Banjir Lumpur Gunung Slamet Bikin Mata Air Keruh, Warga Sokaraja Banyumas Susah
January 27, 2026 04:07 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Warga Perumahan Puri Wiradadi 3, Desa Wiradadi, Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas, harus berhemat air sejak akhir pekan lalu setelah aliran air Perumdam Tirta Satria mendadak berhenti. 


Gangguan tersebut dipicu banjir lumpur di kawasan kaki Gunung Slamet yang mengacaukan sistem pengolahan air bersih di Banyumas.


Sekretaris RT 8 RW 4 Desa Wiradadi, Woto, mengatakan aliran air di perumahannya mati sejak Minggu (25/1/2026) dini hari.


"Info yang kami dapat, instalasi pengolahan air dari Sungai Serayu di Desa Pegalongan mengalami gangguan akibat banjir lumpur. 


Alhamdulillah dalam dua hari ini, warga kami mendapatkan bantuan air bersih dari Perumdam," kata Woto kepada Tribunbanyumas.com, Selasa (27/1/2026).


Gangguan layanan tersebut dibenarkan Pelaksana Tugas Direktur Utama Perumdam Tirta Satria Banyumas, Wipi Supriyanto. 


Ia mengatakan banjir lumpur yang terjadi Sabtu (24/1/2026) dini hari berdampak pada sejumlah sumber mata air utama di kaki Gunung Slamet.


"Beberapa sumber mata air di kaki Gunung Slamet terdampak banjir lumpur, sehingga air bercampur material lumpur masuk ke brown capturing kami dan otomatis memengaruhi proses pengolahan serta pelayanan kepada pelanggan," ujar Wipi.

Baca juga: Hari Ini Tanggal 8 Syaban, Berikut Jadwal Ramadan 1447 Hijriah


Akibat masuknya material lumpur ke sistem, Perumdam Tirta Satria harus melakukan pembuangan lumpur dan air keruh di jaringan distribusi. 


Sehingga pelayanan air bersih kepada pelanggan di sejumlah wilayah sempat terganggu.


Menurut Wipi, kondisi sempat membaik dan air mulai kembali jernih. 


Namun, hujan susulan kembali memicu banjir lumpur dan membuat gangguan layanan kembali terjadi.


"Secara pelan-pelan sudah mulai membaik dan jernih kembali, tetapi tiba-tiba datang lumpur lagi karena banjir di wilayah Gunung Slamet sore kemarin, sehingga kembali berdampak," tegasnya.

Selain itu, sejumlah sumber air juga mengalami penyumbatan akibat endapan lumpur. 


Hal tersebut menyebabkan debit air mengecil dan distribusi air bersih belum sepenuhnya normal, terutama di wilayah selatan Banyumas.


Wipi menyebut tingkat kekeruhan air baku sempat mencapai 20 ribu Nephelometric Turbidity Unit (NTU), jauh di atas ambang batas normal sekitar 600 NTU. 


Dalam kondisi tertentu, pihaknya terpaksa tetap mengolah air dengan tingkat kekeruhan hingga 3.000 NTU agar pelayanan tetap berjalan meski tidak maksimal.


"Kalau sudah di atas standar tentu butuh bahan lebih banyak dan itu pemborosan, tetapi mau tidak mau tetap kami upayakan agar pelanggan tetap mendapatkan air," ujarnya.


Sebagai langkah darurat, Perumdam Tirta Satria mendistribusikan air bersih menggunakan mobil tangki ke wilayah terdampak, meskipun distribusi tersebut belum dapat menjangkau seluruh pelanggan secara merata.


Berdasarkan laporan terbaru, kondisi air di sejumlah titik kini mulai kembali jernih. 


Namun, pemerataan tekanan air diperkirakan masih membutuhkan waktu beberapa hari ke depan.


"Sekarang sudah mulai normal, beberapa titik sudah jernih. 


Untuk tekanan mungkin dua hari lagi baru bisa terasa lebih normal," terang Wipi.


Pihaknya menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pelanggan atas gangguan layanan tersebut dan berharap masyarakat bersabar karena gangguan dipicu faktor alam di luar kendali pengelola.


Perumdam Tirta Satria memastikan terus melakukan pembersihan sumber air dan jaringan distribusi serta pemantauan intensif guna memulihkan layanan air bersih secara bertahap di seluruh wilayah Banyumas. (jti) 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.