Ahli Gizi Jelaskan Standar Ketat MBG Berbasis AKG, Menu Bisa Disesuaikan dengan Selera Lokal
January 28, 2026 08:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Variasi menu dan masih adanya sisa makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membuka diskusi lebih luas soal kualitas implementasi program strategis nasional tersebut.

Dari sisi keilmuan gizi, desain MBG sesungguhnya telah disusun dengan standar ketat, mulai dari perencanaan menu hingga evaluasi penerimaan makanan di tingkat sekolah.

Dosen Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Pangkalpinang, Karina Dwi Handini, SP, MPH, menegaskan bahwa penyusunan menu MBG berbasis Angka Kecukupan Gizi (AKG) dan mengacu pada Panduan Pemberian MBG Kementerian Kesehatan Tahun 2024.

"MBG dirancang untuk memperbaiki asupan energi dan zat gizi penting, meningkatkan ketahanan fisik, sekaligus membentuk kebiasaan makan sehat menuju Indonesia Emas 2045," kata Karina kepada Bangkapos.com, Rabu (28/1/2026).

Menurutnya, MBG tidak hanya menyasar anak sekolah, tetapi juga ibu hamil, ibu menyusui, balita, hingga santri. Setiap kelompok sasaran memiliki kebutuhan gizi berbeda yang sudah dihitung secara rinci.

Sebagai contoh, anak usia 1-3 tahun membutuhkan sekitar 1.350 kkal energi, 20 gram protein, 45 gram lemak, dan 215 gram karbohidrat per hari.

Dalam skema MBG, porsi yang diberikan harus memenuhi 20-25 persen kebutuhan energi harian untuk balita hingga siswa SD, dan 30-35 persen untuk ibu hamil, menyusui, serta siswa SMP dan SMA.

Karina menjelaskan, penyusunan menu MBG dilakukan melalui tahapan berlapis, mulai dari identifikasi bahan pangan, penyusunan master menu, pemilihan resep, hingga perhitungan kebutuhan pangan lokal.

Prinsipnya tidak hanya memenuhi gizi, tetapi juga mempertimbangkan keamanan pangan, sanitasi, dan kebiasaan makan anak.

Namun, temuan di lapangan bahwa menu MBG dinilai kurang bervariasi dan sering menyisakan makanan, menurut Karina, harus dibaca secara komprehensif.

"Pemberian makanan bergizi bukan pekerjaan sehari-dua hari. Identifikasi kesukaan dan ketidaksukaan anak seharusnya dilakukan sejak awal. Jika ini dilakukan dengan baik, sisa makanan bisa diminimalisir," ujarnya.

Ia menekankan bahwa variasi menu sebenarnya sudah diantisipasi dalam tahap perencanaan. Salah satunya dengan mengatur frekuensi penggunaan bahan pangan dalam satu siklus menu.

"Kalau satu bahan terlalu sering muncul, bisa diganti dengan bahan lain dari kelompok pangan yang sama agar tidak monoton," jelasnya.

Menanggapi kemungkinan penyesuaian menu dengan karakteristik daerah, Karina menyebut hal tersebut tidak bertentangan dengan standar gizi nasional. Bahkan, penggunaan pangan lokal justru menjadi salah satu prinsip MBG.

"Untuk sumber karbohidrat saja ada sekitar 18 pilihan bahan pangan, seperti nasi, singkong, ubi, talas, kentang, mi, bihun. Jadi penyesuaian selera lokal sangat mungkin dilakukan, selama perhitungan gizinya tepat," katanya.

Hal ini sejalan dengan masukan sekolah dan orang tua di Bangka Belitung yang berharap menu MBG lebih dekat dengan preferensi anak-anak agar tidak banyak tersisa.

Karina juga menyoroti pentingnya uji organoleptik (warna, aroma, rasa, tekstur) yang diisi pihak sekolah. Menurutnya, instrumen ini sangat krusial asalkan dilakukan sesuai kaidah.

"Panelis harus mengisi secara mandiri, tidak saling berkomunikasi, dan menjaga kerahasiaan penilaian agar tidak bias," ujarnya.

Hasil uji tersebut, kata Karina, seharusnya benar-benar digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan menu.

"Jika mayoritas panelis menyatakan sangat tidak suka, menu itu sebaiknya tidak diberikan lagi. Kalau agak suka, perlu diperbaiki dari sisi pengolahan atau resep," jelasnya.

Lebih jauh, Karina menegaskan bahwa MBG tidak semata soal memenuhi gizi harian, tetapi juga membentuk kebiasaan makan sehat jangka panjang. Tantangan terbesar justru terletak pada konsumsi sayur dan buah.

"Membentuk kebiasaan makan sehat itu proses panjang. Tidak bisa dipaksa. Edukasi dan konseling gizi harus berjalan bersamaan dengan pemberian makanan," katanya.

Dengan pendekatan edukatif yang berkelanjutan, ia optimistis persepsi anak terhadap makanan sehat dapat berubah, dari yang semula enggan menjadi terbiasa.

"Jika MBG dan edukasi gizi dilakukan beriringan, perubahan perilaku makan sangat mungkin terjadi dan berdampak pada peningkatan status gizi masyarakat," pungkasnya.

(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.