banyumas baru ada dua layanan jiwa besar di wilayah Timur. 


Kami di wilayah Barat mencoba menjaring itu untuk membantu masyarakat," jelasnya.


Saat ini BOR layanan jiwa mencapai sekitar 70 persen.


Soal akses kesehatan, RSUD Ajibarang menegaskan tidak boleh ada warga yang gagal berobat karena kendala biaya.


Bagi pemegang KTP Banyumas, tersedia program Universal Health Coverage (UHC).


Sementara warga non-KTP Banyumas yang benar-benar tidak mampu akan dibantu melalui dana Unit Pengumpul Zakat (UPZ).


"Kalau ada ketidakpuasan pelayanan, silakan langsung hubungi saya atau Japri Direktur. 


Kami ingin terus berbenah dan memberi pelayanan terbaik," tutup dr. Noegroho. (jti) 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.