Mengapa Longsor Cisarua Begitu Merusak? Badan Geologi Beberkan Perpaduan Morfologi dan Curah Hujan
January 27, 2026 11:29 PM

TRIBUNJABAR.ID, CISARUA - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merilis hasil investigasi mendalam terkait bencana longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Penyelidik Bumi Ahli Utama Badan Geologi, Anjar Heri Waseso, menegaskan bahwa peristiwa ini masuk dalam kategori aliran bahan rombakan (debris flow), sebuah fenomena longsoran dengan daya hancur yang jauh lebih tinggi dibandingkan longsoran tanah biasa.

Berikut adalah tiga faktor geologis utama yang menjadi penyebab skala kerusakan begitu masif:

1. Morfologi Ekstrem dan Energi Kinetik Raksasa

Faktor pertama adalah perbedaan ketinggian yang mencolok antara titik awal longsor (daerah ancam) dengan lokasi permukiman (daerah landaan).

Kemiringan lereng di titik awal mencapai 30 hingga 40 derajat, yang kemudian melandai ke arah bawah.

Baca juga: Badan Geologi Ungkap Longsor Cisarua KBB Bukan Longsor Biasa Tapi Tsunami Tanah Setebal 15 Meter

"Kemiringannya sangat ekstrem. Perbedaan tinggi ini menyebabkan material tanah memiliki energi besar saat bergerak ke bawah," ujar Anjar, Selasa (27/1/2026).

2. Ketebalan Tanah Vulkanik Mencapai 15 Meter

Kondisi bawah permukaan tanah di Cisarua memperparah keadaan.

GUNUNG BURANGRANG - Grafis yang memperlihatkan peta longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu 24 Januari 2026. Longsor ini menewaskan seratusan warga sipil dan TNI.
GUNUNG BURANGRANG - Grafis yang memperlihatkan peta longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu 24 Januari 2026. Longsor ini menewaskan seratusan warga sipil dan TNI. (Istimewa)

Berdasarkan temuan lapangan, ketebalan tanah hasil pelapukan vulkanik di lokasi tersebut mencapai lebih dari 15 meter.

Karakteristik tanah vulkanik ini bersifat sangat gembur dan memiliki daya serap air yang tinggi.

Namun, sifat ini justru menjadi bumerang saat curah hujan ekstrem terjadi. 

"Tanah setebal itu mengalami penjenuhan. Saat mencapai titik jenuh, material dalam volume besar langsung tertransportasi ke lereng bawah," jelasnya.

3. Sistem Drainase Alami dan Daya Kikis Air

Faktor ketiga adalah adanya jalur akumulasi air alami yang sempit.

Curah hujan ekstrem di atas 200 milimeter per hari (data BMKG) terkonsentrasi pada jalur tersebut, menciptakan daya kikis (erosional) yang sangat kuat.

Akibatnya, material tanah tidak sekadar jatuh, melainkan mengalir dan menyambar area di bawahnya mengikuti jalur sungai atau celah alami yang sudah ada.

Geologi Dominan, Alih Fungsi Lahan Berpengaruh

Mengenai isu alih fungsi lahan yang santer diperbincangkan, Badan Geologi memberikan catatan penting.

Meski berpengaruh, faktor geologi alamiah tetap menjadi penyebab dominan.

"Faktor alih fungsi memang berpengaruh, tapi kita lihat sumbernya memang di morfologi yang sangat curam dan tanah yang gembur. Karena butiran tanahnya kecil, ia bisa mengalir sangat jauh," ucap Anjar.

Mengenal Debris Flow: Aliran "Bubur" Raksasa yang Mematikan

Berdasarkan penjelasan Badan Geologi, longsor di Cisarua dikategorikan sebagai Aliran Bahan Rombakan atau Debris Flow.

Fenomena ini jauh lebih berbahaya dibandingkan longsor tanah biasa karena karakteristiknya yang menyerupai aliran cairan kental namun berisi material padat.

Apa yang membedakannya dengan longsor biasa?

Komposisi Material: Jika longsor biasa umumnya hanya berupa massa tanah yang jatuh, Debris Flow adalah campuran "bubur" dari air, tanah gembur, bebatuan, hingga pepohonan yang terseret.

Kecepatan dan Daya Dorong: Karena memiliki kandungan air yang tinggi (akibat curah hujan ekstrem), material ini bergerak sangat cepat dan memiliki energi kinetik yang sanggup menghancurkan apa pun yang dilaluinya.

Pola Aliran: Aliran ini cenderung mengikuti jalur lembah atau sungai, namun karena volumenya yang sangat besar (mencapai ketebalan 15 meter), ia akan meluap dan "menyambar" area di sisi jalur tersebut.

Mengapa ini terjadi di Cisarua? Perpaduan antara tanah vulkanik yang sangat tebal, lereng yang sangat curam, dan curah hujan di atas 200 mm/hari menciptakan kondisi sempurna bagi tanah untuk berubah menjadi aliran bahan rombakan yang meluncur sejauh ribuan meter dari titik awal.

Zona Merah: Wajib Relokasi Total

Mengingat jalur aliran material sudah terbentuk dan sisa material masif masih menggantung di atas lereng, Badan Geologi menyatakan area bekas longsoran tidak lagi layak huni.

“Kita harus tinggalkan itu. Kita harus relokasi daerah yang sudah terlanda sekarang ini,” tegasnya.

Pihak Badan Geologi kini tengah melakukan delineasi ulang untuk memetakan zona ancaman demi mengantisipasi longsor susulan jika hujan kembali mengguyur.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.