TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Jajaran manajemen sebuah perusahaan fintech BUMN mengunjungi Yayasan Yatim Piatu di Jakarta Pusat, Selasa (27/1/2026). Kegiatan tersebut diisi dengan doa bersama serta interaksi langsung dengan anak-anak panti.
Sejak pagi, perwakilan manajemen mengikuti sejumlah aktivitas kebersamaan, mulai dari permainan ringan hingga sesi perkenalan. Interaksi dilakukan secara langsung melalui dialog singkat dan pendampingan kegiatan anak-anak, tanpa seremoni formal.
Direktur Utama PT Finnet Indonesia (Finpay), Rakhmad Tunggal Afifuddin, menyampaikan bahwa empati perlu menjadi bagian dari budaya kerja organisasi.
Menurutnya, keberlanjutan perusahaan tidak hanya bergantung pada kinerja bisnis, tetapi juga pada relasi yang sehat dengan lingkungan sosial.
“Upaya membangun empati di lingkungan kerja perlu dimulai dari keterlibatan pimpinan,” ujar Rakhmad dalam keterangan tertulis.
Sejumlah kajian ketenagakerjaan di Indonesia menunjukkan bahwa kegiatan sosial perusahaan yang dilakukan secara konsisten dan melibatkan pimpinan berpotensi memperkuat budaya kerja kolaboratif.
Keterlibatan langsung dalam aktivitas sosial dinilai dapat meningkatkan rasa kepemilikan (sense of belonging) karyawan terhadap organisasi serta menumbuhkan empati dalam relasi kerja sehari-hari.
Namun, pakar sumber daya manusia menilai dampak tersebut baru efektif apabila kegiatan sosial terhubung dengan kebijakan internal perusahaan, termasuk kepemimpinan, pengembangan SDM, dan etika kerja, bukan sekadar agenda seremonial.
Baca juga: Perekonomian Global 2026 Masih Penuh Tantangan, Investor Perlu Cermati Hal Ini
Pengurus Rumah Piatu Muslimin, Tika, menilai kegiatan tersebut memberi dampak positif bagi anak-anak panti. Ia menyebut kehadiran perwakilan perusahaan membuka ruang interaksi yang lebih personal.
“Anak-anak merasa diperhatikan dan diajak berinteraksi,” katanya.
Kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan santunan serta makan bersama. Acara ditutup dengan ramah tamah antara pengurus yayasan, anak-anak, dan perwakilan perusahaan.