SRIPOKU.COM - Minggu (25/1/2026), warga Dusun Batu Leong, Sekotong Barat, Lombok Barat, NTB geger seorang ibu bernama Yeni Rudi Astuti (60) nyawa melayang di tangan anak kandung, Bara Primario (31).
Ayah tersangka sekaligus suami korban, Edi Herman, mengatakan sudah lama ia merasa ada yang janggal dari tabiat anaknya itu.
Sebab itu, ia berharap aparat kepolisian melakukan pemeriksaan psikologi kepada Bara.
Mengutip kompas.com, Edi melakukan kontak terakhir dengan istrinya sebelum kejadian pembunuhan melalui pesan WhatsApp pada Sabtu (24/1/2026).
Baca juga: Siswi SD Diduga Bunuh Ibu Bisa Jadi Dipicu Konflik Ortu, Korban Sering Diperlakukan Kasar
"Terakhir dia lihat chat saya jam 12.35 Wita malam minggu itu," kata Edi.
Saat itu, Edi yang bekerja di luar daerah, mengirimkan foto dirinya saat senam kepada korban.
"Besoknya sudah enggak ada," kenang Edi.
Di mata Edi, anaknya yang jadi tersangka kasus ini merupakan anak yang baik.
"Cuma satu kekurangannya dia pendiam tidak mau mengasih tahu keluh kesahnya ke bapak. Jadi bapak sudah capek ngomong tapi entah terima entah tidak tapi tidak ada umpan baliknya ke saya," kata Edi.
Edi sendiri sudah bertemu langsung dengan anaknya, Bara, di rutan Polda NTB.
Untuk pertama kalinya, Bara minta maaf dan mencium kaki ayahnya.
Baca juga: Eks ART Bongkar Fakta Pilu Ressa yang Mengaku Ditelantarkan Denada, bukan Anak Kandung
"Tadi malam tumben dia minta maaf sampai kaki saya dicium. Biasanya apa pun yang saya omongin sepertinya entah diterima atau enggak diam saja," tutup Edi.
Edi menyebutkan, permintaan tes psikologis kepada tersangka Bara sudah disampaikan kepada Kepolisian Daerah (Polda) NTB.
Edi mengatakan, sebelumnya dia sudah seringkali memberikan nasihat kepada anaknya, namun tidak pernah mendapat tanggapan atau respons.
"Apakah anak ini ada gangguan jiwa atau tidak saya tidak tahu, yang pasti bisa dicek psikologis dulu tapi didampingi oleh keluarga," kata Edi.
Menurut Edi, kejadian ini sudah sangat fatal.
"Karena saya berkali-kali sudah menasihati dia masih seperti itu bahkan terjadi seperti ini, ini sudah fatal sekali," kata Edi.