Jawaban BP3MI Sulut Soal Meylani Pekerja Migran Manado Terjebak di Libya, Belum Ada Balasan
January 27, 2026 05:22 PM

TRIBUNMANADO.CO.ID - Pihak BP3MI Sulut angkat bicara mengenai nasib Meylani Madalombang, pekerja Migran asal Manado yang diduga mengalami penganiayaan di Libya. 

Jarak antara Indonesia dan Libya mencapai 10.722 kilometer.

Hence Tamboto anggota tim perlindungan BP3MI Sulut mengatakan, pihaknya telah menangani kasus tersebut sesuai kewenangan. 

Baca juga: Curhat Meylani Pekerja Migran Indonesia Asal Manado di Libya Sudah Tidak Kuat, Kerja Seperti Robot

Ia menuturkan, tim menerima laporan dari keluarga pada 18 Maret 2025.

"Begitu menerima laporan, kami langsung turun ke penyalur untuk melakukan klarifikasi," katanya. 

Langkah selanjutnya, beber dia, adalah tim mengirim laporan ke Kementerian. 

Dari Kementerian lantas menyurat ke KBRI di Tripoli, Libya. 

"Namun hingga saat ini belum ada balasan," kata dia. 

Ungkap dia, tim bertindak sesuai kewenangan yang dimiliki. 

Dikatakannya, pemantauan tetap dilakukan terhadap Meylani. 

Kisah sedih kembali terdengar dari pekerja migrain Indonesia di Timur Tengah. 

Kali ini datang dari Meylani Madalombang. 

Pekerja Migran asal kota Manado, Sulut ini, diduga mengalami dugaan penganiayaan oleh majikan di Libya. 

Tak tahan, Meylani ingin pulang. 

Tapi sulit. 

Hingga kini, terjebak di negara tersebut dalam keadaan sakit.

Tribun manado beroleh video Meylani. Dalam video itu, Meylani minta tolong sambil menangis. 

"Saya korban TPPO, awalnya dijanjikan penyalur untuk bekerja di Turki, tapi kemudian saya dibawa ke Dubai dan setelah itu Libya, di sini saya terjebak selama 11 bulan, bekerja sebagai IRT tanpa surat kontrak, saya dipekerjakan secara berlebihan, dieksploitasi, saya tak kuat, saya sudah sakit tulang belakang saya, majikan tak mau memulangkan saya, saya minta tolong pada menteri luar negeri, BP2MI dan Menteri HAM," kata dia. 

Tribun manado menjumpai keluarga Meylani di Kelurahan Paal Empat lingkungan empat, Kecamatan TIkala, kota Manado, provinsi Sulut, Jumat (23/1/2026). 

Mereka tampak seperti sudah putus asa. 

Segala daya untuk memulangkan Meylani seperti membentur tembok tebal. 

"Kami sudah coba berbagai cara, tapi tidak berhasil," katanya Olivia Sangkay, adik korban sambil berurai air mata. 

Ia bercerita sang kakak diduga mengalami penyiksaan di dua majikannya. 

Pada majikan pertama di Benghazi, Meylani kerap mendapat lemparan benda tajam dari majikan perempuannya.

"Sebuah lemparan pisau melukai tangan kakak saya, kakak lantas minta pengobatan 
tapi tak diberikan," katanya. 

Lain lagi dengan majikan kedua di Tripoli. 

Sang kakak kerap dipekerjakan secara berlebihan.

"Tanpa batas waktu, ia hanya tidur sedikit, lalu bangun pagi dan bekerja hingga sang majikan pulang pada malam hari," katanya. 

Sebut dia, sang kakak mengeluh kaki dan pinggangnya sakit sampai sulit bangkit dari tempat tidur. 

Tapi majikan tak peduli. 

"Mereka terus memaksanya bekerja," katanya. 

Ungkap dia, Meylani kerap curhat padanya lewat video call. 

Tampak bila badannya sudah kurus.

"Badannya kurus dan kelihatan sedih sekali, saya selalu kuatkan dia, minta dia terus berdoa agar ada jalan keluar," katanya. 

Ia mengatakan, butuh perjuangan bagi sang kakak untuk meneleponnya.

Karena akses wifi dibatasi baginya. 

"Dirinya sering cari tempat yang ada sinyal lalu curi curi menelepon saya, dia minta agar saya cepat cepat membawanya, tapi apa yang bisa kami lakukan," kata dia. 

Pada kesempatan itu, Olivia mewakili keluarga minta bantuan kepada Presiden RI Prabowo Subianto, Menteri serta Gubernur Sulut Yulius Selvanus untuk membantu kepulangan kakaknya. 

"Dia sudah sangat menderita, kami minta tolong kepada bapak Presiden RI Prabowo Subianto, Menteri serta 
Gubernur Sulut Yulius Selvanus," kata dia. (ART)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.